Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

4 Fakta Tari Baris Goak, Jejak Perang Gagak yang Dijaga Desa Selulung

Kab. Bangli
4 min read
4 Fakta Tari Baris Goak, Jejak Perang Gagak yang Dijaga Desa Selulung
Pertunjukan Tari Baris Goak di Desa Selulung. (YouTubel.com/Gede Partha Wijaya)
  • Tari Baris Goak, tarian sakral Desa Selulung, Bangli, berakar dari legenda Ki Mangku Pucang yang menaklukkan gerombolan gagak dengan pecut Siwa Pasupati.
  • Tarian ini menyimbolkan pertarungan kebaikan dan kejahatan, keberanian, kepemimpinan, serta welas asih; sekaligus mempererat ikatan sosial warga Desa Selulung.
  • Dipentaskan di tiga pura oleh 16 penari pria dan dua tokoh utama, Tari Baris Goak dilestarikan generasi muda serta tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda Bali.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Tari baris menurut Babad Bali merupakan tarian pasukan perang. Tari baris ini terdapat di beberapa daerah Bali dengan ciri khasnya masing-masing. Satu di antara tari baris yang disakralkan adalah Tari Baris Goak.

Tarian ini berasal dari Desa Selulung, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Seperti diketahui, desa ini merupakan desa Bali Aga atau desa asli Bali. yang notabene adalah desa Bali Aga alias desa yang masih memegang teguh adat leluhur banget.

Penasaran seperti apa Tari Baris Goak ini? Yuk, langsung aja cek empat fakta menariknya di bawah ini yang dikutip dari sebuah jurnal berjudul Baris Goak, Tarian Sakral Desa Selulung, Kintamani!

  1. 1. Lahir dari legenda perang melawan gerombolan gagak jahat

    Pertunjukan Tari Baris Goak di Desa Selulung.
    Pertunjukan Tari Baris Goak di Desa Selulung. (YouTubel.com/Gede Partha Wijaya)

    Jadi ceritanya, dulu ada tokoh bernama Ki Mangku Pucang, pemuka adat Desa Selulung yang terkenal dermawan dan bijaksana. Saat lagi membajak sawah, sapinya tiba-tiba tidak mau jalan. Dari situ muncul dua sosok misterius utusan Guru Gede Batur yang meminta Ki Mangku Pucang. Saat tiba di Besakih, kedua utusan tadi menjelma menjadi Bhatara Siwa dan Bhatari Uma.

    Singkat cerita, Ki Mangku Pucang mendapatkan tugas pergi ke Tegal Badeng untuk mengalahkan gerombolan burung gagak yang sedang menyerbu kerajaan di sana. Bhatara Siwa pun membekalinya dengan senjata sakti bernama pecut Siwa Pasupati. Berkat kesaktian pecut ini, Ki Mangku Pucang berhasil menaklukkan gerombolan gagak yang dipimpin oleh sang gagak putih tersebut.

    Ia juga mengubah nama kerajaan itu jadi Kerajaan Pemecutan. Kisah heroik inilah yang menjadi cikal bakal konsep Tari Baris Goak, yang  diperkirakan sudah ada sejak masa Kerajaan Gelgel pada abad ke-16.

  2. 2. Sarat makna filosofis, bukan cuma soal gerakan yang penuh wibawa

    Pertunjukan Tari Baris Goak di Desa Selulung.
    Pertunjukan Tari Baris Goak di Desa Selulung. (YouTubel.com/Gede Partha Wijaya)

    Tidak hanya soal cerita heroik, Tari Baris Goak juga sarat filosofi kehidupan yang cocok untuk generasi muda. Tarian ini menggambarkan pertarungan antara kebaikan melawan kejahatan, keberanian, sampai kekuatan sebuah kepemimpinan. Yang paling menyentuh adalah di bagian akhir cerita, saat Ki Mangku Pucang justru tidak membunuh gerombolan gagak walau sudah menang.

    Dia justru membiarkan mereka pulang ke asalnya dengan syarat berjanji tidak lagi mengganggu manusia. Pesan moralnya dari kisah ini adalah sekuat apa pun kita, rasa welas asih itu harus tetap dijunjung tinggi. Tarian ini juga berfungsi sebagai perekat sosial, mempererat ikatan kekeluargaan antar warga Desa Selulung sampai sekarang.

  3. 3. Punya tiga babak pertunjukan dengan teriakan khas

    Pertunjukan Tari Baris Goak di Desa Selulung.
    Pertunjukan Tari Baris Goak di Desa Selulung. (YouTubel.com/Gede Partha Wijaya)

    Tari Baris Goak ini tidak dipentaskan sembarangan. Karena sifatnya sakral dan cuma dipentaskan di tiga pura yaitu Pura Dalem Purwa, Pura Puncak Bukit Penulisan, dan Pura Dalem Selulung. Tari Baris Goal terdiri dari 16 penari pria ditambah dua tokoh utama  yaitu Ki Mangku Pucang dan si Pedagang.

    Penari dipilih oleh pemangku atau pendeta pura dan harus melalui proses upacara pembersihan diri sebelum menarikan tarian sakral ini. Pertunjukannya dibagi menjadi tiga babak yaitu:

    • Babak pertama (Baris Gede): penari membawa tombak yang sudah disucikan sambil meneriakkan "puhh haaiyeee", seruan yang biasa dipakai warga setempat buat mengusir binatang sekaligus roh jahat.
    • Babak kedua (Tari Goak): penari menari membentuk formasi lingkaran sambil berteriak "aaakkk", melambangkan kehadiran gerombolan burung gagak. Mereka juga memainkan selendang hitam panjang yang jadi simbol sayap si gagak.
    • Babak ketiga: penari kembali menarikan Baris Gede dengan tombak, menandakan sifat jahat si gagak sudah berhasil dinetralisir jadi lebih baik.

    Pemangku pura dan tokoh Ki Mangku Pucang kemudian menghaturkan segehan agung panca warna (lima warna) dengan ayam hitam atau siap selem. Prosesi ini memiliki makna untuk menetralisir bhuta kala atau kekuatan negatif agar tidak mengganggu warga desa. Setelah prosesi menari selesai di jaba tengah, penari kembali masuk ke area Utama Mandala Pura.

  4. 4. Generasi muda Desa Selulung melestarikan tari sakral ini

    Pertunjukan Tari Baris Goak di Desa Selulung.
    Pertunjukan Tari Baris Goak di Desa Selulung. (YouTubel.com/Gede Partha Wijaya)

    Di tengah gempuran modernisasi, warga Desa Adat Selulung ternyata tetap me;estarikan Tari Baris Goak. Beberapa langkah nyata yang mereka lakukan antara lain:

    • Mendirikan pasraman khusus buat melatih generasi muda mengenal dan mencintai Tari Baris Goak sejak dini.
    • Membentuk sekaha atau perkumpulan penari yang dinaungi langsung oleh krama desa.
    • Rutin latihan setiap sebulan sekali, tepatnya tiap Anggara Kasih (Selasa Kliwon), buat mempererat kekompakan antarpenari.
    • Aktif menyosialisasikan tarian ini ke warga desa di setiap upacara adat yang berlangsung.

    Berkat usaha-usaha ini, Tari Baris Goak tetap lestari dan jadi bagian penting dari identitas Desa Selulung sampai hari ini. Tari Baris Goak tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) yang berasal dari Bali.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More