"Kita harus bisa berbuat baik di lingkungan yang buruk."
Dari Skizofrenia ke Galeri, Loster Pulih Lewat Seni Lukis

- Loster, penyintas skizofrenia asal Gianyar, memamerkan lukisan Amor Ing Acintya dan Dewi Saraswati di Galeri Santrian, Sanur, setelah keduanya lolos kurasi.
- Kemampuan melukis Loster terasah sejak kecil, tetapi kecanduan alkohol dan obat-obatan pada masa muda berdampak pada kondisi skizofrenianya hingga memerlukan pengobatan.
- Setelah rutin minum obat, pindah ke lingkungan suportif, dan bergabung dengan Rumah Berdaya, Loster menilai seni membantunya menyalurkan pikiran serta menjaga kestabilan.
Denpasar, IDN Times - Karya lukisan berjudul Amor Ing Acintya dilukis oleh Orang dengan Skizofrenia (ODS) asal Banjar Yeh Tengah, Desa Kelusa, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar. Ia bernama I Komang Sudiarta alias Loster. Lukisan tersebut tergantung tepat di dinding sisi kanan luar pintu masuk galeri Santrian di Sanur sejak Jumat, 18 September 2026. Selain lukisan tersebut, satu lukisan lain bertema Dewi Saraswati, juga lolos kurasi dan dipajang di dalam galeri.
Laki-laki yang akrab dipanggil Loster tersebut tampak tenang dengan balutan baju adat Bali berwarna putih. Ia menjabat tangan dan menyambut rekannya dari Rumah Berdaya yang bernama Nyoman Sudiasa. Saat itulah, Loster mengenalkan diri sebagai ODS dari Rumah Berdaya, yang memilih berkarya seni lukis sejak lama.
Beberapa karya yang ia lukis dikerjakan saat mengidap skizofrenia. Ada ciri khas Bunga Lotus, yang menurutnya erat dengan kondisi kejiwaannya saat itu.
"Saya penyintas Skizofrenia, melukis sejak SD, karena lingkungan saya itu lingkungan pelukis. Saya merasa selama gangguan jiwa itu, saya seolah diikat gitu. Diikat oleh hal mistis dan spiritual. Kalau di Bali kan adalah gitu-gitu. Mungkin kepercayaan saya saja itu, gak tahu juga, dan dalam karya itu, saya isi aksara Modre yang mengandung unsur spiritualnya, magis," ungkapnya.
1. Loster merekam setiap ada kematian, media sosial penuh kata Amor Ing Acintya

ilustrasi tradisi Ngaben di bali (pexels.com/Danang DKW) Loster menjelaskan semenjak adanya media sosial (medsos), setiap kabar kematian diiringi dengan ungkapan Amor Ing Acintya. Kata tersebut kemudian menarik perhatiannya, sekaligus menjawab pencarian tema untuk karya lukisan dia belakangan ini.
Lukisan minyak dan akrilik tersebut dibingkai kayu yang berbentuk lingkaran berdiameter 60cm (centimeter). Tampak berbeda dari lukisan lainnya yang dipamerkan di galeri tersebut. Bingkai yang bulat itu ia sesuaikan dengan bentuk dunia. Alam semesta yang tidak memiliki sudut, mirip dengan permaknaan Bhuana Agung.
"Saya cari-cari sekian tahun tuh akhirnya ketemu model gini. Kalau di Bali kan Ngaben namanya. Nah, ini prosesi Ngaben, dan Amor Ing Acintya itu harapan setiap yang mempunyai kematian itu biar roh leluhurnya menyatu dengan Acintya. Kalau di Bali, Acintya kan Tuhan. Tuhan Tunggal, biar menyatu dengan sang pencipta," jelasnya.
2. Kemampuan melukis terasah sejak kecil

Ilustrasi melukis (freepik.com/freepik) Kemampuan melukisnya diasah sejak kecil. Ayahnya memotivasi Loster untuk menjadi seniman lukis. Semasa SMP, ia sudah menghasilkan karya lukisan. Namun, hal tersebut justru membuat Loster terlena, terjerumus dalam pergaulan bebas karena merasa telah mamu menghasilkan uang sendiri. Ia mengaku di masa mudanya kecanduan alkohol dan obat-obatan, hingga berdampak pada Skizofrenia.
"Setelah tamat SMA itu saya mulai gangguan jiwa, tapi saya gak menyadari. Sesudah itu, sudah berkeluarga baru memuncak dia. Gak bisa tidur, ngamuk-ngamuk. Paranoid, pikiran buruk, halusinasi, sampai terakhir depresi gitu. Baru saya berobat. Sempat berobat satu tahun, putus obat lagi, pikiran buruk. Saya membuat huru-hara di lingkungan karena saya berpikiran buruk terus gitu," katanya.
3. ODS lebih baik memilih jalan seni untuk berdaya

ilustrasi melukis (freepik.com/freepik) Kini ia memutuskan rutin meminum obat untuk menjaga keseimbangan dopamin dalam otaknya. Ia juga memutuskan pindah ke lingkungan yang mendukung kesehatan mentalnya. Setelah lima tahun mengonsumsi obat, ia kemudian bergabung ke Rumah Berdaya, dan mulai melihat orang lain yang senasib dengannya. Situasi ini memberikan kemudahan baginya untuk merenungi setiap yang terjadi dalam hidupnya tanpa harus meminta dipahami.
"Lingkungan di keluarga, di lingkungan saya itu seperti racun bagi saya. Setiap kata yang mereka ucap itu meracuni pikiran saya. Kayak di-bully gitu. Akhirnya saya pindah lingkungan," jelasnya.
Ia menilai, seni adalah pilihan tepat bagi ODS yang mau berdaya dalam hidupnya. Menurutnya, menjadi seniman akan mengurangi tekanan bagi ODS, sehingga kestabilan kondisi mereka bisa tetap terjaga. Tidak jarang ODS memilih meminum obat dosis tinggi untuk mendapatkan ketenangan dalam hidupnya.
"Karena seni itu media terapi bagi orang-orang gila. Karena secara wajar kita berpikir logika itu, kita kan membuat sebuah karya. Kita punya masalah, kita membuat karya, apalagi karya itu bisa kita ungkapkan dengan masalah kita. Otomatis pikiran kita, kita curahkan curhat di karya. Selesai karya, kita punya kebanggaan. Apalagi ada yang bilang, "Oh bagus, saya beli." Ya, dari sejam kita berkarya itu sudah melepaskan pikiran negatif. Akhirnya kembali stabil," katanya.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)




















