Klungkung, IDN Times - Darah sapi tercecer di sejumlah titik wilayah Desa Adat Besang Kawan Tohjiwa, Kelurahan Semarapura Kaja, Kecamatan Klungkung, Kabupaten Klungkung, Selasa (11/8/2026). Warga menyambut dengan sorak sorai, yang terdengar selaras bersama alunan tabuh baleganjur.
Pemandangan itu menjadi bagian dari rangkaian Tradisi Mecaru Mejaga-Jaga yang hingga kini masih dijalankan warga setempat. Prosesi tersebut mungkin terlihat tidak biasa. Namun, bagi krama Desa Adat Besang Kawan Tohjiwa, setiap tahapan memiliki makna tersendiri.
Darah yang tercecer, perjalanan sapi menuju ke sejumlah titik desa, hingga pecaruan (pembersihan energi negatif atau penyucian) di akhir ritual merupakan bagian dari tradisi yang dipercaya berkaitan dengan keseimbangan alam dan kehidupan warga.
Bendesa Adat Besang Kawan Tohjiwa, I Nyoman Sujana, mengatakan Mejaga-Jaga merupakan bentuk caru agung (penyucian besar) yang diwariskan secara turun-temurun. Ritual tersebut dipercaya menjadi sarana untuk menetralisir berbagai pengaruh negatif yang dapat mengganggu kehidupan desa.
“Tradisi ini digelar setiap satu tahun sekali, wajib karena diyakini memberikan keselamatan bagi desa dan warga,” kata Sujana, Selasa (11/8/2026).
