Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tiga Alasan Sembahyang Hari Raya Kuningan Sebelum Pukul 12 Siang
Ilustrasi sembahyang. (IDN Times/Rehuel ​Willy Aditama)

  • Hari raya Kuningan identik dengan nasi kuning dan gantungan sesajen

  • Persiapan hari raya Kuningan dimulai 10 hari sebelumnya

  • Sembahyang sebelum pukul 12 siang hanyalah saran, bukan keharusan

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Perayaan Hari Raya Kuningan oleh umat Hindu Bali yang dilakukan dengan sembahyang dan persembahan sesajen sebelum pukul 12 siang.
  • Who?
    Umat Hindu di Bali yang melaksanakan upacara persembahyangan serta mempersiapkan sesajen sesuai tradisi dan ajaran dalam Lontar Sundarigama.
  • Where?
    Kegiatan berlangsung di pura, rumah, dan tempat sembahyang umat Hindu di berbagai wilayah Bali.
  • When?
    Dilaksanakan pada Saniscara Kliwon atau Hari Raya Kuningan, sepuluh hari setelah perayaan Galungan, dengan waktu sembahyang pagi hingga sebelum tengah hari.
  • Why?
    Sembahyang dilakukan lebih awal karena diyakini para dewa dan leluhur kembali ke surga pada siang hari, sehingga waktu pagi dianggap paling tepat untuk persembahan.
  • How?
    Umat menyiapkan sesajen seperti nasi kuning dan gantungan simbolik, lalu melakukan doa dengan hati tulus serta pikiran jernih sebagai wujud rasa syukur dan penyucian diri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Selamat Hari Raya Kuningan bagi umat Hindu Bali. Hari ini tepat 10 hari setelah perayaan Hari Raya Galungan. Biasanya sesajen Hari Raya Kuningan identik dengan nasi berwarna kuning yang berasal dari kunyit.

Keunikan lainnya, gantungan atau sesajen yang digantung di pura maupun tempat sembahyang di rumah. Saat Kuningan, ada empat macam gantungan.

Keempat macam gantungan ini punya ciri khas bentuk dan fungsinya masing-masing, intinya berfungsi sebagai pelindung secara niskala. Serta simbol perayaan yang meriah dan penuh semangat kemenangan kebaikan.

Selain itu, umat Hindu Bali mengejar waktu sembahyang sebelum pukul 12 siang. Kira-kira kenapa demikian ya? Yuk simak penjelasan selengkapnya.

Jauh hari sebelum Kuningan, ada waktu untuk persiapkan

Ilustrasi canang. (IDN Times/Yuko Utami)

Penjelasan soal sembahyang Hari Raya Kuningan harus lebih awal, sejatinya berkaitan dengan waktu persiapannya yang cukup panjang. Ada rentang waktu 10 hari untuk mempersiapkan sesajen yang akan dipersembahkan.

Sementara itu, sehari sebelum Kuningan atau hari Jumat Wage Kuningan, disebut juga Penampahan Kuningan, telah dijelaskan dalam lontar. Berdasarkan Lontar Sundarigama, sebenarnya tidak menyebutkan upacara yang mesti dilangsungkan pada hari ini, hanya berupa anjuran untuk melakukan kegiatan persembahyangan. Anjuran itu berupa bait kalimat pendek Sapuhakena malaning jnana yang bermakna lenyapkanlah pikiran yang buruk atau kotor. 

Saat Hari Raya Kuningan, para dewa dan dewi kembali ke surga pada siang hari

ilustrasi Dewa Siwa (pixabay.com/spoudel2345)

Lalu, esok hari tepatnya pada Saniscara Kliwon atau disebut Kuningan, Lontar Sundarigama menyebutkan ketentuan sederhana. Yaitu upacara mempersembahkan sesajen pada Hari Raya Kuningan hendaknya dilaksanakan pada pagi hari, serta menghindari upacara lewat tengah hari. 

Alasannya, para Dewata dan Dewa Pitara (dewa-dewi penghuni surga) diceritakan kembali ke surga atau istilahnya Dewa mur mwah maring Swarga. Melalui penjelasan itu, sudah cukup jelas bahwa ketentuan sembahyang sebelum pukul 12 siang saat Kuningan tidaklah wajib, melainkan sebuah saran.

Kamu jangan terburu-buru, tetap utamakan kemampuan dan ketulusan hati

Ilustrasi sembahyang di pura. (IDN Times/Yuko Utami)

Kuningan dan segala perayaan Hindu di Bali, kunci utamanya adalah sembahyang dengan hati tulus dan pikiran jernih. Jangan sampai terburu-buru mengejar waktu sembahyang sebelum pukul 12 siang, sehingga jadi lupa makna sejati dari persembahyangan.

Bukannya menenangkan jiwa raga dan bersyukur, nanti kamu malah jadi buru-buru dan enggak fokus.

Dalam penjelasan di Lontar Sundarigama, sembahyang sebelum pukul 12 siang hanyalah saran, bukan keharusan. Jadi, sebelum sembahyang, kamu harus menenangkan isi pikiran dan hati. Sehingga, doamu tersampaikan dengan tulus ikhlas tanpa kehilangan maknanya.

Editorial Team

Related Article