Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tradisi Mejaga-Jaga Klungkung, Ritual Darah Sapi Demi Keseimbangan Alam
Tradisi Mejaga-Jaga di Desa Adat Besang Kawan Tohjiwa, Klungkung. (Dok. IDN Times/Istimewa)
  • Tradisi Mecaru Mejaga-Jaga digelar tahunan di Desa Adat Besang Kawan Tohjiwa, Klungkung, sebagai caru agung yang diyakini menetralkan pengaruh negatif dan memberi keselamatan warga.
  • Ritual menggunakan sapi tanpa cacat yang dipilih keturunan pemangku. Sapi diarak ke titik-titik sakral, sementara darahnya dimaknai sebagai kurban suci untuk menyeimbangkan alam dan manusia.
  • Usai prosesi, dilakukan pecaruan dan daging sapi dibagikan kepada warga. Mejaga-Jaga telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia sejak 2021.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2021

Tradisi Mejaga-Jaga mendapat pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.

Selasa (11/8/2026)

Masyarakat Desa Adat Besang Kawan Tohjiwa menggelar Mecaru Mejaga-Jaga. Sapi diarak ke sejumlah titik desa, darahnya digunakan dalam ritual, lalu prosesi ditutup dengan pecaruan dan pembagian daging kepada warga.

kini

Tradisi Mecaru Mejaga-Jaga masih dijalankan masyarakat Desa Adat Besang Kawan Tohjiwa sebagai ritual keseimbangan dan keselamatan desa.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Tradisi Mecaru Mejaga-Jaga digelar dengan mengarak sapi, meneteskan darah di titik-titik desa, melaksanakan ritual di pura, kemudian mengadakan pecaruan dan membagikan daging sapi kepada warga.
  • Who?
    Krama Desa Adat Besang Kawan Tohjiwa, Bendesa Adat I Nyoman Sujana, keturunan Pemangku Prajapati, Pemangku Catus Pata, Pemangku Dalem, serta Wakil Bupati Klungkung Tjokorda Gde Surya Putra terlibat atau menyaksikan prosesi.
  • Where?
    Prosesi berlangsung di Desa Adat Besang Kawan Tohjiwa, Kelurahan Semarapura Kaja, Kecamatan Klungkung, termasuk Pura Puseh, Pura Dalem, Catus Pata, batas desa, dan depan Pura Prajapati.
  • When?
    Tradisi dilaksanakan pada Selasa, 11 Agustus 2026, dimulai sekitar pukul 07.00 Wita. Ritual ini digelar satu kali setiap tahun.
  • Why?
    Masyarakat setempat meyakini ritual ini sebagai caru agung untuk menetralisir pengaruh negatif, menjaga keselamatan desa dan warga, serta menyeimbangkan alam dan kehidupan manusia.
  • How?
    Sapi tanpa cacat dipilih oleh keturunan para pemangku, dimandikan, lalu diarak ke sejumlah pura dan titik desa. Pemangku memakai Belakas Sudamala; setelah perjalanan selesai, pecaruan dilakukan dan daging sapi dibagikan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Warga Desa Besang Kawan Tohjiwa di Klungkung mengadakan tradisi Mejaga-Jaga. Mereka membawa sapi pilihan ke beberapa tempat di desa. Darah sapi dipakai dalam ritual karena dipercaya bisa menjaga keselamatan dan keseimbangan desa. Setelah itu ada pecaruan dan daging sapi dibagi ke warga. Tradisi ini dilakukan tiap tahun dan sudah jadi warisan budaya Indonesia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Tradisi Mejaga-Jaga menunjukkan kuatnya keterikatan masyarakat Desa Adat Besang Kawan Tohjiwa pada warisan leluhur, nilai spiritual, dan harapan akan harmoni kehidupan. Pelaksanaannya yang teratur, melibatkan unsur adat, serta pembagian daging kepada warga mencerminkan kebersamaan. Pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda turut menegaskan nilai budaya tradisi ini.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Klungkung, IDN Times - Darah sapi tercecer di sejumlah titik wilayah Desa Adat Besang Kawan Tohjiwa, Kelurahan Semarapura Kaja, Kecamatan Klungkung, Kabupaten Klungkung, Selasa (11/8/2026). Warga menyambut dengan sorak sorai, yang terdengar selaras bersama alunan tabuh baleganjur.

Pemandangan itu menjadi bagian dari rangkaian Tradisi Mecaru Mejaga-Jaga yang hingga kini masih dijalankan warga setempat. Prosesi tersebut mungkin terlihat tidak biasa. Namun, bagi krama Desa Adat Besang Kawan Tohjiwa, setiap tahapan memiliki makna tersendiri.

Darah yang tercecer, perjalanan sapi menuju ke sejumlah titik desa, hingga pecaruan (pembersihan energi negatif atau penyucian) di akhir ritual merupakan bagian dari tradisi yang dipercaya berkaitan dengan keseimbangan alam dan kehidupan warga.

