Apa Itu Disleksia, Penyebab Siswa SMP Buleleng Sulit Membaca

Denpasar, IDN Times - Disleksia disebut satu dari beberapa penyebab ratusan siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Buleleng yang belum bisa membaca dengan lancar. Angkanya sekitar 10-15 persen. Psikolog Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof Ngoerah, Lyly Puspa Palupi, mengatakan disleksia adalah gangguan neurologi di mana seseorang mengalami kesulitan belajar secara spesifik. Ini ditandai dengan adanya kesulitan dalam membaca, mengeja, dan menulis yang tidak disebabkan oleh masalah penglihatan, pendengaran kecerdasan atau keterampilan berbahasa yang normal.
"Jadi disleksia itu ketidakmampuan belajar yang berbasis bahasa. Jadi disleksia merujuk pada sekumpulan gejala yang menyebabkan orang-orang mengalami kesulitan dalam menggunakan bahasa tertentu. Khususnya membaca," ungkapnya.
1. Disleksia cenderung diketahui saat usia sekolah

Psikolog Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof Ngoerah, Lyly Puspa Palupi, menjelaskan biasanya gangguan disleksia ini diketahui di usia sekolah. Dalam masa ini, kemampuan membaca jadi satu kemampuan yang diharapkan dikuasai oleh anak-anak di usia sekolah. Jadi, siswa-siswa yang mengalami disleksia itu biasanya mengalami kesulitan dan keterampilan dalam mengeja, menulis, atau mengucapkan kata-kata.
"Memang pada akhirnya, biasanya di situlah terdeteksi ketika anak pada usia yang seharusnya menguasai kemampuan membaca dengan lancar, pada akhirnya diketahui mengalami kesulitan dalam membaca, bahkan mengeja," terangnya.
2. Penyebab disleksia belum diketahui

Lalu apa yang menyebabkan hal tersebut terjadi? Lyly menyebutkan, beberapa faktor risiko munculnya gangguan tersebut hingga saat ini belum diketahui secara pasti. Namun ada beberapa dugaan kuat. Pertama, dari faktor genetik atau keturunan yang diturunkan dari orangtuanya. Kemudian juga faktor yang memperburuk risiko seperti anak-anak lahir dalam keadaan prematur, atau dengan berat badan lahir yang juga rendah.
Selain hal itu, paparan zat berbahaya selama kehamilan misalnya nikotin, alkohol, dan napza juga bisa memengaruhi perkembangan otak janin.
"Cedera atau trauma pada otak juga bisa menyebabkan disleksia. Namun sekali lagi belum ada penelitian yang bisa menjelaskan penyebab pasti dari disleksia," ungkapnya.
3. Tanda-tanda anak mengalami gangguan disleksia

Untuk mengetahui apakah seorang anak mengalami disleksia atau tidak, memang gejalanya bisa berbeda-beda antara satu anak dengan anak yang lain. Namun bisa diobservasi atau dilihat. Misalnya ketika anak mengalami kesulitan dalam mempelajari nama dan suara dari suatu abjad.
"Misalnya dia sulit mengucapkan M menjadi N gitu, dan itu berulang kali. Bukan karena faktor ketidakmatangan dari organ di mulut. Begitu sudah dilatih, tetap tidak bisa membedakan. Kemudian perkembangan kemampuan bicaranya bisa lebih lambat dibandingkan teman-teman sebayanya," jelasnya.
"Jadi kita bisa melihat tuh misalnya pada usia tertentu, 2-3 tahun diharapkan sudah lancar dalam berbicara membentuk kata kalimat, menyusun dan bercerita. Namun pada anak-anak disleksia bisa jadi terlambat. Kemudian sering mendiskata secara terbalik misalnya BOK, pada anak disleksia jadinya KOB" lanjutnya.
Lalu di beberapa aktivitas anak juga mengalami kesulitan misalnya memahami informasi, instruksi, kesulitan menemukan jawaban, dan kata-kata untuk menjawab pertanyaan.
"Sebenarnya dia paham pertanyaannya, dia tahu jawabannya namun ketika harus menjelaskan kata atau kalimat itu dia kesulitan. Kesulitan dalam mengeja, membaca, menulis menghitung. Kesulitan mengingat huruf angka warna kemudian agak sulit memahami aturan aturan dalam menulis," paparnya.





![[QUIZ] Pilih Mekidung atau Menari, Ini Member no na Mirip Kamu](https://image.idntimes.com/post/20250604/no-na-new-sounds-superstitiousand-falling-in-love-are-out-now-everywhere-stay-tuned-music-video-drops-tomorrow-505165762f52a892b2e35583ac6b3746-9ba20f856ce125a33b6bdd63dadf1e4f.jpg)












