Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Menu Sehat untuk Bencana di Indonesia Dikritik, Tidak Ramah Penyintas
ilustrasi membantu korban bencana (pexels.com/Julia M Cameron)
  • Poltekkes Kemenkes Denpasar bersama BPBD Bali mengembangkan inovasi menu sehat untuk bencana agar penyintas mendapat asupan bergizi, tidak hanya tinggi kalori dan garam.
  • Inovasi menu disusun berdasarkan kebutuhan gizi tiap kelompok usia serta menerapkan prinsip GEDSI, sejalan dengan regulasi pelayanan gizi dalam penanggulangan krisis kesehatan.
  • Hasil inovasi dipresentasikan dalam dialog multipihak yang melibatkan 35 perguruan tinggi guna memperkuat kolaborasi akademisi, swasta, dan masyarakat sipil membangun ketangguhan menghadapi bencana di Bali.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Pengembangan inovasi menu sehat untuk bencana dilakukan guna meningkatkan kualitas gizi penyintas dan memperbaiki layanan pemenuhan kebutuhan pangan pada masa tanggap darurat di Indonesia.
  • Who?
    Poltekkes Kemenkes Denpasar berkolaborasi dengan BPBD Provinsi Bali, LLDikti Wilayah VIII, serta didukung Program SIAP SIAGA dan melibatkan akademisi, pelaku usaha, dan organisasi masyarakat sipil.
  • Where?
    Kegiatan berlangsung di Denpasar, Bali, dengan partisipasi 35 perguruan tinggi yang sedang berproses menuju Kampus Siaga Bencana di wilayah tersebut.
  • When?
    Kegiatan dan dialog multipihak dilaksanakan pada tahun berjalan sebagai bagian dari upaya penguatan kesiapsiagaan menghadapi bencana di Bali.
  • Why?
    Bantuan pangan saat bencana sering kali rendah nutrisi sehingga diperlukan inovasi menu sehat agar penyintas tetap memperoleh asupan bergizi sesuai kebutuhan usia dan kondisi kesehatan.
  • How?
    Inovasi dikembangkan melalui riset gizi berbasis kelompok usia dengan prinsip GEDSI, diseminasi lewat dialog multipihak, serta integrasi keilmuan kampus dalam program penanggulangan risiko bencana.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Denpasar, IDN Times - Dalam situasi darurat kebencanaan, penyintas kerap menghadapi keterbatasan akses terhadap makanan yang cukup, aman, dan bergizi. Bantuan pangan pada masa tanggap darurat masih sering didominasi oleh makanan tinggi kalori dan garam, tetapi rendah kandungan nutrisi. Kondisi ini berpotensi meningkatkan kerentanan kesehatan, termasuk memperburuk penyakit tidak menular seperti diabetes dan hipertensi.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Bali, Ida Bagus Gede Widnyana, mengatakan situasi ini mendorong pengembangan inovasi menu sehat untuk bencana yang dirancang berdasarkan kebutuhan gizi berbagai kelompok usia yang diusung oleh Poltekkes Kemenkes Denpasar.

Inovasi penelitian ini diakuinya dapat membantu meningkatkan layanan pemenuhan kebutuhan dasar, khususnya pangan, saat bencana terjadi.

"Tidak hanya dari sisi kuantitas, tetapi juga kualitas gizinya. Produk ini berpotensi menjadi salah satu pilihan logistik yang dapat kami gunakan dalam penanganan bencana di Bali,” terangnya.

1. Perguruan tinggi mengintegrasikan keilmuan dalam upaya penanggulangan bencana

Banjir di Kota Denpasar (Dok.IDN Times/istimewa)

Poltekkes Kemenkes Denpasar mengembangkan inovasi menu sehat untuk bencana berkolaborasi dengan BPBD Provinsi Bali, dan LLDikti Wilayah VIII melalui dukungan Program SIAP SIAGA. Analis SDM Aparatur Ahli Muda LLDikti Wilayah VIII Bali–NTB, Pande Putu Suryadinata, menjelaskan inovasi tersebut dapat menjadi referensi bagi perguruan tinggi lain dalam mengintegrasikan keilmuan dengan upaya penanggulangan bencana.

