5 Alasan Ilusi Kontrol Bisa Berbahaya bagi Kesehatan Mental

Kamu pernah merasa seolah-olah bisa mengendalikan segalanya? Misalnya merasa lampu lalu lintas tiba-tiba berubah hijau saat kamu mendekat, tim favoritmu berhasil karena dukunganmu yang tak kenal lelah, hingga kafenya laris karena kamu merasa itu berkat kedatanganmu. Tapi, apakah benar kita memiliki kekuatan untuk memengaruhi hasil-hasil tersebut, atau itu hanya ilusi semata?
Kita sering terjebak dalam pemikiran bahwa dengan berharap keras, melakukan ritual tertentu, atau bahkan sekadar ‘merasa’ baik, kita bisa mengontrol kejadian di sekitar. Namun, apa jadinya jika keyakinan ini justru membawa dampak negatif pada kesehatan mental? Nah, berikut adalah lima alasan yang menjelaskan mengapa ilusi kontrol ini tidak hanya menyesatkan, tetapi juga bisa berbahaya. Yuk, simak merujuk pada verywellmind.com, psychologytoday.com, dan Illusion of Control: The Role of Personal Involvement yang diterbitkan di laman American Psychological Association.
1. Membuat kamu terjebak dalam ritual yang tidak efektif

Kita sering kali terjebak dalam ritual tertentu, seperti memakai benda keberuntungan atau melakukan doa tertentu, dengan harapan bisa memengaruhi hasil suatu kejadian. Namun, penelitian menunjukkan bahwa ketika hasil yang diinginkan terjadi, orang cenderung percaya bahwa mereka yang mengendalikannya, meskipun mereka tidak memiliki pengaruh nyata atas apa yang terjadi. Ini bisa membuatmu terjebak dalam kebiasaan yang tidak hanya sia-sia, tapi juga menghabiskan waktu dan energi.
Ritual-ritual ini mungkin memberikan rasa nyaman sementara, tetapi pada akhirnya, mereka tidak mengubah hasil yang tidak terkontrol. Ketika terlalu bergantung pada ritual ini, kamu mungkin mengabaikan tindakan yang lebih efektif dan realistis yang bisa diambil untuk memengaruhi hasil yang sebenarnya bisa kita kontrol.
2. Menimbulkan rasa penyesalan yang tidak perlu

Ilusi kontrol dapat menyebabkan kamu meratapi kejadian masa lalu dengan keyakinan bahwa kita seharusnya bisa mengendalikan atau mengubah hasilnya. Ini hanya menambah beban pikiran tanpa alasan yang jelas dan bisa mengarah pada penyesalan yang tidak perlu. Penyesalan ini tidak hanya tidak produktif, tapi juga bisa menghambatmu untuk melanjutkan hidup dan belajar dari pengalaman.
Selain itu, terlalu banyak merenungkan ‘apa yang seharusnya’ bisa mengurangi kemampuanmu untuk menghadapi realitas, dan menerima bahwa beberapa hal memang berada di luar kendalimu. Dengan menerima kenyataan ini, kamu bisa lebih fokus pada apa yang benar-benar bisa kamu pengaruhi, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahteraan mental.
3. Mendorong perilaku berisiko

Ketika seseorang merasa bisa mengontrol kejadian, mereka mungkin lebih cenderung untuk bertindak berisiko karena percaya bahwa mereka bisa mencegah hasil negatif. Ini bisa berakibat fatal, terutama jika keyakinan ini mendorong perilaku yang berbahaya atau tidak sehat. Perilaku berisiko ini tidak hanya berpotensi merugikan diri sendiri, tapi juga orang lain yang mungkin terlibat.
Misalnya, seseorang yang percaya bahwa mereka bisa mengontrol hasil permainan judi mungkin akan terus bertaruh meskipun peluangnya menentang mereka. Ini bisa menyebabkan kerugian finansial yang serius dan masalah lainnya yang bisa dihindari jika mereka memiliki pemahaman yang lebih realistis tentang pengaruh mereka atas kejadian.
4. Mengarah pada pemikiran magis

Pemikiran magis adalah kepercayaan bahwa kamu bisa membuat sesuatu terjadi hanya dengan kekuatan pikiran. Misalkan menginginkan lampu lalu lintas berubah, atau pemain basket mencetak skor. Ini adalah contoh dari pemikiran magis yang disebabkan oleh ilusi kontrol. Meskipun mungkin terdengar tidak berbahaya, pemikiran magis ini bisa mengurangi kemampuan kamu untuk berpikir secara kritis dan ilmiah.
Selain itu, pemikiran magis bisa mengarah pada kekecewaan ketika hasil yang diinginkan tidak terjadi. Ini bisa memperburuk kesehatan mental karena kamu mungkin merasa gagal atau tidak berdaya. Padahal sebenarnya kamu tidak pernah memiliki kontrol atas situasi tersebut.
5. Dapat menyebabkan keputusan yang overconfident dan berbahaya

Meskipun memiliki rasa kontrol atas kejadian hidup dianggap sebagai sifat yang adaptif, ilusi kontrol bisa menyebabkan kepercayaan diri yang berlebihan, dan pengambilan keputusan yang berisiko bahkan bencana. Ini bisa terjadi dalam berbagai situasi, mulai dari keputusan finansial hingga pilihan gaya hidup.
Contohnya, seseorang yang overconfident dengan kemampuan mengemudinya, mungkin akan mengabaikan risiko dan mengemudi dengan ceroboh yang bisa menyebabkan kecelakaan. Dengan mengakui batasan dan tidak terlalu percaya diri, kamu bisa membuat keputusan yang lebih bijaksana dan aman.
Dengan memahami bahaya ilusi kontrol, kamu bisa mengambil langkah untuk menghindarinya dan menjaga kesehatan mental. Ingatlah, tidak semua hal berada dalam kendalimu, dan itu tidak apa-apa. Menerima kenyataan ini bisa membantu kamu hidup dengan lebih tenang dan bahagia. Semoga bermanfaat!

















![[QUIZ] 6 Bagian Sad Ripu, Ini Anggota Akatsuki Mirip Kamu](https://image.idntimes.com/post/20250115/be23168199ba1e4506dfdacfc61901d1-d66217d2dc9a2789b0852a89ef5e93e9.jpg)
