Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Strategi Mengurangi Prasangka Implisit, Demi Inklusi
ilustrasi kerja (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Apakah kamu pernah merasa tidak nyaman, canggung, atau bahkan marah ketika berhadapan dengan orang atau kelompok yang berbeda dari kamu? Apakah kamu pernah membuat asumsi atau penilaian yang tidak adil terhadap orang lain hanya berdasarkan penampilan, identitas, atau latar belakang mereka? Jika ya, maka kamu mungkin memiliki prasangka implisit.

Prasangka implisit adalah sikap atau stereotip, yang tidak disadari dan tidak disengaja, memengaruhi perilaku kita terhadap orang atau kelompok lain. Prasangka implisit dapat berdampak negatif pada keragaman dan inklusi di tempat kerja, pendidikan, kesehatan, dan kehidupan sosial.

Makanya penting banget untuk mengenali, mengurangi prasangka implisit demi menciptakan lingkungan yang lebih adil dan menghargai perbedaan. Berikut adalah lima strategi yang dapat kamu lakukan untuk mengurangi prasangka implisit dan meningkatkan keragaman.

1. Sadari dan akui prasangka implisit yang kamu miliki

ilustrasi kerja (pexels.com/Mikhail Nilov)

Langkah pertama adalah menyadari dan mengakui bahwa kita semua memiliki prasangka implisit yang dipengaruhi oleh latar belakang, pengalaman, budaya, dan media yang kita konsumsi. Kamu dapat menguji prasangka implisitmu menggunakan tes online seperti Implicit Association Test yang dikembangkan oleh para peneliti di Universitas Harvard, Universitas Virginia, dan Universitas Washington.

Tes ini dapat mengukur asosiasi otomatis yang kamu miliki antara berbagai konsep dan atribut, seperti ras, gender, usia, agama, dan lainnya. Dengan mengetahui hal ini, kamu jadi lebih sadar akan bagaimana prasangka tersebut dapat memengaruhi keputusan dan perilakumu terhadap orang lain.

2. Pelajari dan pahami perspektif dan pengalaman orang lain

ilustrasi prasangka (pexels.com/Mikhail Nilov)

Strategi kedua untuk mengurangi prasangka implisit adalah belajar dan memahami perspektif dan pengalaman orang lain yang berbeda dari kamu. Kamu dapat melakukannya dengan membaca buku, menonton film, mendengarkan podcast, atau mengikuti kursus online yang membahas tentang isu-isu keragaman dan inklusi, seperti rasisme, seksisme, homofobia, transfobia, ableisme, dan lainnya.

Kamu juga dapat berinteraksi dan berdialog bersama orang-orang yang berbeda dari kamu dalam hal identitas, budaya, agama, atau pandangan politik, dan mendengarkan cerita, tantangan, beserta harapan mereka dengan empati dan rasa hormat. Dengan belajar maupun memahami pengalaman orang lain, kamu dapat memperluas wawasan, kesadaran tentang realitas, dan keberagaman yang ada di dunia.

3. Ubah lingkungan dan sistem yang mendukung prasangka implisit

ilustrasi marah (pexels.com/Karolina Grabowska)

Strategi ketiga adalah mengubah lingkungan dan sistem yang mendukung prasangka implisit. Prasangka implisit sering kali termanifestasi dalam bentuk diskriminasi, ketidakadilan, dan ketimpangan yang ada di berbagai bidang, seperti perekrutan, promosi, penilaian, pendidikan, kesehatan, dan kebijakan publik. Untuk mengubah lingkungan dan sistem ini, kamu dapat melakukan beberapa hal, seperti:

  • Menghapus detail pribadi seperti gender dan usia di CV
  • Merancang proses rekrutmen yang memastikan pewawancara menggunakan matriks dan memberikan penilaian sebelum diskusi kelompok
  • Merancang pertemuan yang inklusif
  • Menetapkan target dan indikator yang dapat diukur untuk meningkatkan keragaman dan inklusi di organisasi kamu
  • Menyertakan orang-orang yang beragam dalam pengambilan keputusan dan pembuatan kebijakan
  • Mengadvokasi, mendukung inisiatif maupun gerakan yang mempromosikan hak serta kesetaraan bagi kelompok minoritas dan marginal.

4. Kurangi bias implisit pada tingkat individu

ilustrasi politisi (pexels.com/Werner Pfennig)

Strategi keempat adalah mengurangi bias implisit pada tingkat individu. Prasangka implisit dapat diubah dan dikurangi dengan melatih otak kita untuk membentuk asosiasi baru yang lebih positif dan akurat terhadap orang atau kelompok lain. Untuk melakukan ini, kamu dapat melakukan beberapa hal, seperti:

  • Mengekspos diri kamu kepada orang-orang, gambar, media, informasi yang menantang stereotip, dan prasangka yang kamu miliki
  • Menggunakan bahasa dan istilah yang netral, inklusif, dan menghormati identitas dan preferensi orang lain
  • Mengoreksi dan menantang prasangka implisit yang kamu atau orang lain ungkapkan, baik secara verbal maupun nonverbal
  • Mengembangkan keterampilan kognitif dan emosional yang dapat membantu kamu mengelola dan mengatasi prasangka implisit, seperti berpikir kritis, bersikap terbuka, berempati, dan mengatur emosi.

5. Beralih dari pelatihan keragaman ke pelatihan pengembangan kepemimpinan

ilustrasi berbincang (pexels.com/lexander Suhorucov)

Strategi kelima untuk mengurangi prasangka implisit adalah beralih dari pelatihan keragaman ke pelatihan pengembangan kepemimpinan. Pelatihan keragaman termasuk cara yang sering digunakan oleh organisasi untuk meningkatkan kesadaran, dan pengetahuan karyawan tentang isu-isu keragaman dan inklusi.

Namun, pelatihan keragaman sering kali tidak efektif. Bahkan dapat menimbulkan efek yang berlawanan, seperti meningkatkan perlawanan, rasa bersalah, dan ketakutan. Oleh karena itu, lebih baik untuk beralih dari pelatihan keragaman ke pelatihan pengembangan kepemimpinan, yang dapat membantu karyawan mengembangkan keterampilan dan kompetensi yang diperlukan untuk menjadi pemimpin yang inklusif, seperti berpikir sistemik, berkolaborasi lintas budaya, beradaptasi dengan perubahan, serta menginspirasi orang lain.

Prasangka implisit adalah fenomena psikologis yang dapat berdampak negatif pada keragaman dan inklusi di berbagai bidang. Dengan menerapkan strategi-strategi ini, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih adil, menghargai perbedaan, mendorong pertumbuhan dan kesejahteraan bersama.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team