Penanaman pohon di Tabanan, Rabu (26/6/2024) (Dok.IDN Times/Istimewa)
AJW 2024 juga mengadakan diskusi mengenai permasalahan lingkungan di Bali. Dari diskusi itu, ada hal menarik yang membuat warga kesulitan mengakses air dibandingkan industri pariwisata.
Menurut I Wayan Juniartha dari Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBL), ada perebutan hak atas air yang dilakukan industri pariwisata yang memicu ketidakadilan distribusi air. Ia mencontohkan World Water Forum (WWF) beberapa waktu lalu yang diadakan di wilayah Kabupaten Badung. Perhelatan ini tidak mengalami kekurangan air, sementara warga di wilayah Badung Selatan kesulitan mengakses air selama event tersebut berlangsung.
Menurunnya suplai air juga memicu konflik horisontal. Saat jumlah air berkurang, air yang tersisa masih dikuasai oleh pihak yang memiliki power. Akibatnya, warga kembali korban. Ia pun memberikan solusi dengan mendorong para pihak melakukan konservasi, misalnya melalui bambu.
“Satu rumpun 35 lonjor bisa menampung 1300 liter di rimpang, batang, daun. Setara 189 galon air kemasan yang dikeluarkan perlahan saat kemarau,” paparnya.
Menurutnya, program YBL di Bali adalah konservasi sepanjang Yeh Penet berhulu di Batukaru, hilir di Tanah Lot sambil memetakan jenis bambu.
“Bali sudah impor 5 juta lonjor untuk kepentingan upakara,” tambahnya.