Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Perlinsos Digital di Bali: Warga Datang, Tapi Tak Tahu Nasib Bansos
Uji coba digitalisasi bansos di Kuta (IDN Times/Ayu Afria)
  • Uji coba perlindungan sosial digital digelar di Legian, Badung, dengan warga dibantu mendaftarkan dan memverifikasi data meski sebagian belum memahami jenis bantuan yang akan diterima.
  • Menkomdigi Meutya Hafid menyebut sistem memakai gabungan data lintas instansi, memungkinkan warga menyanggah status penerima dan ditujukan memperbaiki ketepatan penyaluran bansos.
  • Bali menjadi provinsi pertama yang menguji program di seluruh wilayah; 652.858 kepala keluarga telah mendaftar, dengan Buleleng, Karangasem, dan Badung mencatat pendaftaran tertinggi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Uji coba program perlindungan sosial digital dilakukan melalui pendaftaran dan verifikasi data warga pada portal Perlinsos di Bali.
  • Who?
    Meutya Viada Hafid, Mira Tayyiba, warga Desa Adat Legian termasuk Toto Hari Waluyo dan Wayan Balik, serta 12.187 agen Perlinsos terlibat dalam kegiatan ini.
  • Where?
    Kegiatan berlangsung di Bale Pengorong Desa Adat Legian, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, serta mencakup seluruh kabupaten di Bali.
  • When?
    Uji coba di Desa Adat Legian berlangsung Jumat, 9 Oktober 2026, sekitar pukul 14.26 Wita. Data pendaftaran Bali tercatat hingga minggu pertama Oktober 2026.
  • Why?
    Digitalisasi dilakukan agar warga yang layak menerima bantuan sosial dapat terdata, memperbaiki data penerima, dan menyediakan mekanisme sanggahan bagi warga.
  • How?
    Warga mendaftar dan memverifikasi data melalui portal Perlinsos dengan pendampingan agen. Data digabungkan dari Kemensos, perbankan, PLN, ATR/BPN, Korlantas, BPJS, dan instansi lainnya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Badung, IDN Times - Situasi Bale Pengorong Desa Adat Legian, Kecamatan Kuta pada Jumat, 9 Oktober 2026, ramai didatangi ratusan warga yang menyambut kehadiran Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Menkomdigi), Meutya Viada Hafid, dan pejabat lainnya sekitar pukul 14.26 Wita.

Warga berkumpul untuk mengikuti uji coba program perlindungan sosial (perlinsos) digital. Warga Banjar Pelasa, Toto Hari Waluyo (69), datang ke lokasi untuk memanfaatkan layanan tersebut. ia mengaku tidak tahu agenda di lokasi karena hanya menuruti perintah kepala lingkungan yang memintanya datang.

"Gak tahu. Dari Kaling, suruh datang. Kemarin (diberitahu Kaling). Perlinsos. Disuruh bawa KTP, KK, itu sama listrik," ungkapnya.

Saat dibantu oleh petugas mendaftar Perlinsos, Toto pun masih belum tahu data tersebut digunakan untuk apa. Sejauh ini, Toto mengaku pernah menerima bantuan berupa beras, dan uang hari raya. Namun, bantuan itu sudah lama sekali.

1. Warga tidak mengerti jenis bantuan apa yang didapatkan

Uji coba digitalisasi bansos di Kuta (IDN Times/Ayu Afria)

Pekerja toko bangunan, Wayan Balik, yang tinggal di Banjar Jaba Jero, Kuta, mengaku juga tidak tahu tentang Perlinsos tersebut. Setelah datang ke lokasi dan dibantu verifikasi data, ia terdaftar sebagai menerima batuan.

Sejauh ini, ia baru saja menerima bantuan beras dan tidak tahu terkait bantuan Perlinsos tersebut.

"Kurang paham saya. Artinya dapat bantuan apa ke depan ndak (tidak) ngerti saya," terangnya.

2. Verifikasi penerima bantuan berdasarkan gabungan seluruh data dari berbagai lintas instansi

Uji coba digitalisasi bansos di Kuta (IDN Times/Ayu Afria)

Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Menkomdigi), Meutya Viada Hafid, mengatakan banyak warga, yang seharusnya sebagai penerima bansos, menjadi tidak menerima bantuan karena data mereka belum masuk dan diperbaiki.

Kondisi tersebut juga berpotensi menimbulkan persinggungan antara pemerintah daerah, terutama di tingkat terkecil dengan warga.

"Sekarang warga bisa menyanggah. Jadi kalau merasa saya layak dibantu, penghasilan saya sudah sesuai kriteria untuk mendapatkan bantuan sosial, maka tidak lagi perlu lagi datang berbondong-bondong. Kadang-kadang demo ya," terangnya.

Kehadiran digitalisasi bansos ini diklaimnya tidak bisa dimanipulasi karena menggunakan data gabungan dari Kementerian Sosial, Data Perbankkan, PLN, Data dari ATR BPN, Korlantas, BPJS, dan lainnya.

3. Tiga kabupaten di Bali meraih capaian tertinggi secara nasional

Uji coba digitalisasi bansos di Kuta (IDN Times/Ayu Afria)

Direktur Jenderal Teknologi Pemerintah Digital, Mira Tayyiba, mengatakan Bali sebagai provinsi pertama yang melibatkan seluruh wilayahnya dalam pelaksanaan uji coba digitalisasi bansos dengan melakukan pendaftaran di portal Perlinsos.

Sehingga warganya merasakan manfaat digitalisasi bantuan sosial. Menurutnya, hingga minggu pertama bulan Oktober, sudah sebanyak 652.858 kepala keluarga atau 50,52 persen dari seluruh kepala keluarga yang tercatat di Bali telah mendaftarkan diri melalui portal Perlinsos.

"Hal ini menjadikan Bali menjadi salah satu provinsi dengan cakupan kepala keluarga terdaftar yang tertinggi secara nasional. Tiga wilayah dengan jumlah pendaftaran tertinggi di Provinsi Bali adalah Kabupaten Buleleng, Kabupaten Karangasem, dan Kabupaten Badung," jelasnya.

Selain itu, sekitar 80,88 persen warga Bali dapat memanfaatkan layanan internet. Sebanyak 93,35 persen kepala keluarga yang terdaftar melalui portal Perlinsos merupakan hasil dari pendampingan agen Perlinsos.

Sebanyak 12.187 agen aktif turut berperan dalam proses ini, yang ia ungkap menunjukkan bahwa keberhasilan digitalisasi tidak cukup hanya mengandalkan teknologi, tapi juga membutuhkan kehadiran dan pendampingan langsung kepada warga.

Curated For You

Editorial Team

Related Article