Tari Baris Babuang, Perang Sakral Bangli Melawan Energi Negatif

- Tari Baris Babuang dari Desa Pengotan, Bangli, merupakan ritual sakral tahunan yang juga disebut Perang Papah Biu, memakai pelepah pisang sebagai simbol perlawanan terhadap energi negatif.
- Pementasan berlangsung saat Purnama Sasih Keenam dalam piodalan Ida Bhatara Dalem Pingit, didahului rangkaian persembahan, penyucian penari, petuah adat, dan pelaporan ritual.
- Diiringi gamelan selonding dan gambang, tarian melibatkan pemuda sehat serta suci; busana dan gerak dua kelompok mencerminkan kesucian, pengendalian diri, rwa bhineda, dan persaudaraan warga.
Take a Deeper Reads

Kabupaten Bangli, tidak hanya dikenal karena keindahan Gunung Baturnya. Satu-satunya kabupaten di Bali yang tidak memiliki pantai ini memiliki beragam tari sakral di beberapa daerahnya. Satu di antaranya Tari Baris Babuang.
Tari sakral ini berasal dari sebuah desa Bali Aga (desa asli Bali) bernama Desa Pengotan, Kecamatan Bangli. Tari yang mungkin belum banyak orang familiar ini bukan sekadar tontonan, tapi bagian dari ritual keagamaan yang sudah diwariskan turun-temurun sejak desa itu berdiri.
Tari ini memiliki beberapa keunikan yang bisa kamu temui di artikel berikut ini yang dikutip dari jurnal berjudul Komunikasi Simbolik pada Tradisi Tari Baris Babuang di Desa Pengotan, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli.
1. Dikenal sebagai Perang Papah Biu

Penari Tari Baris Babuang dengan busana kain putih kuning. (YouTube.com/VanDesta Channel) Tari Baris Babuang juga dikenal dengan nama Perang Papah Biu oleh masyarakat sekitar. Hal ini karena para penari saling berperang menggunakan potongan pelepah pisang berukuran sekitar 35-40 cm sebagai senjata. Meskipun disebut perang, prosesnya justru diwarnai semangat sportif tanpa dendam, walaupun tak jarang penari sampai mengalami muka lebam.
Pemilihan pelepah pisang bukan tanpa alasan. Sifatnya yang lunak dan tidak melukai jadi simbol bahwa perjuangan melawan kejahatan seharusnya dilakukan dengan kesadaran dan pengendalian diri, bukan dengan kekerasan. Pelepah pisang atau babuang ini juga dipercaya sebagai media untuk mengusir energi negatif yang mengganggu keseimbangan hidup masyarakat desa.
2. Prosesinya panjang sebelum dipentaskan

Suasana saat pementasan Tari Baris Babuang. (YouTube.com/VanDesta Channel) Sebagai tarian sakral, pementasan Tari Baris Babuang hanya dilakukan sekali setahun saja. Tepatnya saat Purnama Sasih Keenam (bulan keenam dalam kalender Bali), yang bertepatan dengan piodalan Ida Bhatara Dalem Pingit di Pura Dalem Pingit, Desa Adat Pengotan. Pementasan tari sakral ini memiliki beberapa prosesi yang cukup panjang.
Semuanya diawali sore hari, sekitar pukul 17.00 Wita, dengan prosesi ngiring (mengantarkan) Ida Bhatara Dalem Pingit dari Pura Anyar menuju Pura Penataran Bale Agung. Setelah pratima atau simbol suci Ida Bhatara distanakan, barulah dilanjutkan dengan sarana persembahan khusus yaitu 17 jenis sodan lengkap dengan canang buratwangi, sayut pitu, pesucian, pejati, dan beberapa sarana lainnya.
Keunikan tarian ini ada pada sesaji berupa ulam kiuh atau daging ayam hutan betina yang pengolahannya pantang menggunakan alat berbahan besi. Detail sekecil ini menunjukkan betapa masyarakat Desa Pengotan menjaga betul kemurnian ritual sesuai awig-awig atau aturan adat yang diwariskan leluhur.
Setelah seluruh persembahan rampung, giliran para ulu apad (pemangku/orang suci setempat) yang dipimpin oleh Jro Nyarik menempati posisi masing-masing di Bale Agung sesuai tingkatannya.
Dilanjutkan dengan prosesi pider sekar, yaitu pembagian bunga angit dan lekesan (daun sirih berisi kapur dan pinang) yang diselipkan di telinga para penari. Hal ini sebagai simbol kesucian lahir batin.
Sebelum tampil, seluruh anggota sekaa teruna alias pemuda desa yang akan menari, berkumpul dulu di bale wantilan untuk mendengarkan petuah dari Jro Bendesa Adat. Pesannya selalu sama, siapa pun yang ikut menari tidak boleh menyimpan rasa permusuhan atau dendam, sekalipun gerakan tariannya menyerupai adegan peperangan.
Setelahnya, potongan pelepah pisang yang sudah dipersiapkan sebagai senjata perang diletakkan di halaman madya mandala Pura Bale Agung. Jero Mucuk beserta empat peduluan lantas turun untuk melakukan prosesi upacara di Pelinggih Sanggar Tawang. Prosesi ini untuk melapor secara niskala kepada Ida Bhatara di Pura Bale Agung bahwa tarian akan segera dipentaskan.
3. Keunikan pada gamelan dan busana

