Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Berakhir Pekan di Konservasi Lembu Putih Desa Taro Gianyar

Objek Wisata Lembu Putih Taro. (IDN Times/Yuko Utami)
Objek Wisata Lembu Putih Taro. (IDN Times/Yuko Utami)

Awan menyelimuti hamparan rumput hijau dengan berbagai jenis pepohonan tinggi menjulang. Suasana begitu hening, langkah kaki mengelilingi setapak demi setapak jalan kecil menuju kandang beberapa Lembu.

Uniknya, hampir 90 persen Lembu itu berwarna putih. Desa Taro di Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar adalah lokasi Objek Wisata Lembu Putih Taro. Seperti apa fakta uniknya?

1. Sejarah singkat Lembu Putih yang disucikan

Lembu putih. (IDN Times/Yuko Utami)
Lembu putih. (IDN Times/Yuko Utami)

Konon zaman dahulu, di Desa Taro, Rsi Markendya bersama para pengikutnya membangun tatanan kehidupan baru berlandaskan ajaran Agama Hindu. Pada masa itu, satu persembahan yadnya membutuhkan Lembu Putih, tetapi tidak ada. Ketiadaan Lembut Putih tersebut dianggap sebagai rna (utang). 

Entah dari mana asalnya, sekelompok Lembu Putih datang ke beberapa lokasi di Desa Taro, satu di antaranya ke Pura Gunung Raung. Selang beberapa hari peristiwa magis itu, seekor induk Lembu melahirkan Lembu betina berwarna putih. Warga di sana meyakini itu pertanda dari Sang Pencipta. Sejak saat itu, hingga kini warga Desa Taro memuliakan Lembu Putih.

2. Pelestarian Lembu Putih atas inisiatif warga

Objek Wisata Lembu Putih Taro. (IDN Times/Yuko Utami)
Objek Wisata Lembu Putih Taro. (IDN Times/Yuko Utami)

Sebelum menjadi objek wisata seperti sekarang, 14 tahun lalu tepatnya pada 2010, warga Desa Taro melakukan pembersihan di kawasan Lembu Putih Taro. Inisiatif mereka berlanjut dengan penggalian dana dan membangun Monumen Shiwanandi di tahun 2011. 

Pada Oktober 2012, dibentuk Yayasan “Lembu Putih Taro“ di bawah payung hukum yayasan ini. Pelestarian Lembu Putih di Taro berkembang pesat. Sebelumnya hanya fokus pada konservasi Lembu Putih dan beberapa jenis pohon untuk upakara dan obat (usada).

Namun seiring perkembangannya, warga melakukan penataan. Seperti menyertakan taman bermain untuk anak-anak, gazebo, lokasi camping, hingga warung makan. Para pendiri hingga jajaran pengelola objek wisata konservasi ini adalah warga lokal di Desa Taro. Mereka mengupayakan adanya ekosistem pengelolaan ruang hidup di objek wisata Lembu Putih, seperti adanya pengelolaan kompos hingga biogas.

3. Tempat ini meraih berbagai penghargaan

Monumen Kalpataru di Objek Wisata Lembu Putih Taro. (IDN Times/Yuko Utami)
Monumen Kalpataru di Objek Wisata Lembu Putih Taro. (IDN Times/Yuko Utami)

Pada tahun 2018, objek wisata ini berhasil meraih Piala Kalpataru dalam kategori Penyelamatan Lingkungan. Mengutip situs Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (KLHK RI), Kalpataru merupakan penghargaan yang diberikan kepada perorangan atau kelompok atas jasanya dalam melestarikan lingkungan hidup di Indonesia. Kalpataru sendiri adalah Bahasa Sanskerta, yang berarti pohon kehidupan.

Pada 2019, Desa Taro menjadi Juara Harapan 1 Lomba Desa Wisata Nusantara se-nasional. Penghargaan ini menjadikan Desa Taro sebagai lokasi pelaksanaan Jambore Nasional Pokdarwis Nusantara yang diikuti oleh perwakilan seluruh Pokdarwis di Indonesia pada November 2020 lalu. Bagi yang tertarik mengunjungi objek wisata ini, tiket masuk ke Desa Taro hanya perlu merogoh kocek Rp10 ribu.

Share
Topics
Editorial Team
Ni Komang Yuko Utami
Irma Yudistirani
Ni Komang Yuko Utami
EditorNi Komang Yuko Utami
Follow Us

Latest Travel Bali

See More

Tiket Masuk Pantai Bopel, Hidden Gem di Sanur

09 Des 2025, 11:31 WIBTravel