Badung, IDN Times - Indonesia ancang-ancang menggarap pasar karbon internasional sehingga menjadi ladang bisnis baru. Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), Moh Jumhur Hidayat, mengingat saat ini, Indonesia memegang posisi penting secara global dengan kawasan Mangrove seluas lebih dari 3,45 juta hektare berdasarkan Peta Mangrove Nasional Tahun 2025, yang mewakili 20 hingga 25 persen dari total Mangrove dunia.
Saat ini pihaknya megaku sedang menghitung dalam kurun waktu 1-2 tahun kedepan, berapa persen sumbangan dari gerakan pemulihan lingkungan yang berbasis pada kegiatan pasar karbon bisa membantu pertumbuhan ekonomi Indonesia sekaligus berapa banyak orang yang akan terserap, berapa juta orang yang akan bekerja diserap oleh kegiatan ini.
"Dengarkan. Saya dan Pak Sakti Wahyu Trenggono dan pastinya dengan Menteri Kelautan, Menteri Kehutanan sudah didatangi oleh para investor yang raksasa. Mereka ingin menanam ratusan ribu Mangrove dan sebagainya. Dan pada saatnya itu akan menguntungkan buat si investor tetapi sekaligus menciptakan kegiatan ekonomi, green job. Kemudian selama 3-4 tahun ke depan mereka mendapatkan honor, mendapatkan upah, memelihara, dan juga ketika itu dijual di pasar karbon, mereka pun akan mendapatkan benefit sharing atau pendapatan yang lebih besar dibandingkan para investornya itu," ungkapnya pada Minggu (26/7/2026).