Suasana saat pementasan Tari Baris Babuang. (YouTube.com/VanDesta Channel) Berbeda dari tarian baris di Bali pada umumnya, Tari Baris Babuang diiringi oleh gamelan selonding dan gambang. Dua jenis gamelan tua yang punya karakter suara khas dan sering diasosiasikan dengan ritual-ritual sakral. Perpaduan suara ini menambah nuansa magis dan sakral yang begitu kental selama pertunjukan berlangsung.
Busana yang dikenakan penari Baris Babuang memiliki makna tertentu. Penari mengenakan kamen berwarna kuning dan putih, lengkap dengan saput dan selendang atau ikat pinggang. Warna kuning diasosiasikan dengan Dewa Mahadewa yang melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan, sementara putih melambangkan kesucian serta kebenaran.
Setiap elemen busana ini rupanya punya arti masing-masing. Kamen melambangkan pengendalian diri dan kesederhanaan karena membungkus bagian tubuh yang dianggap simbol naluri duniawi.
Saput berfungsi sebagai pelindung diri dari pengaruh buruk. Sedangkan selendang jadi simbol pengikat niat serta disiplin spiritual dalam mengendalikan hawa nafsu. Tidak semua orang bisa ikut menari. Hanya mereka yang sehat jasmani dan tidak dalam kondisi cuntaka atau tidak suci yang diperbolehkan tampil.
Saat pertunjukan dimulai, penari dibagi jadi dua kelompok yang saling berhadapan, yakni kelompok sisi timur menghadap barat dan sebaliknya. Hal ini mencerminkan filosofi rwa bhineda atau dua unsur berbeda yang saling melengkapi.
Mereka bergerak maju-mundur sebanyak tiga kali sambil melipat tangan ke atas-bawah, diselingi masuryak alias teriakan khas yang jadi penanda dimulainya "perang" simbolik antara kebaikan dan energi negatif.
Tari Baris Babuang diperkirakan sudah ada sejak berdirinya Desa Pengotan. Di balik unsur ritualnya, Tari Baris Babuang juga berfungsi sebagai sarana penguat tali persaudaraan antara warga desa. Partisipasi para pemuda dalam tarian ini membuat tari sakral ini masih lestari hingga saat ini.
Kalau kamu berkesempatan mampir ke Bangli saat purnama sasih Keenam, jangan lewatkan momen langka untuk menyaksikan tarian sakral yang cuma ada di desa ini, ya!












![[QUIZ] Pilih 1 Simbol Dewi Saraswati, Inilah Cita-Cita Terpendam Kamu](https://image.idntimes.com/post/20220830/inspirasi5-c7c8a956c08d5240d23a9803c984bd4e-bf757a75cfffbce4bdb2e7089b52e278.jpg)
![[QUIZ] Pilih Bujet Menikah Adat Bali, Kami Tebak Kamu Nganten di mana](https://image.idntimes.com/post/20230826/f7b161c8-bfc6-4065-8469-0aa05cbb1bb3-58104fcf873a91b060fa273c628f6d83-780e6369d6b6e81e0903300d4c349d58.jpeg)







