Comscore Tracker

Mengapa Bali Disebut Pulau Dewata dari Sisi Kosmologi dan Sejarah

Bali adalah The Island of Love. Wah, julukannya banyak

Pulau Bali masih menjadi menjadi destinasi favorit bagi wisatawan. Meski banyak wilayah maupun negara lain yang menawarkan alam yang lebih indah, namun wisatawan selalu ingin kembali berlibur ke Bali. Ada sesuatu yang dirindukan di Bali, yang tidak ada di tempat lain.

Karena memesona, akhirnya Bali memiliki banyak sebutan. Seperti Pulau Dewata, Pulau Seribu Pura, The Island of Gods, The Island of Paradise, The Island of Love, The Morning of The World, The Last Paradise on Earth, dan lainnya. Pulau Dewata adalah julukan yang paling populer.

Mengapa mengapa Bali disebut Pulau Dewata, dan Pulau Seribu Pura? Berikut ini hasil wawancara IDN Times bersama Budayawan Bali, Prof Dr I Made Bandem MA, Rabu (12/1/2022) lalu.

Baca Juga: Hari Baik Menikah Tahun 2022 Menurut Kalender Bali

1. Berdasarkan konsep kosmologi, Bali dijaga oleh Dewata Nawa Sanga dari segala penjuru

Mengapa Bali Disebut Pulau Dewata dari Sisi Kosmologi dan Sejarahilustrasi Dewa Siwa. (Unsplash.com/satish nagapuri)

Menurut Prof Bandem, sebutan Pulau Dewata erat kaitannya dengan konsep kosmologi Bali, yang berhubungan dengan keyakinan Agama Hindu di Bali. Konsep kosmologi yang dimaksud adalah Dewata Nawa Sanga. Yakni sembilan Dewa yang menjaga Bali di setiap arah penjuru mata angin, termasuk di tengah. Berikut ini nama-nama Dewa dalam Dewata Nawa Sanga:

  • Dewa Wisnu terletak di utara
  • Dewa Sambu terletak di timur laut
  • Dewa Iswara terletak di timur
  • Dewa Maheswara terletak di tenggara
  • Dewa Brahma terletak di selatan
  • Dewa Rudra terletak di barat daya
  • Dewa Mahadewa terletak di barat
  • Dewa Sangkara terletak di barat laut
  • Dewa Siwa terletak di tengah-tengah.

“Konsep ini disebut Pangider Bhuwana (Mengelilingi alam). Dengan demikian, masyarakat Bali dengan kepercayaan Hindu meyakini Dewa sebagai sinar suci Tuhan menjaga Bali di segala penjuru arah. Dewata Nawa Sanga ini yang pokoknya. Di luar itu, masyarakat Bali juga meyakini dewa-dewa lainnya. Seperti di laut Dewa Baruna, di bidang pertanian meyakini Dewi Sri sebagai Dewi Kemakmuran, dan lain-lain,” ujarnya.

Baca Juga: Jadwal Hari Raya Hindu Bali Terbaru Tahun 2022

2. Selain Pulau Dewata, Bali juga dikenal Pulau Seribu Pura

Mengapa Bali Disebut Pulau Dewata dari Sisi Kosmologi dan SejarahSuasana di Penataran Agung Pura Besakih, di Rendang, Karangasem saat pandemik, Minggu (3/5) petang. (IDN Times/Ni Ketut Sudiani)

Selain Pulau Dewata, Bali juga berkaitan erat dengan julukan Pulau Seribu Pura. Hal ini tidak terlepas dari kenyataan, bahwa di setiap jengkal daerah Bali terdapat pura. Keberadaan pura di Bali berfungsi sebagai tempat pemujaan para Dewa sebagai manifestasi dari Tuhan Yang Maha Esa. Termasuk juga sebagai tempat penghormatan pada leluhur.

Karena itu, pura di Bali memiliki tingkatan tersendiri. Ada tingkatan yang disebut Kahyangan Jagat, yakni pura pemujaan Tuhan beserta segala manifesti-Nya (Dewa). Sesuai dengan konsep kosmologi Dewata Nawa Sanga, yang termasuk Pura Kahyangan Jagat antara lain:  

  • Pura Batur di utara sebagai tempat pemujaan Tuhan dan manifestasinya sebagai Dewa Wisnu
  • Pura Besakih di timur laut sebagai tempat pemujaan Tuhan dan manifestasinya sebagai Dewa Sambu
  • Pura Lempuyang di timur sebagai tempat pemujaan Tuhan dan manifestasinya sebagai Dewa Iswara
  • Pura Goa Lawah di tenggara sebagai tempat pemujaan Tuhan dan manifestasinya sebagai Dewa Maheswara
  • Pura Andakasa di selatan sebagai tempat pemujaan Tuhan dan manifestasinya sebagai Dewa Brahma
  • Pura Uluwatu di barat daya sebagai tempat pemujaan Tuhan dan manifestasinya sebagai Dewa Rudra
  • Pura Batukaru di barat sebagai tempat pemujaan Tuhan dan manifestasinya sebagai Dewa Mahadewa
  • Pura Pucak Mangu di barat laut sebagai tempat pemujaan Tuhan dan manifestasinya sebagai Dewa Sangkara
  • Pura Besakih di tengah sebagai tempat pemujaan Tuhan dan manifestasinya sebagai Dewa Siwa.

