- Tim Dampak Pelanggaran Tata Ruang: Bardha Gemilang, Ni Kadek Putri Santiadi, Wiranto Prasetyo, I Gusti Ayu Putri Indrawati. Mentor: Warmadewa Research Center dan Kota Kita
- Tim Pertanian dan Energi Terbarukan: Teja Wijaya Made Krisna Mahendra. Mentor: Yayasan IDEP Selaras Alam
- Tim Krisis Air: Ni Gusti Putu Dinda Mahadewi, Ufiya Amirah, Fenny Sulistya. Mentor: Yayasan Bambu Lingkungan Lestari
- Tim Kerusakan Hutan: Desak Gde Yurika Kurnia Dewi, I Komang Sutirta Yasa,Made Suarbawa. Mentor: Yayasan IDEP Selaras Alam
- Tim Akses Pejalan Kaki dan Transportasi Publik: Lily Darmayanti, Desimawaty Natalia Hutabarat. Mentor: World Resources Institute Indonesia.
Ungkap Isu Lingkungan, Warga di Bali Dapat Penghargaan AJW

Tabanan, IDN Times - Media warga di Bali, Balebengong, akhirnya menuntaskan agenda tahunannya berupa Anugerah Jurnalisme Warga (AJW) 2024, Minggu (29/6/2024) lalu. AJW ini merupakan penganugerahan karya jurnalistik warga. Kali ini temanya mengangkat tentang permasalahan lingkungan hingga tata ruang di Bali.
Tidak hanya memberikan penghargaan, acara juga mengadakan diskusi dengan beberapa topik untuk mengkritisi masalah lingkungan sekaligus mencari solusinya.
1. Lima tim mendapatkan penghargaan AJW 2024

Para penerima AJW 2024 adalah anak-anak muda Bali yang melakukan penelusuran sejumlah masalah. Ada lima tim yang mendapatkan penghargaan AJW 2024, yaitu:
Selain itu ada juga penghargaan untuk kategori kontributor paling produktif yakni Harun Arrashyid. Ia menulis 22 artikel berbagai isu lingkungan, review film, musik, dan isu sosial lainnya.
2. Bali mengalami masalah krisis air

AJW 2024 juga mengadakan diskusi mengenai permasalahan lingkungan di Bali. Dari diskusi itu, ada hal menarik yang membuat warga kesulitan mengakses air dibandingkan industri pariwisata.
Menurut I Wayan Juniartha dari Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBL), ada perebutan hak atas air yang dilakukan industri pariwisata yang memicu ketidakadilan distribusi air. Ia mencontohkan World Water Forum (WWF) beberapa waktu lalu yang diadakan di wilayah Kabupaten Badung. Perhelatan ini tidak mengalami kekurangan air, sementara warga di wilayah Badung Selatan kesulitan mengakses air selama event tersebut berlangsung.
Menurunnya suplai air juga memicu konflik horisontal. Saat jumlah air berkurang, air yang tersisa masih dikuasai oleh pihak yang memiliki power. Akibatnya, warga kembali korban. Ia pun memberikan solusi dengan mendorong para pihak melakukan konservasi, misalnya melalui bambu.
“Satu rumpun 35 lonjor bisa menampung 1300 liter di rimpang, batang, daun. Setara 189 galon air kemasan yang dikeluarkan perlahan saat kemarau,” paparnya.
Menurutnya, program YBL di Bali adalah konservasi sepanjang Yeh Penet berhulu di Batukaru, hilir di Tanah Lot sambil memetakan jenis bambu.
“Bali sudah impor 5 juta lonjor untuk kepentingan upakara,” tambahnya.
3. Pemanfaatan air hujan

I Putu Bawa, aktivis konservasi air dari Yayasan IDEP Selaras Alam, mengingatkan konflik air di Bali sudah lama terjadi. Krisis air ini meningkat karena permintaan tidak sesuai dengan kebutuhan.
“Ketika pemerintah proyeksi turis meningkat 4-5 kali lipat, airnya dari mana? Kalau tidak antisipasi dari sekarang, yang terdampak adalah warga miskin,” katanya.
Menurutnya ada solusi untuk daerah yang tidak memiliki air permukaan. Ia memberikan contoh seperti wilayah Kecamatan Nusa Penida yang tidak punya air permukaan, namun memanfaatkan air hujan.


















