5 Fakta yang Sering Salah Paham di Bali

Ada banyak hal menarik yang bisa ditemukan atau diulas tentang Bali. Satu di antaranya adalah tentang beberapa hal yang sering salah dalam pemahaman di masyarakat.
Sebut saja tentang penyebutan wilayah, kebiasaan, hingga tentang hal-hal berbau klenik. Penasaran? Berikut daftarnya. Langsung disimak, ya!
1. Lapangan Niti Mandala dan Monumen Bajra Sandhi bukan di Renon

Lapangan Niti Mandala atau Monumen Bajra Sandhi sering disebutkan berada di wilayah Kelurahan Renon. Padahal, area ini berada di luar wilayah Kelurahan Renon, bahkan sudah tidak berada di Kecamatan Denpasar Selatan. Lapangan Niti Mandala dan Monumen Bajra Sandhi masuk wilayah Kelurahan Sumerta Kelod, Kecamatan Denpasar Timur. Hal ini sering menimbulkan kesalahpahaman, terutama pihak yang mengadakan acara di tempat ini. Mereka sering menyebutkan acaranya ada di Renon.
Tak hanya Lapangan Niti Mandala, Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bali dan Kantor Gubernur Bali pun sering disebut berada di Renon. Begitu juga dengan tempat perbelanjaan, Plaza Renon. Lokasi pusat perbelanjaan ini berada di Kelurahan Sumerta Kelod (Tanjung Bungkak), namun menggunakan nama Renon.
2. Arah Utara di Buleleng berbeda dengan daerah lainnya di Bali

Saat berkunjung ke daerah Bali Utara tepatnya ke Kabupaten Buleleng, ada kebiasaan yang sering kali menimbulkan kesalahpahaman. Hal ini terkait dengan arah mata angin yaitu Utara atau dalam Bahasa Balinya disebut dengan Kaja. Arah mata angin Kaja di Buleleng ini terbalik dengan arah Kaja pada umumnya.
Masyarakat Buleleng menyebutkan arah Kaja sesuai dengan letak bukit yang dilalui saat menuju Buleleng dari arah Bedugul. Hal ini memang sangat membingungkan, terutama untuk masyarakat yang berasal dari luar Buleleng. Secara umum, Kaja adalah arah mata angin Selatan saat berada di Buleleng.
3. Pasar Badung bukan di Kabupaten Badung

Nama pasar biasanya diambil dari lokasi pasar tersebut berada. Berbeda dengan Pasar Badung yang lokasinya berada tengah Kota Denpasar.
Pasar ini telah ada sejak zaman kerajaan. Dulunya, dikenal dengan nama Pasar Payuk karena banyaknya pengrajin yang menjajakan barang dagangannya di tempat ini. Oleh raja, pasar ini kemudian berkembang sebagai pusat ekonomi seperti sekarang. Ada beberapa versi kenapa menggunakan nama Badung. Versi pertama karena pasar berada persis di pinggir aliran Tukad Badung.
Versi kedua menyebutkan karena Kota Denpasar dulunya berada di wilayah Kabupaten Badung. Pada 27 Februari 1993, Kota Denpasar ditetapkan sebagai Kota Madya dan lepas dari Kabupaten Badung. Tak hanya penyebutan Pasar Badung, masyarakat juga masih sering menyebutkan Badung saat akan bepergian ke Kota Denpasar. Terutama masyarakat yang berasal dari luar Kota Denpasar.
“Lakar melali ke Badung jani, melali ke Pasih Sanur”. Maksudnya adalah pergi ke Denpasar, pergi ke Pantai Sanur.
4. Orang Bali tidak boleh makan daging sapi

Bagi umat Hindu, sapi termasuk hewan yang disucikan. Sapi sebagai simbol Ibu Pertiwi yang memberikan kehidupan dan kesejahteraan bagi kehidupan umat manusia. Oleh karena itu, ada larangan agar sebisa mungkin umat Hindu tidak mengonsumsi daging sapi.
Namun, tidak semua orang Bali, khususnya beragama Hindu, tidak mengonsumsi daging sapi. Sebagian mereka tetap mengonsumsi, terutama bagi atlet yang memerlukan asupan protein hewani dari daging sapi. Biasanya para pendeta, orang suci, penekun spiritual, tukang banten (pembuat sarana upacara), atau yang telah melakukan upacara penyucian diri (mewinten) tidak mengonsumsi daging sapi.
5. Leak dianggap sebagai hantunya Bali

Mendengar kata leak, bagi sebagian orang awam akan langsung tertuju sebagai sosok hantu menyeramkan yang berasal dari Bali. Banyak orang salah kaprah menganggap leak adalah hantu tradisional Bali. Hal ini salah besar, ya!
Leak bukanlah sosok hantu, melainkan ajaran spritual tradisional yang telah berkembang secara turun-temurun. Ajaran leak ini sering dikaitkan dengan kemampuan spiritual seseorang untuk mengendalikan kekuatan kanda pat (empat saudara yang memenami kehidupan manusia sejak dalam kandungan) yang ada dalam dirinya. Apakah leak ini jahat?
Sebagai ajaran spiritual, tentu saja memuat kebaikan (putih). Hanya saja itu tergantung dari niat si penekun ajaran tersebut, tentang bagaimana memanfaatkan ilmu ajaran. Ilmu leak seperti pisau, ia bisa digunakan untuk pengobatan, dan menyakiti seseorang.
Sedangkan untuk hantu tradisional yang ada di Bali cukup banyak jenisnya. Ada memedi, gregek tunggek, wong samar, tonya, gamang, dan lainnya. Biasanya hantu khas Bali ini digambarkan sebagai sosok dalam wujud menyeramkan.
Nah, sekarang kamu sudah mengetahui kebenaran dari beberapa hal di atas. So, jangan sampai salah lagi ya, karena bisa menimbulkan kesalahpahaman.