Ada juga Pura Dang Kahyangan Jagat, yang dibangun sebagai tempat penghormatan terhadap guru-guru suci untuk menghormati jasa-jasa seorang pandita. Misalnya Pura Rambut Siwi di Kabupaten Jembrana yang berkaitan dengan perjalanan rohani Dang Hyang Nirartha, Pura Silayukti sebagai tempat moksanya Mpu Kuturan, Tanah Lot, Ponjok Batu, Pulaki tidak lepas dari kedatangan Danghyang Nirartha ke Bali, serta masih banyak lagi tempat suci lainnya yang dikelompokkan sebagai Dang Kahyangan Jagat.

Sedangkan di tingkat yang lebih kecil adalah pura sebagai tempat penghormatan leluhur. Pura keluarga ini disebut Pura Merajan, Pura Ibu, dan Pura Dadia. Bahkan setiap keluarga Hindu Bali memiliki satu pura sebagai tempat persembahyangan di rumahnya, yang dinamakan Sanggah Kemulan. Selain itu, ada juga pura berdasarkan pekerjaannya seperti Pura Melanting di pasar dan Pura Ulunsuwi di sawah.

“Memang kenyataan bahwa Bali itu dikelilingi banyak pura. Ada Pura Kahyangan Jagat, Dang Kahyangan, Kahyangan Tiga, Pura Merajan, Dadia, Sanggah, dan lain-lain. Nah di tambah dengan kegiatan Panca Yadnya yakni lima jenis persembahan suci yang menjadi kerangka aktivitas keagamaan Hindu Bali, menambah ketertarikan wisatawan untuk berkunjung ke Bali,” terang Prof Bandem.

3. Berdasarkan sejarah, pemberian julukan kepada Bali sudah berlangsung sejak dulu

Mengapa Bali Disebut Pulau Dewata dari Sisi Kosmologi dan SejarahIDN Times/Vanny El Rahman

Julukan kepada Bali sejatinya sudah ada sejak lama. Namun sebutannya berbeda-beda. Pada masa kerajaan Bali Kuno di bawah Pemerintahan Raja Sri Kesari Warmadewa tahun Saka 804, Bali dikenal dengan sebutan Bali Dwipa. Sejarah keemasan Bali Dwipa juga tercatat pada masa Pemerintahan Raja Udayana dan Dalem Waturenggong. Hingga saat ini lambang atau simbol dan tulisan Bali Dwipa Jaya masih tercantum menjadi lambang Provinsi Bali.

Di sisi lain, ada juga pandangan lain yang menyebut Bali sebagai Wali atau Banten, yang bermakna persembahan. Terkait julukan Pulau Dewata dan Pura Seribu Pura, Prof Bandem yang juga akademisi di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar ini menuturkan, sejatinya masyarakat Bali tidak pernah mempromosikan agamanya.

Namun keunikan kehidupan sosial dan Agama Hindu yang dijalankan oleh masyarakat Bali telah membawa ketertarikan tersendiri. Termasuk menarik para peneliti untuk melakukan penelitian ke Bali.

Seorang arkeolog yang diingat oleh Prof Bandem adalah DR AJ Bernet Kempers asal Belanda. Ia menulis sebuah buku berjudul “Bali Purbakala” tahun 1950-an. Bernet yang juga sebagai Guru Besar di Universitas Indonesia tersebut banyak meneliti tentang pura-pura yang ada di Bali, termasuk pemujaan dewa-dewi di pura. Secara tidak langsung, buku “Bali Purbakala” ikut membangun julukan Pulau Dewata dan Pulau Seribu Pura ini.

“Orang asing dari Belanda bernama Bernet Kempers yang menulis Bali Purbakala, dia juga ikut memberikan nama Pulau Dewata. Dia yang meneliti berbagai pura yang ada di Bali. Dari buku itu, kemudian secara tidak langsung menjadi promosi pariwisata. Buku itu pun menjadi pedoman bagi para guide. Lama kelamaan, Pulau Dewata dan Pulau Seribu Pura menjadi suatu branding pariwisata yang menarik banyak wisatawan,” katanya.

Topic:

  • Irma Yudistirani

Berita Terkini Lainnya