Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bambu Petung Dapat Menyimpan 100 Liter Air, Bali Perlu Menanamnya
Ilustrasi bambu (Unsplash.com/Sophia Ayame)
  • Yayasan Bambu Lingkungan Lestari mengembangkan sentra pembibitan di Desa Batur, Bangli, untuk mendukung konservasi lingkungan dan air di tengah risiko banjir serta penurunan air permukaan Bali.
  • Bambu Petung dinilai efektif menyimpan air: satu batang mampu menampung 100 liter saat musim hujan, sehingga serumpun berisi 36 batang dapat menyimpan 3.600 liter.
  • Kebutuhan bambu di Bali mencapai sedikitnya 34 juta lonjor per tahun untuk upacara adat, mendorong ajakan menjaga kelestariannya sebagai bagian penting kehidupan masyarakat Hindu Bali.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Yayasan Bambu Lingkungan Lestari mendorong konservasi bambu di Bali dan mengembangkan sentra pembibitan bambu di Desa Batur untuk mendukung pelestarian lingkungan serta air.
  • Who?
    Mochammad Nicko Agung Pangestu selaku Koordinator Wilayah Bali Yayasan Bambu Lingkungan Lestari mengajak masyarakat Bali meningkatkan kepedulian terhadap bambu.
  • Where?
    Sentra pembibitan bambu dikembangkan di Desa Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, dengan sasaran konservasi bagi wilayah Batur dan sekitarnya.
  • When?
    Pengembangan sentra pembibitan disebut dilakukan belum lama ini. Dorongan konservasi juga dikaitkan dengan banjir yang terjadi pada 2025.
  • Why?
    Bambu dinilai dapat menyimpan air hujan dan dibutuhkan dalam berbagai upacara adat Bali. Konservasi didorong di tengah penggunaan air yang masif dan risiko penurunan air permukaan.
  • How?
    Upaya dilakukan dengan menanam tanaman konservasi, terutama bambu Petung, serta menyediakan bibit melalui sentra pembibitan untuk ditanam di Batur dan daerah sekitarnya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Denpasar, IDN Times - Keberadaan bambu menjadi elemen penting bagi masyarakat Bali. Kelestariannya perlu dijaga agar memberikan manfaat secara berkelanjutan. Belum lama ini, Koordinator Wilayah Bali Yayasan Bambu Lingkungan Lestari, Mochammad Nicko Agung Pangestu, mengatakan Desa Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli sedang mengembangkan satu sentra pembibitan bambu.

Bibit-bibit tersebut diharapkan dapat menjadi media konservasi di daerah Batur dan sekitarnya. Mengingat fenomena lingkungan seperti banjir yang terjadi pada 2025, sehingga perlu kepedulian terhadap lingkungan dan air.

Beberapa ahli menyebutkan bahwa air permukaan Bali bisa turun sampai 5 persen setiap 10 tahun karena masifnya penggunaan air, terutama air di dalam tanah seperti pengeboran dan untuk wisata.

"Kami selaku Yayasan Bambu Lingkungan Lestari ingin mencanangkan bahwa Bali ini harus segera dikonservasi, Bali ini harus segera dimitigasi. Dengan apa? Dengan kita menanam tanaman-tanaman konservasi, jangan lagi menanam tanaman kayak seremonial seperti buah atau tanaman-tanaman yang kurang bermanfaat secara konservasi," jelasnya.

Kenapa memilih bambu untuk konservasi? Menurut risetnya, bambu jenis Petung dalam satu batang dapat menyimpan 100 liter air saat musim hujan. Sehingga jika dibuat permisalan serumpun terdapat 36 batang Bambu Petung, maka air yang bisa tersimpan sebanyak 3.600 liter selama musim hujan.

Di sisi lain, dalam upacara adat, setidaknya 34 juta lonjor bambu digunakan selama setahun di Bali. Misalnya, pada saat perayaan Galungan tercatat setidaknya 4-5 lonjor bambu. Kebutuhan bambu akan meningkat setiap upacara Ngaben, odalan, dan sebagainya.

"Bambu ini adalah salah satu teman hidup teman-teman Bali. Jadi, bambu itu mengiringi dari teman-teman di Bali ini yang terutama di agama Hindu itu dari mereka lahir sampai mereka itu akan disemayamkan atau meninggal nantinya. Jadi kami ingin mengajak kembali teman-teman di Bali untuk aware terhadap bambu sendiri," jelasnya.

Untuk diketahui, Yayasan Bambu Lingkungan Lestari adalah yayasan konservasi dan pemberdayaan masyarakat. Sebelum melebarkan sayap di wilayah Kabupaten Tabanan, komunitas ini lebih banyak membuat kegiatan di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Editorial Team

Related Article