Denpasar, IDN Times - Keberadaan bambu menjadi elemen penting bagi masyarakat Bali. Kelestariannya perlu dijaga agar memberikan manfaat secara berkelanjutan. Belum lama ini, Koordinator Wilayah Bali Yayasan Bambu Lingkungan Lestari, Mochammad Nicko Agung Pangestu, mengatakan Desa Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli sedang mengembangkan satu sentra pembibitan bambu.
Bibit-bibit tersebut diharapkan dapat menjadi media konservasi di daerah Batur dan sekitarnya. Mengingat fenomena lingkungan seperti banjir yang terjadi pada 2025, sehingga perlu kepedulian terhadap lingkungan dan air.
Beberapa ahli menyebutkan bahwa air permukaan Bali bisa turun sampai 5 persen setiap 10 tahun karena masifnya penggunaan air, terutama air di dalam tanah seperti pengeboran dan untuk wisata.
"Kami selaku Yayasan Bambu Lingkungan Lestari ingin mencanangkan bahwa Bali ini harus segera dikonservasi, Bali ini harus segera dimitigasi. Dengan apa? Dengan kita menanam tanaman-tanaman konservasi, jangan lagi menanam tanaman kayak seremonial seperti buah atau tanaman-tanaman yang kurang bermanfaat secara konservasi," jelasnya.
Kenapa memilih bambu untuk konservasi? Menurut risetnya, bambu jenis Petung dalam satu batang dapat menyimpan 100 liter air saat musim hujan. Sehingga jika dibuat permisalan serumpun terdapat 36 batang Bambu Petung, maka air yang bisa tersimpan sebanyak 3.600 liter selama musim hujan.
Di sisi lain, dalam upacara adat, setidaknya 34 juta lonjor bambu digunakan selama setahun di Bali. Misalnya, pada saat perayaan Galungan tercatat setidaknya 4-5 lonjor bambu. Kebutuhan bambu akan meningkat setiap upacara Ngaben, odalan, dan sebagainya.
"Bambu ini adalah salah satu teman hidup teman-teman Bali. Jadi, bambu itu mengiringi dari teman-teman di Bali ini yang terutama di agama Hindu itu dari mereka lahir sampai mereka itu akan disemayamkan atau meninggal nantinya. Jadi kami ingin mengajak kembali teman-teman di Bali untuk aware terhadap bambu sendiri," jelasnya.
Untuk diketahui, Yayasan Bambu Lingkungan Lestari adalah yayasan konservasi dan pemberdayaan masyarakat. Sebelum melebarkan sayap di wilayah Kabupaten Tabanan, komunitas ini lebih banyak membuat kegiatan di Nusa Tenggara Timur (NTT).
