Ilustrasi siswa. IDN Times/Sukma Sakti
SLB Negeri 1 Denpasar mengakomodasi semua anak berkebutuhan khusus seperti tunanetra, tuna grahita, tuna daksa, autis, dan lambat belajar. Tetapi jika ada anak tuna rungu wicara yang mendaftar, maka pihak sekolah akan merekomendasikannya ke SLB Negeri 2 Denpasar.
Saat ini SLB Negeri 1 Denpasar memiliki 230 siswa yang terdiri dari jenjang SD, SMP, dan SMA.
Selama proses pembelajaran di sekolah, anak yang memiliki keterbelakangan mental (Autis) masih sulit menerima perubahan. Dalam arti, perubahan sulit diterima dan dicerna oleh otaknya. Biasanya anak autis dengan spektrum yang berat akan berontak ketika terjadi perubahan, yang mengharuskan ia bertindak tidak sesuai dengan kegiatan seperti biasanya.
“Anak autis yang spektrumnya berat kesulitan dalam menerima perubahan. Baik itu perubahan tempat, waktu, atau pun guru yang mengajar. Dia sulit menerima di otaknya dengan alasan tertentu. Wujud protesnya bisa berupa berontak, ngambek, tantrum marah besar, menyakiti diri sendiri, menyakiti orang lain. Sehingga perlu kesabaran dalam memberikan penjelasan sejelas jelasnya,” ungkap Sumartawan.