5 Rekomendasi Tradisi Bali Menarik untuk Wisata Budaya

Bali tidak hanya terkenal dengan pantainya yang memesona, tetapi juga dengan tradisi budaya yang kaya dan sarat makna. Masyarakat Bali sangat menjaga dan melestarikan tradisi adat mereka, yang telah diwariskan turun-temurun.
Jika kamu ingin mengalami sisi lain dari Bali yang lebih mendalam, berikut adalah lima rekomendasi tradisi Bali menarik untuk wisata budaya. Setiap tradisi ini menyimpan filosofi hidup yang kuat, serta memberikan pengalaman wisata yang gak terlupakan.
1. Upacara Melasti

Upacara Melasti adalah prosesi keagamaan yang dilakukan menjelang Hari Raya Nyepi. Masyarakat Hindu Bali akan membersihkan diri dan alam dari energi negatif, yang biasanya dilakukan di pantai atau sumber air. Ritual ini bertujuan untuk memohon kesejahteraan dan keseimbangan alam semesta untuk menyambut Tahun Baru Saka.
Upacara ini dilakukan beberapa hari sebelum Hari Raya Nyepi yang jatuh pada Maret. Kamu bisa melihat masyarakat Bali yang melakukan arak-arakan pratima atau arca pura menuju sumber air dengan memakai pakaian adat. Beberapa lokasi pantai yang bisa kamu kunjungi untuk melihat upacara ini adalah Pantai Petitenget, Pantai Melasti, dan Pantai Padang Galak.
2. Pengerupukan

Tradisi Pengerupukan akan berlangsung tepat sehari sebelum Nyepi, yang bertujuan untuk mengusir Bhuta Kala atau kekuatan negatif. Masyarakat Hindu Bali akan melakukan ritual ini melalui upacara mecaru, mengarak ogoh-ogoh, dan membuat suasana bising. Dengan tujuan untuk menyucikan lingkungan dan diri agar siap menjalani Catur Brata Penyepian secara damai.
Mulai sore hari, kamu akan melihat beragam ogoh-ogoh yang ada di pinggir jalan. Menjelang malam, ogoh-ogoh tersebut akan diarak keliling dengan iringan musik gamelan. Lalu, dibakar di akhir parade sebagai lambang pemusnahan kejahatan.
3. Omed-Omedan

Satu tradisi unik Bali yang tidak ditemukan di tempat lain adalah Omed-Omedan. Setiap tahun, warga Banjar Kaja, Desa Sesetan, Kota Denpasar mengadakan ritual ini.
Pemuda dan pemudi berusia antara 17-30 tahun dari desa tersebut akan dipasangkan, lalu saling peluk dan tarik-menarik untuk mempererat silaturahmi, persaudaraan, serta solidaritas. Serunya lagi, mereka akan disiram air jika tidak kunjung lepas.
Tradisi ini berlangsung sehari setelah Hari Raya Nyepi di depan Banjar Kaja, Desa Sesetan. Kamu pun bisa datang untuk melihat langsung tradisi ini.
4. Mekare-Kare

Mekare-Kare atau Perang Pandan merupakan tradisi unik yang dilakukan setiap tahun di Desa Tenganan, Kabupaten Karangasem. Upacara ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada Dewa Indra dan para leluhur.
Warga laki-laki desa tersebut akan bertarung satu lawan satu menggunakan daun pandan berduri sebagai senjata dan perisai rotan. Upacara ini akan dimulai dengan upacara memohon keselamatan, lalu kedua peserta akan saling menyerang dengan diiringi tabuhan gamelan. Kamu bisa melihat upacara ini yang akan berlangsung pada Juni 2026 mendatang.
5. Mekotek

Mekotek merupakan tradisi umat Hindu Bali yang dilakukan secara turun-temurun di Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, Badung. Tradisi ini berlangsung tepat di Hari Raya Kuningan, serta sebagai simbol kemenangan dan juga upaya menolak bala.
Para peserta dari desa tersebut akan berkumpul di Pura Dalem untuk melaksanakan sembahyang terlebih dahulu. Selesai sembahyang, mereka akan berkumpul melakukan pawai.
Dalam setiap pertigaan yang terlewati, masing-masing kelompok akan membuat bentuk segitiga dari gabungan kayu yang berbentuk kerucut. Lalu, mereka akan berputar dan berjingkrak dengan iringan gamelan. Mekotek tahun ini akan berlangsung pada 26-27 Juni 2026 yang bertepatan dengan Hari Raya Kuningan.
Bali dengan segala keindahan alam dan kekayaan budayanya menawarkan pengalaman wisata yang menarik dan tidak terlupakan. Kelima rekomendasi tradisi Bali di atas berlangsung selama 2026. Kamu bisa datang untuk menikmati kekayaan tradisi Bali serta mendapat pengalaman liburan yang lebih bermakna.


















