Comscore Tracker

Dari Keluarga Nelayan, Fotografer Sonny Tumbelaka Kini Jadi Advokat 

Fokus adalah kunci

Berkejaran dengan waktu untuk menuntaskan sekian banyak pekerjaan, tentu memerlukan manajemen yang baik. Terlebih bagi mereka yang bergelut di lebih dari satu bidang. Bergerak dari satu tanggung jawab ke tanggung jawab yang lain, pastilah menyita energi dan pikiran. Karenanya, ketenangan sangat diperlukan. 

Hal itu pula yang dijalani oleh laki-laki kelahiran Manado, 8 Maret 1972, Sonny Tumbelaka. Tumbuh besar di kalangan keluarga nelayan, ia sudah sejak kecil hobi membaca buku. Bahkan hingga saat ini koleksinya mencapai 3.700 buku. Kegemarannya belajar kemudian membawanya menjadi seorang jurnalis yang juga advokat.

Sonny kini tinggal di Kota Denpasar. Selain sehari-hari bekerja sebagai fotografer andalan Kantor Berita Prancis Agence France Presse (AFP), ia juga berprofesi sebagai advokat dan saat ini tengah menulis buku. Bahkan di sela-sela kesibukannya tersebut, ia masih sempat menjalankan hobinya yang lain.

1. Menekuni profesi jurnalis sejak tahun 1996 dan sempat sekolah di Jerman

Dari Keluarga Nelayan, Fotografer Sonny Tumbelaka Kini Jadi Advokat Sonny Tumbeleka, fotografer sekaligus advokad (Dok.IDN Times/Sonny)

Saat diwawancara melalui sambungan telepon pada Rabu (28/7/2021) lalu, Sonny menceritakan awal mula dirinya berkarir di bidang jurnalistik. Sebelum terjun ke profesi ini, ia menempuh pendidikan di Hamburg selama 9 bulan untuk belajar bahasa Jerman. Sekembalinya ke Indonesia, pada tahun 1996,  ia menekuni profesi sebagai jurnalis di Surabaya. Tiga tahun kemudian ia pindah ke Bali dan menetap hingga saat ini.

“Saya selalu menikmati dan berusaha profesional dalam setiap pekerjaan yang menjadi tugas dan tanggung jawab,” ucapnya.

Sonny merasa telah jatuh cinta dengan profesi ini dan tidak pernah terpikirkan untuk berpindah ke lain profesi. Ia berpegang pada motto hidupnya, Dum Spiro Spero (bahasa Latin; While I Breathe I Hope. Apabila dialih bahasakan ke Bahasa Indonesia, maknanya sama dengan “selama hayat masih dikandung badan, aku tidak akan putus asa.”

“Kuncinya adalah fokus,” ungkapnya.

2. Sedang menyelesaikan penulisan buku Paedofilia dan Penyalahgunaan Narkotika Orang Asing di Bali

Dari Keluarga Nelayan, Fotografer Sonny Tumbelaka Kini Jadi Advokat Buku fisik dan tablet e-buku. pexels.com/Perfecto Capucine

Meskipun memiliki segudang aktivitas, menemui laki-laki ini tidak susah. Misalnya untuk sekadar bertukar pikiran atau mengobrol santai. Ia kerap berada di Pengadilan Negeri Denpasar untuk memantau sidang-sidang yang sedang berlangsung. Khas dengan senyumannya, pria berkaca mata ini akan duduk di kantin sambil menyeruput kopi hitam.

Sosok yang sering kali terlihat sendiri ini ternyata memiliki koleksi 3.700 buku. Apakah semua bukunya dibaca? Jawabnya iya. Koleksi bukunya terdiri dari buku-buku hukum, psikologi dan bahasa Jerman. Saat ini ia juga sedang menyelesaikan penulisan buku Paedofilia dan Penyalahgunaan Narkotika Orang Asing di Bali.

“Sedang ngarap dua buku. Kedua buku ini diperkirakan 960 halaman atau hampir 500 halaman setiap buku,” ungkapnya.

Di sela-sela kesibukannya tersebut, Sonny juga masih sempat menjalankan hobinya yang lain, yaitu diving. Ia telah menyukai free diving karena memang sejak kecil sudah terbiasa menyelam tanpa alat bantu tabung oksigen, snorkel, maupun masker.

“Kalau stres, pasti sering juga dijumpai dan itu manusiawi. Tapi itu bukan halangan harus berhenti dari tanggung jawab yang sudah seharusnya diselesaikan dalam setiap pekerjaan,” ungkapnya.

3. Jadi advokat yang mengedepankan mediasi

Dari Keluarga Nelayan, Fotografer Sonny Tumbelaka Kini Jadi Advokat Ilustrasi hukum (IDN Times/Sukma Shakti)

Belum lama ini, tepatnya Juli 2021, Sonny Tumbelaka lulus dalam Pelatihan Sertifikasi Mediator angkatan XVIII yang diselenggarakan oleh Justitia Training Center, Lembaga Sertifikasi Mediator terakreditasi Mahkamah Agung. Sonny aktif mendalami psikologi dan aktif melakukan pendampingan hukum sebagai advokat.

Bagi Sonny dalam pendampingan hukum ini, ia mengedepankan proses mediasi, yakni dilakukan dengan cara penyelesaian sengketa melalui perundingan. Tujuannya tentu untuk memperoleh kesepakatan para pihak.

“Sebagai seorang mediator, harus mampu menjaga sikap agar netral. Tidak memihak antara kedua belah pihak yang sedang dimediasi,” jelasnya.

Sonny juga menitipkan pesan kepada generasi muda saat ini agar sebagai generasi penerus bangsa tetap bersemangat dalam segala hal. "Rajin belajar dan jangan mudah menyerah," tegasnya. 

Topic:

  • Ni Ketut Sudiani

Berita Terkini Lainnya