Comscore Tracker

Kisah Ketut Tantri, Perempuan Viking yang Jatuh Cinta Pada Bali

Saking cintanya pada Bali, ia rela berjuang lawan sekutu

Mungkin tidak banyak yang mengenal Ni Ketut Tantri, dan sumbangsihnya bagi Negara Indonesia. Namanya juga jarang dimuat di pelajaran buku-buku sejarah, meskipun perjuangannya untuk Kemerdekaan Indonesia tidak bisa diabaikan begitu saja.

Ketut Tantri memang bukan orang asli Indonesia. Ia merupakan perempuan asing yang memiliki nama Bali setelah memutuskan tinggal di Indonesia. Meskipun orang asing, ia ikut berjuang sepenuh tenaga untuk kemerdekaan Bangsa Indonesia sejak masa penjajahan Jepang, maupun agresi militer Belanda pada tahun-tahun awal kemerdekaan Indonesia. Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan, yuk mengenal perempuan luar biasa ini.

Baca Juga: Kisah di Balik Lahirnya Surat Sakti Pahlawan I Gusti Ngurah Rai

1. Berdarah Viking, awalnya dikenal sebagai penulis naskah di Hollywood

Kisah Ketut Tantri, Perempuan Viking yang Jatuh Cinta Pada BaliGoodreads.com

Ketut Tantri lahir dengan nama Muriel Stuart Walker di Glasgow, Skotlandia pada 19 Februari 1898. Ia memiliki darah Viking, suku di Skotlandia yang dikenal dengan jiwa petualang dan pemberani. Hal itulah yang membawanya lantang menjadi seorang pejuang di Indonesia.

Muriel Stuart bermigrasi bersama ibunya ke California, Amerika Serikat dan menjadi penulis naskah Hollywood pada tahun 1930an.

Ia bermigrasi ke Amerika Serikat pasca Perang Dunia I, dan menikah dengan seorang pria Amerika bernama Karl Jenning Pearson.

2. Memutuskan pergi ke Bali, setelah menonton film Bali: The Last Paradise

Kisah Ketut Tantri, Perempuan Viking yang Jatuh Cinta Pada BaliBerbagai Sumber

Tumbuh besar di era Perang Dunia I sebenarnya membuat Muriel Stuart gundah. Ia ingin suatu kedamaian yang nyata. Pada tahun 1932, ia berjalan-jalan di Hollywood Boulevard. Di depan sebuah bioskop, Muriel memutuskan untuk membeli karcis dan menyaksikan sebuah film berjudul Bali: The Last Paradise.

Film itu mengubah jalan hidupnya. Ia terpesona atas keindahan, adat dan budaya masyarakat Bali yang ditampilkan dalam film itu. Setelah nonton film di bioskop, seketika itu pula Muriel Stuart memutuskan untuk terbang ke Bali.

“Pada suatu sore saat hujan rintik-rintik, saya berjalan di Hollywood Boulevard, saya berhenti di depan sebuah gedung bioskop kecil yang memutar film asing, mendadak saya memutuskan untuk masuk. Film asing tersebut berjudul “Bali, The Last Paradise”. Saya menjadi terpesona. Sebuah film yang menunjukkan contoh kehidupan penduduk yang cinta damai, penuh rasa syukur, cinta, dan keindahan. Ya, saya merasa telah menemukan kembali hidup saya. Saya merasa telah menemukan tempat di mana saya ingin tinggal,” tulis Tantri dalam bukunya, Revolt In Paradise atau Revolusi di Nusa Damai, yang terbit tahun 1960.

Baca Juga: Mengenal Yayasan Kebaktian Proklamasi Bali, Ikon Pahlawan Ngurah Rai 

3. Ia terpesona melihat Bali, lalu menjadi anak angkat dalam keluarga puri dan mendapat nama Ni Ketut Tantri

Kisah Ketut Tantri, Perempuan Viking yang Jatuh Cinta Pada BaliAlchetron.com

Sesampainya di Bali, Muriel Stuart langsung terpesona. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana kehidupan masyarakat penuh kedamaian dan berbudaya seperti yang diidam-idamkan selama ini. Ia lalu memutuskan untuk menetap di Bali.

Selama perjalanan di Bali, ia bertekad akan tinggal di tempat mobil yang dikendarainya tersebut berhenti karena kehabisan bensin. Mobilnya berhenti di sebuah gapura megah dengan ornamen Bali. Awalnya, Muriel Stuart mengira itu adalah pura. Ia perlahan masuk ke dalam dan bercengkerama bersama warga yang tinggal di bangunan tersebut.

Tempat tersebut merupakan satu dari beberapa puri di Bangli. Kehangatan dan ketulusan Muriel itu membuat dia dijadikan sebagai anak angkat oleh penglingsir puri setempat. Ia menjadi anak keempat, dan diberi nama Bali yakni Ni Ketut Tantri.

4. Ia perempuan asing yang ikut memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia

Kisah Ketut Tantri, Perempuan Viking yang Jatuh Cinta Pada BaliAlchetron.com

Ketenteraman Muriel Stuart yang sudah memiliki nama Bali, Ni Ketut Tantri, tidak bertahan lama. Setelah masa kolonial, Jepang mendarat di Indonesia. Ia melihat bagaimana kehadiran Jepang, dan kedatangan pasukan sekutu pascakemerdekaan Indonesia mengusik ketenteraman masyarakat di Bali.

Ia banyak berdiskusi tentang politik bersama Anak Agung Nura, saudara sulung angkat dari Ketut Tantri yang berkuliah di Universitas Leiden, Belanda dan Universitas Heidelberg di Jerman.

