Ilustrasi Rapid Test Tim IDN Times. IDN Times/Herka Yanis
Seorang pelaku perjalan domestik, Laili Rizki (29) mengungkapkan bahwa layanan ini murah dan bagus. Apalagi hanya dalam waktu 15 menit hasil bisa keluar. Masalahnya adalah ketika hasilnya reaktif.
“Bagus dong, biar gak ribet lagi bolak balik ke klinik buat tes, terus ambil hasil. Biaya lebih terjangkau pula. Tapi baru tahu aku, kalau sosialisasinya lebih luas lagi mungkin lebih bagus. Masalahnya, kalo pas rapid test, terus hasil positif gimana dong? Hehehe. Udah terlanjur di bandara, rugi, melayang uang tiket pesawatnya,” ungkapnya kepada IDN Times Rabu (22/7/2020).
Sementara itu warga Kota Denpasar Rudianto (27) mengaku tidak setuju dengan adanya rapid test ini karena menurutnya tidak efektif. “Menurut saya kalau bisa rapid test dihapuskan saja karena tidak menjamin bahwa kita tidak terpapar dengan surat tersebut. Lebih baik bagaimana kita menyiapkan protokol kesehatan saja dengan tes suhu, menggunakan alat thermo gun saja sudah cukup. Bila kita sudah rapid, ternyata pada saat mau berangkat suhu kita 38.00, apakah kita boleh berangkat?’ ungkapnya.
Sedangkan warga lain menyampaikan bahwa dengan adanya layanan ini maka memberikan kemudahan bagi pelaku perjalanan. “Kalau gitu bagus dong. Bagi perantauan seperti kami dengan adanya rapid test yang disediakan di bandara akan sangat membantu. Kalau memang pihak Bandara Ngurah Rai memfasilitasi itu tentu akan memudahkan wisatawan lokal maupun asing yang berkunjung ke Bali,” jelas Diah Tritintya.
Saat dikonfirmasi IDN Times, Communication and Legal Manager Bandara Ngurah Rai, Andanina Dyah Permata Megasari menjelaskan bahwa apabila ada calon penumpang dengan hasil rapid test reaktif, sesuai dengan ketentuan, akan dirujuk langsung ke laboratorium/Rumah Sakit rujukan untuk dilakukan tes PCR dan melapor ke gugus tugas.
"Sudah disediakan ambulans yang standby. Untuk tiket berlaku prosedur reschedule atau refund dengan maskapai terkaitnya," ungkap Megasari.