Cegah Wabah, Dinkes Buleleng Petakan Risiko 4 Penyakit Menular

- Dinas Kesehatan Buleleng memetakan risiko empat penyakit menular utama—Covid-19, flu burung, MERS-CoV, dan meningitis meningokokus—untuk memperkuat kesiapsiagaan daerah menghadapi potensi wabah.
- Pemetaan risiko dilakukan dengan tiga komponen analisis: ancaman, kerentanan, dan kapasitas; hasilnya menjadi dasar intervensi pemerintah dalam meningkatkan kesiapan kesehatan masyarakat.
- Mobilitas jemaah haji dan umroh mendapat perhatian khusus karena berpotensi membawa MERS-CoV dan meningitis; dokumen pemetaan risiko akan diunggah ke sistem Kemenkes sebagai pedoman lintas OPD.
Buleleng, IDN Times - Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng menggelar pertemuan pemetaan risiko penyakit infeksi emerging (PIE) atau penyakit menular. Pertemuan tersebut sebagai langkah strategis memperkuat kesiapsiagaan daerah hadapi potensi wabah.
Berdasarkan rilis resmi Dinkes Buleleng, ada empat fokus penyakit prioritas pemetaan risiko, seperti Covid-19, avian influenza (flu burung), Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV), dan meningitis meningokokus.
Ketua Tim Kerja Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, Nyoman Suardani mengatakan pihaknya melibatkan lintas organisasi perangkat daerah (OPD) serta perwakilan Dinas Kesehatan Provinsi Bali dalam pertemuan di Ruang Rapat Dinkes Buleleng pada Senin (4/5/2026).
Pihaknya menegaskan pemetaan risiko menjadi instrumen penting untuk mengukur kesiapan daerah secara objektif. “Setiap tahun kita melakukan penilaian risiko untuk melihat sejauh mana kesiapan dan kapasitas kita. Ini penting agar ketika terjadi kasus, kita tidak lagi dalam kondisi tidak siap seperti saat awal pandemi Covid-19,” ujar Suardani pada Senin (4/5/2026).
1. Analisis pemetaan risiko gunakan tiga komponen pendekatan

Dinkes Buleleng mengungkap rencana kontingensi kesehatan masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu segera dibenahi. Sebab, hal ini berdampak pada hasil penilaian pemetaan risiko secara keseluruhan.
“Rencana kontingensi kesehatan harus kita perkuat, karena itu menjadi acuan operasional saat terjadi kondisi darurat. Tanpa itu, respons kita tidak akan optimal,” kata Suardani.
Dokumen pemetaan risiko disusun berdasarkan himpunan data seluruh OPD pada pertemuan yang dilakukan(11/3/2026). Data tersebut dianalisis dengan pendekatan tiga komponen utama, yaitu ancaman, kerentanan, dan kapasitas.
Suardani menjelaskan, intervensi pemerintah daerah akan difokuskan pada aspek kerentanan dan kapasitas. Alasannya, kedua komponen tersebut dapat ditingkatkan melalui kebijakan dan aksi nyata di lapangan.
2. Mobilitas jemaah haji menjadi perhatian

Pihak Dinkes Buleleng turut menjadikan mobilitas jemaah haji dan umroh sebagai perhatian serius. Utamanya terkait potensi penyebaran MERS-CoV dan meningitis meningokokus dari Arab Saudi.
Tahun ini, Kabupaten Buleleng mengirim 109 jemaah haji reguler, jumlah tersebut belum termasuk jemaah umroh. “Mobilitas jemaah ini menjadi salah satu faktor risiko yang harus kita antisipasi bersama,” ujar Suardani.
Setelah penyusunan dokumen pemetaan risiko, langkah selanjutnya dengan mengunggah ke sistem Kementerian Kesehatan RI. Nantinya dokumen tersebut menjadi pedoman bagi seluruh OPD dalam menghadapi potensi penyakit infeksi emerging. Dokumen tersebut disusun setiap tahun, sementara rencana kontingensi kesehatan berlaku selama tiga tahun.

![[QUIZ] Uji Pengetahuan Potensi Gempa Megathrust di Bali](https://image.idntimes.com/post/20241217/gempa-vulkanik-600x400-e2b7bf5c8bcbe7023ef3d355b490d1ab.jpg)
















