8 Istilah Bahasa Bali untuk Mengungkapkan Rugi

- Dalam Bahasa Bali, rasa rugi disebut pocol dan dapat menggambarkan kehilangan uang, waktu, tenaga, atau kesempatan tanpa hasil sepadan.
- Artikel merangkum delapan ungkapan, termasuk sing maan lud, ngutaang uyah ke pasih, gae memocol, sing mebati, serta ngajang yeh anggon guungan.
- Ungkapan tersebut dipakai untuk situasi seperti kerja tanpa hasil, usaha dagang tanpa untung, barang tak berguna, hingga pekerja pariwisata yang tidak mendapat komisi.
Kamu pasti pernah mengalami kondisi sudah usaha sekuat tenaga, tetapi berakhir gagal? Nah, itu namanya rugi. Secara umum, rugi adalah kondisi di mana kita kehilangan sesuatu, entah itu uang, waktu, tenaga, atau kesempatan tanpa mendapat hasil yang sepadan. Rasanya pasti bikin kecewa, apalagi kalau udah kerja keras tapi hasilnya nihil atau malah tekor.
Ternyata, orang Bali punya cara unik buat ngungkapin rasa rugi atau dalam Bahasa Bali disebut pocol ini. Ada banyak istilah dan ungkapan khas yang sering dipakai sehari-hari, mulai dari yang artinya rugi total sampai yang cuma nyindir usaha sia-sia. Penasaran apa aja ungkapannya? Yuk, cek daftarnya di bawah ini!
1. Sing maan lud atau sing maan apa

Ilustrasi talenan. (Pixabay.com/monicore) Lud dalam Bahasa Bali memiliki arti kotoran talenan. Jika diterjemahkan, sing maan lud memiliki arti tidak dapat kotoran talenan. Ungkapan ini untuk mengutarakan rasa kecewa karena tidak mendapatkan sesuatu dalam pekerjaan atau kegiatan.
Sing maan lud juga memiliki arti yang sama dengan sing maan apa (tidak dapat apa-apa). Contoh dalam kalimat adalah bangun semengan milu sangkep ajak bos investor, mulihne sing maan lud. Artinya adalah bangun pagi ikut rapat dengan bos investor, pulangnya tidak dapat apa-apa.
2. Sing nekaang kikid atau kidkid

ilustrasi kegiatan seminar (unsplash.com/Redd) Kikid atau kidkid adalah lap untuk membersihkan anus selesai buang air besar. Sing nekaang kikid jika diterjemahkan memiliki arti tidak mendatangkan lap untuk membersihkan anus. Makna dari ungkapan ini adalah kekecewaan atas kondisi tertentu karena rugi.
Contoh dalam kalimat adalah gae sing nekaang kikidne, pragat orahine milu seminar. Artinya adalah kerjaan yang tidak mendatangkan hasil ini, terus disuruh ikut seminar.
3. Ngutaang uyah ke pasih

Ilustrasi garam. (Unsplash.com/Pavel Neznanov) Ngutang uyah ke pasih arti terjemahannya adalah membuang garam ke laut. Peribahasa ini memiliki makna rugi seperti halnya membuang garam ke laut yang sudah asin. Contoh dalam kalimat adalah nulungin anak sugih buka ngutang uyah ke pasih. Artinya adalah menolong orang yang kaya seperti membuang garam ke laut (rugi).
4. Gae memocol

Ilustrasi membuat rumah. (unsplash.com/Randy Fath) Gae memocol artinya pekerjaan yang tidak mendatangkan hasil atau rugi. Contoh dalam kalimat adalah Wayan nyemak gae memocol menahin umahne Gede, payu telah pipisne meli bahan bangunan. Artinya adalah Wayan mengambil pekerjaan yang tidak mendatangkan hasil, jadi uangnya habis duluan sebelum membeli bahan bangunan.
5. Sing mebati

Situasi di pasar tradisional Candi Kuning, Bedugul. (youtube.com/Gusti Bali) Sing mebati artinya adalah tidak ada keuntungan. Ungkapan ini biasanya digunakan untuk orang yang melakukan aktivitas jual beli atau berdagang. Contoh dalam kalimat adalah kapok ngadep tabia sing mebati, liunan berek. Artinya adalah kapok menjual cabai, tidak ada untungnya, dan lebih banyak yang busuk.
6. Ngajang yeh anggon guungan

Ilustrasi keranjang bambu. (Pixabay.com/joeclub_ake) Ngajang yeh anggon guungan memiliki arti mengangkut air dengan keranjang. Arti dari ungkapan ini adalah rugi atau kegiatan yang tidak ada hasilnya seperti halnya mengangkut air menggunakan keranjang, air akan selalu jatuh dari lubang keranjang.
Contoh dalam kalimat adalah pipise pragat telah di tajen buka ngajang yeh anggon guungan. Artinya dalah uang selalu habis di sabung ayam, seperti pepatah mengangkut air dengan keranjang.
7. Sing dadi anggon apa atau gena

Pisau yang sedang diasah. (Pixabay.com/jasongillman) Sing dadi anggon apa atau gena artinya tidak bisa digunakan atau tidak berguna. Biasanya digunakan saat membeli suatu alat dan terkadang juga digunakan untuk orang atau anak yang selalu bikin masalah di rumah.
Contoh dalam kalimat adalah mara meli tiuk di peken beringkit, jeg sing dadi anggon apa, puntul sajaan. Artinya adalah baru beli pisau di pasar beringkit, tidak bisa dipakai, tumpul sekali. Contoh lainnya adalah ngelah panak peragat ngae masalah dogen di desa, sing dadi anggon gena. Artinya adalah punya anak selalu bikin masalah saja di desa, tidak berguna.
8. Sing maan susuk

Ilustrasi liburan di Bali. (unsplash.com/arty) Sing maan susuk artinya tidak dapat kembalian. Ungkapan ini biasanya digunakan oleh para pekerja pariwisata yang mengantarkan tamu berbelanja atau berwisata tidak mendapatkan komisi dari tempat yang dituju.
Contoh dalam kalimat adalah beh, pocol ngateh tamu meblanja ke artshop di Ubud, sing maan susuk uli ne ngelah artshop. Artinya adalah rugi mengantar tamu belanja ke artshop di Ubud, tidak dikasih komisi sama pemilik artshop.
Nah, itu dia beberapa ungkapan Bahasa Bali yang bisa kamu pakai buat mengungkapkan rasa rugi atau pocol dengan gaya lokal Bali. Selain menambah kosakata, mengenal ungkapan ini juga untuk belajar sekaligus melestarikan Bahasa Bali. Kamu boleh coba untuk menggunakannya saat kamu merasa rugi.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)




















