Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mangrove Indonesia Disiapkan Untuk Bisnis Pasar Karbon Internasional
Ekowisata Mangrove Batu Lumbang di Pemogan(IDN Times/Ayu Afria)

Badung, IDN Times - Indonesia ancang-ancang menggarap pasar karbon internasional sehingga menjadi ladang bisnis baru. Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), Moh Jumhur Hidayat, mengingat saat ini, Indonesia memegang posisi penting secara global dengan kawasan Mangrove seluas lebih dari 3,45 juta hektare berdasarkan Peta Mangrove Nasional Tahun 2025, yang mewakili 20 hingga 25 persen dari total Mangrove dunia.

Saat ini pihaknya megaku sedang menghitung dalam kurun waktu 1-2 tahun kedepan, berapa persen sumbangan dari gerakan pemulihan lingkungan yang berbasis pada kegiatan pasar karbon bisa membantu pertumbuhan ekonomi Indonesia sekaligus berapa banyak orang yang akan terserap, berapa juta orang yang akan bekerja diserap oleh kegiatan ini.

"Dengarkan. Saya dan Pak Sakti Wahyu Trenggono dan pastinya dengan Menteri Kelautan, Menteri Kehutanan sudah didatangi oleh para investor yang raksasa. Mereka ingin menanam ratusan ribu Mangrove dan sebagainya. Dan pada saatnya itu akan menguntungkan buat si investor tetapi sekaligus menciptakan kegiatan ekonomi, green job. Kemudian selama 3-4 tahun ke depan mereka mendapatkan honor, mendapatkan upah, memelihara, dan juga ketika itu dijual di pasar karbon, mereka pun akan mendapatkan benefit sharing atau pendapatan yang lebih besar dibandingkan para investornya itu," ungkapnya pada Minggu (26/7/2026).

1. Dampak pemulihan lingkungan terhadap ekonomi

Ekowisata Mangrove Batu Lumbang di Pemogan(IDN Times/Ayu Afria)

Menteri Jumhur Hidayat, menyebutkan walaupun sekarang penanaman Mangrove sifatnya masih secara sukarela menggunakan anggaran APBN atau APBD, tapi ke depan penanaman Mangrove bisa juga dikolaborasikan dengan kegiatan bisnis. Kegiatan bisnis yang dimaksud, yaitu kegiatan yang bisa pada waktu tertentu dia menghasilkan karbon, dan karbon itu dipasarkan di pasar karbon internasional. Kemudian menghasilkan dana yang cukup besar.

"Dari perhitungan-perhitungan yang kami buat bahwa membangun Indonesia melalui pemulihan lingkungan dengan memanfaatkan mekanisme pasar karbon itu adalah satu kegiatan usaha yang menguntungkan," jelasnya.

Kekayaan tersebut menjadi tanggung jawab besar bagi Indonesia untuk memastikan ekosistem Mangrove dikelola secara berkelanjutan sebagai pelindung pesisir, penjaga keanekaragaman hayati, serta penopang kehidupan masyarakat.

2. Indonesia memiliki kekayaan Mangrove yang besar

Mangrove (inaturalist.org/radhaveach)

Lebih lanjut, di tengah peran esensialnya, ekosistem Mangrove terus dihadapkan pada ancaman alih fungsi lahan, pencemaran, hingga eksploitasi yang tidak terkendali. Merespons tantangan tersebut KLH/BPLH telah menetapkan serangkaian kebijakan dan program strategis untuk memperkuat perlindungan pesisir. Melalui Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2025 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove, pemerintah menjamin upaya perlindungan dan pemulihan dapat berjalan terpadu.

"Mangrove punya 4 sampai 5 kali kekuatan untuk menyerap karbon. Jadi kekawatiran dunia berkembangnya emisi karena kegiatan-kegiatan ekonomi itu harus dikompensasi dengan banyaknya paru-paru bumi yang bisa mengisap emisi karbon. Menanam 1 hektar Mangrove sama dengan menanam 4 hektar tumbuhan lainnya," jelasnya.

Sebagai penguatan langkah pelaksanaan di lapangan dan orkestrasi dengan para pihak, KLH/BPLH juga telah menetapkan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove (RPPEM) Nasional 2026–2055 sebagai pedoman pengelolaan jangka panjang. Melalui pendekatan Kesatuan Lanskap Mangrove (KLM), fungsi perlindungan alam diselaraskan dengan pemanfaatan berkelanjutan. Sementara di tingkat tapak, program Desa Mandiri Peduli Mangrove (DMPM) terus didorong untuk mengubah kebiasaan eksploitasi menjadi pengelolaan lestari, seperti ekowisata dan produk berbasis Mangrove yang menciptakan lapangan kerja hijau.

3. Hari Mangrove Sedunia 2026: Ajak Masyarakat Tanam 1 Juta Mangrove

Ekowisata Mangrove Batu Lumbang di Pemogan(IDN Times/Ayu Afria)

Menteri Jumhur, menjelaskan Kementerian Lingkungan Hidup menyelenggarakan peringatan Hari Mangrove Sedunia Tahun 2026 dengan aksi penanaman serentak lebih dari satu juta bibit mangrove di 162 titik pada 37 provinsi di Indonesia. Mencakup area seluas 364,11 hektare dan melibatkan lebih dari 25.000 peserta dari kalangan pelajar, komunitas, serikat pekerja, hingga masyarakat umum. Agenda masif ini menjadi langkah konkret pemerintah dalam menjaga ekosistem pesisir dan demi keamanan generasi mendatang. Mangrove adalah kunci dalam menjaga keseimbangan ekologis dan kesejahteraan masyarakat pesisir.

“Mangrove bukan hanya sekumpulan pohon di kawasan pesisir. Mangrove adalah benteng kehidupan yang melindungi daratan, menjaga sumber kehidupan masyarakat pesisir, menyimpan karbon, dan menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati. Oleh karena itu, menjaga mangrove berarti menjaga kehidupan dan mengamankan masa depan generasi Indonesia,” jelasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article