Badung, IDN Times — Bali dikenal sebagai surga bagi para digital nomad, pekerja jarak jauh, dan wisatawan jangka panjang. Daya tarik utamanya menikmati matahari terbenam di pantai, bekerja dari kafe estetis, dan tinggal di lingkungan tropis.
Namun di balik estetika kehidupan nomaden tersebut, tersimpan tantangan mental yang kerap luput dari perhatian.
Psikolog Klinis Bali Bersama Bisa, Ni Luh Putu Diah Putri Rahayu, mengungkapkan bahwa fenomena nomad stress menjadi isu psikologis yang nyata dan patut diwaspadai di Bali.
Di tengah gaya hidup Bali yang dinamis dan serba cepat, penting belajar membedakan antara hidup yang aktif dengan hidup yang terus-menerus terburu-buru. Kestabilan psikologis justru sering kali dibangun dari hal-hal sederhana dan konsisten.
"Kesehatan mental bukanlah tentang bagaimana seseorang bisa terus bergerak cepat, melainkan bagaimana tetap bisa berjalan tanpa kehilangan diri sendiri," ungkapnya pada Jumat lalu, 2 Oktober 2026.