Ia bersimpati dengan perjuangan Rakyat Indonesia, dan memutuskan untuk menuju ke Surabaya. Karena sikap kritisnya, Ia pernah ditangkap oleh tentara Jepang. Bukannya ditangkap karena sikapnya yang memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia, ia justru ditangkap karena dianggap sebagai mata-mata Amerika.

Ia dijebloskan ke dalam penjara kumuh, beralaskan tikar rusuh, dan bantal dari merang yang sudah menjadi sarang kutu busuk. Jambannya juga hanya berupa lubang di tanah, dengan seember air kotor di sampingnya. Tantri hanya diberi makan dua hari sekali. Itu pun hanya segenggam nasi dengan garam. Hasilnya, berat badannya turun 5 kilogram dalam minggu pertama.

Kelaparan dan kotor adalah senjata andalannya Jepang kala itu. Ini ditujukan untuk mematahkan semangat para tahanan agar mereka mau memberi informasi yang dibutuhkan.

Ketut Tantri diinterogasi banyak hal tentang perjuangan "bawah tanah" yang dilakukannya. Namun Tantri tetap bungkam, berkali-kali disiksa, dan diancam akan dieksekusi. Namun ia tetap merahasiakan perjuangannya.

Hal itu membuat pejuang arek-arek Surabaya bersimpati dan berjuang membebaskannya. Suatu ketika kesehatan Ketut Tantri menurun selama di tahanan. Ia dikirim ke rumah sakit oleh tentara Jepang. Lalu Ketut Tantri berhasil dibebaskan oleh arek-arek pejuang Surabaya.

5. Mendapat julukan sebagai Surabaya Sue

Kisah Ketut Tantri, Perempuan Viking yang Jatuh Cinta Pada BaliBooks.google.co.id

Keteguhan Ketut Tantri bungkam selama ditangkap tentara Jepang, membuat tentara Indonesia di bawah pimpinan Bung Tomo menghormati dan mempercayainya. Ketut Tantri diberi pilihan, apakah kembali ke negerinya dengan jaminan pengamanan tentara Indonesia, atau bergabung bersama pejuang Indonesia.

Ketut Tantri justru memiliki bergabung bersama pejuang Indonesia. Ia lalu dipercaya sebagai penyiar di radio yang dioperasikan oleh para pejuang arek-arek Suroboyo pimpinan Bung Tomo. Ia menyiarkan berbagai kalimat perjuangan yang membakar semangat para pejuang.

Puncaknya ketika pertempuran hebat pada 10 November 1945, di mana pejuang Indonesia melawan agresi militer sekutu yang datang pascakekalahan Jepang.

Tanpa gentar, Ketut Tantri berpidato dalam Bahasa Inggris sementara hujan bom dan peluru mortir terjadi di sekeliling pemancar radio.

“Aku akan tetap dengan rakyat Indonesia, kalah atau menang. Sebagai perempuan Inggris barangkali aku dapat mengimbangi perbuatan sewenang-wenang yang dilakukan kaum sebangsaku dengan berbagai jalan yang bisa kukerjakan,” tulisnya dalam Revolt in Paradise.

Pilihannya untuk bergabung dalam perjuangan Bangsa Indonesia meraih kemerdekaan itu membuat kalangan pers internasional menjulukinya “Surabaya Sue”, atau penggugat dari Surabaya.

6. Ia pergi ke Singapura dan Australia untuk menggalang solidaritas

Kisah Ketut Tantri, Perempuan Viking yang Jatuh Cinta Pada BaliKebudayaan.kemdikbud.go.id

Pada tahun-tahun awal kemerdekaan, Ketut Tantri aktif menggalang solidaritas untuk Indonesia. Ia menuju Singapura dan Australia untuk menggalang solidaritas internasional.

Ia berhasil lolos dari blokade laut Belanda, hanya bermodal kapal tua yang dinakhodai seorang pria berkebangsaan Inggris. Dengan kefasihannya berbahasa Inggris, membuat Ketut Tantri diangkat sebagai diplomat ulung bagi Indonesia untuk menjalin solidaritas dan pengakuan dari negara lain. Ia juga dikenal sebagai pelopor kerja sama antara Indonesia dan Australia.

Meskipun demikian, permintaannya untuk menghabiskan hidup di Bali tidak pernah tercapai. Masa tuanya dihabiskan di panti jompo Australia. Tantri yang memiliki darah suku Viking dan pemberani ini tutup usia di Australia, Minggu, 27 Juli 1997.

7. Peti jenazahnya beronamen Bali dan abu ditebar ke Pantai Kuta

Kisah Ketut Tantri, Perempuan Viking yang Jatuh Cinta Pada BaliKhastara.perpusnas.go.id

Dalam tulisan di buku catatan hariannya sebelum meninggal, Ketut Tantri menulis kalimat:

"Apa yang aku lakukan untuk Indonesia mungkin tak tercatat di buku sejarah Indonesia, mungkin Indonesia akan melupakan ku, namun indonesia adalah bagian hidup ku, jika aku mati tabur abu ku di pantai Bali."

Maka ketika meninggal dunia, peti jenazahnya ditutupi Bendera Merah Putih. Sesuai permintaannya semasa hidup, peti jenazah Ketut Tantri dihiasi oleh ornamen Bali. Lengkap dengan kain putih-kuning, yang identik dengan warna sakral bagi masyarakat Bali.

Jenazahnya juga diaben (Dikremasi) di Australia dan abunya ditebar ke Pantai Kuta sesuai permintaan. Seluruh harga kekayaannya juga didonasikan untuk anak-anak kurang mampu di Bali.

Pada tanggal 10 November 1998, Pemerintah Indonesia mengganjarnya dengan Bintang Mahaputra Nararya atas jasanya sebagai wartawan sekaligus pegawai di Kementerian Penerangan pada 1950.

Topic:

  • Irma Yudistirani

Berita Terkini Lainnya