Objek Wisata Lembu Putih Taro. (IDN Times/Yuko Utami)
Sebelum menjadi objek wisata seperti sekarang, 14 tahun lalu tepatnya pada 2010, warga Desa Taro melakukan pembersihan di kawasan Lembu Putih Taro. Inisiatif mereka berlanjut dengan penggalian dana dan membangun Monumen Shiwanandi di tahun 2011.
Pada Oktober 2012, dibentuk Yayasan “Lembu Putih Taro“ di bawah payung hukum yayasan ini. Pelestarian Lembu Putih di Taro berkembang pesat. Sebelumnya hanya fokus pada konservasi Lembu Putih dan beberapa jenis pohon untuk upakara dan obat (usada).
Namun seiring perkembangannya, warga melakukan penataan. Seperti menyertakan taman bermain untuk anak-anak, gazebo, lokasi camping, hingga warung makan. Para pendiri hingga jajaran pengelola objek wisata konservasi ini adalah warga lokal di Desa Taro. Mereka mengupayakan adanya ekosistem pengelolaan ruang hidup di objek wisata Lembu Putih, seperti adanya pengelolaan kompos hingga biogas.