Bendesa Adat Besang Kawan Tohjiwa, I Nyoman Sujana, mengatakan Mejaga-Jaga merupakan bentuk caru agung (penyucian besar) yang diwariskan secara turun-temurun. Ritual tersebut dipercaya menjadi sarana untuk menetralisir berbagai pengaruh negatif yang dapat mengganggu kehidupan desa.

“Tradisi ini digelar setiap satu tahun sekali, wajib karena diyakini memberikan keselamatan bagi desa dan warga,” kata Sujana, Selasa (11/8/2026).

1. Sapi harus dipilih khusus dan tidak boleh cacat

Tradisi Mejaga-jaga di Desa Adat Besang Kawan Tohjiwa, Klungkung. (Dok. IDN Times/Istimewa)

Tradisi ini memiliki aturan khusus, yakni penggunaan sapi yang disakralkan sebagai sarana utama. Sapinya bukan sembarangan. Hewan tersebut harus dalam kondisi tertentu dan tidak boleh memiliki kecacatan.

Menariknya, proses pemilihannya juga melibatkan pihak yang memiliki kedudukan khusus dalam tradisi desa. Sapi dipilih oleh keturunan Pemangku Prajapati, Pemangku Catus Pata, serta Pemangku Dalem.

2. Darah yang tercecer dimaknai sebagai bagian dari ritual keseimbangan

Tradisi Mejaga-jaga di Desa Adat Besang Kawan Tohjiwa, Klungkung. (Dok. IDN Times/Istimewa)

Prosesi dimulai sekitar pukul 07.00 Wita. Sapi terlebih dahulu dimandikan sebelum dibawa ke kawasan Pura Puseh. Dari sana, perjalanan ritual berlanjut ke sejumlah titik yang dianggap penting dalam wilayah desa.

Di depan Pura Puseh, prosesi dilanjutkan oleh Pemangku Catus Pata menggunakan "Belakas "Sudamala, sarana yang disakralkan oleh warga Desa Adat Besang Kawan Tohjiwa.

Setelah itu, sapi diarak warga menuju arah Zelatan hingga batas desa. Prosesi berlanjut di depan Pura Dalem sebelum kembali menuju Catus Pata.

Perjalanan ritual belum berhenti. Sapi kembali diarak menuju wilayah Timur desa, kemudian bergerak ke arah Barat hingga depan Pura Prajapati.

Pada sejumlah titik tersebut berlangsung tahapan ritual yang menjadi bagian dari Mejaga-Jaga.

Ceceran darah sapi menjadi bagian yang paling mencolok dalam prosesi ini. Namun, warga setempat memiliki pemaknaan tersendiri terhadapnya.

Sujana menjelaskan, darah tersebut diyakini sebagai bagian dari sarana kurban suci untuk menjaga Desa Besang Kawan Tohjiwa, baik secara sekala maupun niskala.

Tradisi tersebut juga dimaknai sebagai upaya "nyomiang" atau menyeimbangkan alam. Keseimbangan itu mencakup bhuana agung atau alam semesta, dengan bhuana alit atau manusia.

Ada pula warga yang mencari ceceran darah sapi setelah prosesi berlangsung. Dalam keyakinan warga setempat, darah tersebut dipercaya memiliki khasiat sebagai sarana pengobatan untuk menghilangkan penyakit dan keselamatan.

Setelah seluruh rangkaian perjalanan selesai, ritual dilanjutkan dengan ritual pecaruan. Sementara daging sapi dibagikan kepada warga.

3. Tradisi Mejaga-Jaga sudah berstatus WBTB

Tradisi Mejaga-Jaga di Desa Adat Besang Kawan Tohjiwa, Klungkung. (Dok. IDN Times/Istimewa)

Wakil Bupati Klungkung, Tjokorda Gde Surya Putra, turut menyaksikan pelaksanaan tradisi tersebut. Ia mengatakan, Mejaga-Jaga merupakan tradisi yang masih dipertahankan warga Desa Adat Besang Kawan Tohjiwa.

Menurutnya, ritual tersebut tidak terlepas dari harapan warga agar kehidupan desa tetap harmonis. Termasuk memohon kesuburan, kemakmuran, serta hasil pertanian yang lebih baik.

“Semoga dengan digelarnya Mecaru Mejaga-Jaga ini mampu menjaga keseimbangan alam dan menetralisir pengaruh-pengaruh negatif secara niskala,” kata Tjok Surya.

Selain memiliki nilai spiritual bagi warga setempat, tradisi ini juga telah mendapat pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia pada 2021.

Dengan status tersebut, Mejaga-Jaga tidak hanya menjadi bagian dari kehidupan adat warga Besang Kawan Tohjiwa, tetapi juga menjadi kekayaan budaya yang dimiliki Kabupaten Klungkung.

Tjok Surya berharap keberadaan tradisi tersebut dapat terus dipertahankan. Di sisi lain, pengakuan sebagai WBTB juga dinilai membuka peluang agar tradisi Mejaga-Jaga semakin dikenal sebagai bagian dari kekayaan budaya Bali.

Editorial Team

Related Article