Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pelinggih di Griya Kongco Tanah Kilap. (IDN Times/Yuko Utami)
Pelinggih di Griya Kongco Tanah Kilap. (IDN Times/Yuko Utami)

Gianyar, IDN Times - Perayaan Hari Suci Imlek bertepatan pada Selasa, 17 Februari 2026 mendatang. Sehari sebelumnya, yakni 16 Februari 2026, akan berlangsung persembahyangan baik Kelenteng maupun Vihara. Imlek tahun ini hadir dengan Shio Kuda dan elemen api, sehingga disebut sebagai Tahun Kuda Api.

Tahun Kuda Api memancarkan energi semangat membara, energi dinamis, potensi berkembang dan tumbuh. Kuda identik sebagai simbol kemandirian dan kegigihan. Sehingga, tahun ini menjadi harapan agar dapat melewati segala rintangan dengan penuh semangat dan gigih.

Menghitung hari perayaan Imlek, kali ini IDN Times menyusun rekomendasi 7 lokasi sembahyang Imlek di Bali 2026. Berikut ini selengkapnya.

Vihara Satya Dharma

Vihara Satya Dharma (Dok. Google Maps/Iwan Kartono)

Menepi sejenak dari padatnya lalu lintas Jalan Raya Pelabuhan Benoa, Kelurahan Pedungan, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar, berdiri kokoh bangunan Vihara Satya Dharma. Bangunan vihara ini ada sekitar tahun 1991. Nuansa Vihara Satya Dharma begitu megah dan magis. Berbagai ornamen khas Tionghoa menyelimuti kawasan suci ini.

Kombinasi warna merah, putih, biru, dan oranye menambah kesan teduh serta tegas. Pilar kokoh berukiran naga terlihat sangat realistis. Naga memberi napas keagungan dan keberuntungan pada vihara ini. Saat malam hari, keagungan Vihara Satya Dharma semakin terlihat.

Kelenteng Kongco Dwipayana Tanah Kilap

Umat Hindu Bali sembahyang di Pura Kongco Tanah Kilap. (IDN Times/Yuko Utami)

Kelenteng Kongco Dwipayana Tanah Kilap berada satu kawasan dengan Pura Luhur Candi Narmada Tanah Kilap. Kelenteng bernuansa cat merah dan emas itu dibangun tahun 2011 sebagai pemujaan, satu di antaranya kepada Dewi Kwan Im.

Semakin masuk ke wilayah Kongco ini ada pelinggih bernama Parepan Kanjeng Ratu Mas Segara Kidul dengan nuansa merah, hijau, dan emas. Ada sentuhan ornamen Jawa pada tedung dan patungnya. Alamat Kelenteng Kongco Dwipayana Tanah Kilap berada di Jalan Tanah Kilap, Pemogan, Denpasar Selatan, Kota Denpasar.

Vihara Dharmayana Kuta

Vihara Dharmayana Kuta (Dok. Google Maps/Andrzej Filipkowski)

Berlokasi di Jalan Blambangan, Legian, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Vihara Dharmayana Kuta termasuk dalam daftar vihara tertua di Bali. Vihara ini dibangun sekitar tahun 1876. Sisi luar vihara ini bernuansa merah menyala dengan detail berwarna emas. Ada nuana megah dan agung yang terpancar dari Vihara Dharmayana Kuta.

Kelenteng Ling Gwan Kiong

Kelenteng Ling Gwan Kiong (Dok. Google Maps/Akin Naviya Rochana)

Menelusuri sisi Utara Pulau Bali, ada Kelenteng Ling Gwan Kiong. Beralamat di Jalan Erlangga, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, kelenteng ini telah ada sejak tahun 1940. Masa sebelum kemerdekaan Indonesia, tentara penjajah dari Jepang menghargai kelenteng ini.

Kini, Kelenteng Ling Gwang Kiong juga terkenal sebagai destinasi wisata di Buleleng. Lokasinya berdekatan dengan Jembatan Eks Pelabuhan Buleleng yang juga lokasi bersejarah di Bali Utara. Meskipun telah berusia sekitar 86 tahun, kelenteng ini masih kokoh berdiri.

Vihara Amurva Bhumi

Vihara Amurva Bhumi (Dok. Google Maps/Uliss)

Selanjutnya ada Vihara Amurva Bhumi yang berlokasi di Jalan Wisma Gajah Mada, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar. Vihara ini dekat dengan aliran Sungai Petanu, menambah suasana asri dan tenang.

Selain sembahyang, Vihara ini punya berbagai kegiatan positif yang dapat diikuti. Misalnya beryoga, menanam pohon, dan sebagainya. Nuansa arsitektur vihara khas Tionghoa dengan warna merah dan putih saling berpadu.

Kelenteng Caow Eng Bio

Kelenteng Caow Eng Bio (Dok. Google Maps/ab plus.o)

Atap berwarna biru muda, tampil kontras dengan pilar bangunan merah menyala. Perpaduan warna unik ini adalah ciri khas Kelenteng Caow Eng Bio. Kelenteng ini beralamat di Jalan Segara Ening, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung. Lokasinya berada di ujung Utara Tanjung Benoa.

Pada masa Pemerintahan Dinasti Ming, para pelaut Hainan berlabuh di Bali. Mereka membangun vihara ini dengan simbol kuil perahu naga. Bangunan vihara ini diperluas sejak tahun 1548, alias sebelum masa kemerdekaan Indonesia.

Kongco Pura Taman Gandasari

Perpaduan budaya Bali dan Tionghoa serta Hindu dan Budha di Kongco Pura Taman Gandasari. (IDN Times/Yuko Utami)

Terakhir ada Kongco Pura Taman Gandasari perpaduan budaya Bali dan Tionghoa. Berlokasi di Gang Cendrawasih II Nomor 25, Dangin Puri Kaja, Kecamatan Denpasar Utara, Kota Denpasar. Arsitektur Bali terletak pada ornamen di depan kongco seperti pura serta beberapa pelinggih (tempat berstana dewa/dewi yang dipuja umat Hindu Bali) untuk menyembah dewa maupun dewi dalam kepercayaan Hindu di Bali.

Pelinggih itu di antaranya untuk menyembah Dewa di Pura Lempuyang, Ida Ratu Gede Dalem Ped, Leluhur atau Kawitan atau disebut juga Marga. Ada pula pelinggih utama seperti Padma Sari. Sementara budaya Tionghoa dan aliran Budha ada tempat berstananya Dewi Kwan Im dan beberapa Dewa seperti Dewa Uang, Dewa Tanah, Dewa Laut, dan lainnya. Ada pula Dewa Kwan Kong sebagai dewa yang melambangkan kejujuran dan kesetiaan.

Editorial Team