Comscore Tracker

Makna Penjor Untuk Hari Raya Galungan

Udah pada buat penjor untuk Galungan dan Kuningan belum?

Menjelang Hari Raya Galungan, masyarakat di Bali mulai membuat penjor. Penjor biasanya ditancapkan di depan rumah, pekarangan, tempat usaha, maupun kantor. Kamu nantinya akan melihat deretan penjot di sepanjang jalan, dan membuat nuansa setiap desa maupun kawasan perkotaan di Bali begitu semarak, meriah, serta indah.

Penjor ditancapkan pada saat penampahan atau sehari sebelum Hari Raya Galungan. Setiap keluarga wajib membuat satu penjor, dan dibuat oleh laki-laki. Sementara para perempuan membuat banten sebagai sarana upacara Galungan.

Penjor untuk Hari Raya Galungan ini ternyata tidak sebatas hiasan semata. Ada makna filosofis yang terkandung untuk melengkapi kegiatan upacara.

Berikut makna penjor untuk Hari Raya Galungan, yang dikutip dari berbagai sunber.

1. Penjor merupakan simbol keagungan atas kemenangan dharma (Kebaikan) melawan adharma (Kejahatan)

Makna Penjor Untuk Hari Raya GalunganIDNTimes/Wayan Antara

Penjor umumnya terbuat dari bambu setinggi sekitar 10 meter, yang ujungnya harus melengkung ke bawah. Bambu ini akan dipasang berbagai ornamen dari janur dan gantungan berupa hasil bumi seperti padi, kelapa, maupun buah-buahan.

dikutip dari laman Phdi.or.id, penjor untuk Hari Raya Galungan merupakan simbol dari keagungan atas kemenangan dharma (Kebaikan) melawan adharma (Keburukan).

"Penjor wajib ada di setiap rumah jika Hari Raya Galungan. Ini sebuah simbol kekuatan atas kemenangan dharma melawan adharma, kebaikan melawan keburukan. Inilah makna dari Galungan," kata tokoh spiritual, Jro Gede Nadi, dikutip dari Phdi.or.id.

Penjor juga erat kaitannya dengan bentuk rasa syukur masyarakat atas kesejahteraan dan keselamatan yang dianugerahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Baca Juga: Mitologi Hari Galungan, Melawan Raja Angkuh yang Maunya Disembah

2. Penjor harus berisi unsur hasil bumi sebagai bentuk syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa

Makna Penjor Untuk Hari Raya GalunganIDN Times/Wayan Antara

Penjor untuk Hari Raya Galungan juga memiliki nilai sakral. Dalam pembuatannya harus memperhatikan unsur pokok yang harus ada di dalam penjor. Penjor dalam perkembangannya bisa dibuat seseni mungkin dan sesuai kemampuan pembuatnya. Namun tidak boleh mengurangi unsur-unsur yang wajib ada dalam penjor.

Misalnya, penjor harus dibuat dari hasil bumi atau alam semesta seperti bambu, jenis daun (Plawa) yaitu janur, cemara, pakis aji, dan andong. Untuk buah-buahan dan umbi-umbian yang digolongkan sebagai pala bungkah (Umbi-umbian) seperti umbi ketela, pala gantung seperti buah kelapa, pisang, mentimun atau jambu, dan pala wija (Buah berbiji) seperti jagung dan padi.
Termasuk hasil olahan hasil bumi seperti aneka jajanan.

Penjor juga dilengkapi sanggah cucuk, yang fungsinya untuk meletakkan berbagai sarana upacara. Penjor dipasang di depan pekarangan rumah, kantor, atau tempat usaha. Lebih tepatnya di sebelah kanan pintu masuk, atau sanggah.

Semua hasil bumi atau alam semesta tersebut juga memberikan arti sebagai rasa bakti dan ucapan terima kasih atas segala kemakmuran yang diberikan oleh Ida Sang Hyang Widi Wasa pada umat manusia.

Sementara bentuk penjor yang tinggi dan melengkung sering dimaknai sebagai sikap yang harus bijaksana.

Baca Juga: Doa Pengampun Dosa Menurut Hindu Bali

3. Penjor baru boleh dicabut setelah 35 hari

Makna Penjor Untuk Hari Raya GalunganIDN Times/Wayan Antara

Sementara Dosen Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar, Dr I Gusti Ngurah Sudiana, mengatakan penjor merupakan simbolis dalam ajaran Hindu sebagai wujud persembahan bhakti kepada sang pencipta alam ini (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) atas kesejahteraan dan kedamaian umatnya.

"Penjor dihiasi agar indah dan menarik sebagai ungkapan terima kasih kita kepada Ida Sang Hyang Widhi. Karena dalam ajaran Hindu disebutkan sebagai ungkapan ketulusan diwujudkan dengan keindahan," ungkapnya dikutip dari laman Phdi.or.id.

Penjor Galungan tertancap selama 35 hari setelah Raya Galungan. Memasuki hari ke-35 atau pada Budha Kliwon Pahang (Penanggalan kalender Bali), penjor dapat dicabut dengan menghaturkan banten tumpeng puncak manik, lalu peralatan penjor dibakar dan abunya dimasukkan ke dalam klungah nyuh (Kelapa) gading. Kelapa tersebut kemudian ditanam di hulu pekarangan rumah atau bisa dihanyutkan ke laut.

Baca Juga: Doa Memulai Pekerjaan Hindu, Jangan Lupa Bersyukur Ya

Topic:

  • Irma Yudistirani

Berita Terkini Lainnya