Ke depan, berbagai kegiatan seperti KKN Tematik dapat semakin memperkuat sinergi antara dunia akademik dan pengurangan risiko bencana.

Lebih lanjut, perguruan tinggi memiliki potensi besar sebagai agen perubahan dalam membangun budaya kesiapsiagaan. Sementara pelaku usaha dan organisasi masyarakat sipil berperan menjembatani implementasi berbagai inovasi dan rekomendasi yang dihasilkan oleh kalangan akademisi. Pendekatan multipihak dinilai semakin penting mengingat meningkatnya risiko bencana yang dipengaruhi oleh perubahan iklim dan dinamika pembangunan.

“Kolaborasi harus terus diperkuat. Kampus memiliki sumber daya, pengetahuan, dan jaringan yang luas. Ketika civitas akademika memahami langkah-langkah mitigasi bencana, mereka dapat menjadi penggerak yang menyebarluaskan pengetahuan tersebut kepada masyarakat,” ujarnya.

2. Menu sehat kebencanaan di Indonesia harus dievaluasi

Pemeriksaan kesehatan kepada masyarakat terdampak banjir di Kota Denpasar (Dok.IDN Times/istimewa)

Dosen dan Peneliti Poltekkes Kemenkes Denpasar, Anak Agung Nanak Antarini, menjelaskan pengembangan menu sehat ini didasarkan pada pemahaman bahwa setiap kelompok usia memiliki kebutuhan gizi yang berbeda. Karena itu, menu yang disusun tidak hanya mempertimbangkan kondisi darurat bencana, tetapi juga kebutuhan spesifik anak-anak, remaja, dewasa, hingga lansia. Pendekatan ini sekaligus mencerminkan komitmen Poltekkes Kemenkes Denpasar dalam mengarusutamakan prinsip GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion) dalam setiap proses pengambilan keputusan dan pengembangan program.

“Menu gizi bencana ini bertujuan membantu masyarakat terdampak bencana mempertahankan status gizi, mencegah kekurangan gizi, serta mengurangi risiko kesakitan dan kematian. Karena kebutuhan gizi setiap kelompok usia berbeda, maka menu yang kami susun juga disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kelompok,” jelasnya.

Inisiatif tersebut diungkapnya sejalan dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2019 yang menegaskan bahwa pelayanan gizi merupakan bagian penting dari penanggulangan krisis kesehatan pada seluruh tahapan bencana, mulai dari pra-krisis, tanggap darurat, hingga pascakrisis.

3. Kolaborasi antarpihak diperkuat dalam dialog

Dialog Multipihak Siaga Bencana di Bali (Dok.IDN Times/istimewa)

Sebagai bagian dari upaya memperluas pemanfaatan hasil inovasi tersebut, temuan ini telah didiseminasikan melalui kegiatan “Dialog Multipihak: Pertukaran Pengetahuan dan Penguatan Implementasi Kampus Siaga Bencana Berbasis Pengurangan Risiko Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim (PRB-API)”.

Forum ini menjadi ruang berbagi pengetahuan sekaligus memperkuat kolaborasi antara akademisi, sektor swasta, dan organisasi masyarakat sipil dalam mendukung ketangguhan Bali terhadap bencana.

Dalam pelaksanaannya sebanyak 35 perguruan tinggi yang sedang berproses menuju Kampus Siaga Bencana (KSB) turut berpartisipasi dalam dialog. Keterlibatan berbagai kampus menunjukkan semakin besarnya perhatian sektor pendidikan terhadap isu kebencanaan dan komitmen untuk berkontribusi dalam memperkuat ketangguhan masyarakat.

“Dalam situasi bencana, kualitas asupan pangan sering kali sulit dikendalikan sehingga tidak selalu menjamin kesehatan penyintas. Melalui inovasi ini, kami berupaya memastikan kebutuhan gizi tetap terpenuhi meskipun masyarakat berada dalam kondisi darurat,” ungkap Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan Poltekkes Kemenkes Denpasar, Komang Ayu Henny Achjar.

Editorial Team

Related Article