Comscore Tracker

Sebagai Manusia, Kami Mau Insentif Lancar

Tuntutan profesi di tengah insentif yang tidak lancar

Tabanan, IDN Times - Terhitung sudah lebih dari setahun tenaga kesehatan (Nakes) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tabanan berjuang merawat pasien COVID-19 bergejala sedang hingga berat. Selama itu pula perawat di ruang isolasi COVID-19 juga berusaha agar tidak sampai tertular, apalagi membawa virusnya ke lingkungan keluarga.

Berikut ini pengalaman dua perawat pasien COVID-19 di ruang Intensive Care Unit (ICU) isolasi RSUD Tabanan.

Baca Juga: Nakes di Tabanan Bali Belum Terima Insentif Selama Enam Bulan

1. Sebagai perawat, harus tetap bekerja secara profesional dan tidak boleh terus hanyut jika ada perasaan sedih

Sebagai Manusia, Kami Mau Insentif LancarIlustrasi ruang isolasi pasien COVID-19. (IDN Times/Wira Sanjiwani)

Wayan Adiyasa (31) adalah seorang perawat di ruang ICU isolasi COVID-19, Gedung Cempaka RSUD Tabanan. Ia mulai bekerja di RSUD Tabanan pada awal Maret 2020.

"Saya memang diterima khusus untuk menjadi perawat di ruang ICU isolasi COVID-19. Dulu namanya ruang isolasi 1," ujarnya ketika diwawancara IDN Times, Kamis (18/3/2021).

Adiyasa mengaku cemas ketika ditugaskan sebagai perawat pasien COVID-19 untuk pertama kalinya. Tetapi ia tetap bersyukur. Selama bertugas, alat pelindung diri (APD) selalu tersedia dan tidak sampai kekurangan.

"Cemas ada untuk diri sendiri dan keluarga. Tetapi seiring waktu kecemasan itu bisa ditangani dengan selalu belajar bagaimana menangani pasien COVID-19 dan langkah pencegahan untuk tidak tertular."

Selama setahun merawat pasien COVID-19 di ruang ICU isolasi, Adiyasa dihadapkan pada emosional yang tinggi. Mulai dari rasa syukur ketika pasien yang ia rawat sembuh, sampai yang tidak tertolong.

"Ada rasa gembira jika pasien sembuh dan ikut sedih jika melihat pasien meninggal dan keluarga bersedih. Tetapi sebagai perawat, kita harus tetap bekerja secara profesional dan tidak boleh terus hanyut jika ada perasaan sedih," jelasnya.

Baca Juga: Tabanan Tetap Karantina OTG dan Gejala Ringan di Hotel

2. Tidak pulang ke rumah apabila ada gejala flu atau demam

Sebagai Manusia, Kami Mau Insentif LancarIlustrasi seorang pasien COVID-19. ANTARA FOTO/REUTERS/Marko Djurica

Adiyasa berusaha disiplin memakai APD secara ketat. Selama berjibaku dengan COVID-19, ia tidak pernah terpapar.

"Belum pernah terpapar. Untuk melindungi keluarga, saya juga terapkan protokol kesehatan secara ketat. Selalu bersih-bersih dan mandi sebelum masuk rumah dan berinteraksi dengan keluarga. Kalau saya flu atau ada gejala demam tidak pulang ke rumah. Tetapi tidur di rumah singgah yang disiapkan. Astungkara (Sebutan rasa syukur dalam Hindu Bali) sampai sekarang tidak ada yang positif COVID-19."

Baca Juga: Bupati Tabanan Punya Ide Kos-kosan Jadi Tempat Isolasi OTG, Gimana?

3. Arumbawa pernah menghadapi pasien COVID-19 yang mengamuk

Sebagai Manusia, Kami Mau Insentif LancarAPD Level Tiga di RSUD Tabanan. (Dok.IDN Times/RSUD Tabanan)

Selain Adiyasa, perawat lain yang bertugas di ruang ICU isolasi COVID-19 adalah Wayan Arumbawa (37). Ketika awal-awal pandemik, ia masih ditugaskan di poliklinik penyakit dalam RSUD Tabanan. Lalu pada 12 Maret 2020, ia ditugaskan selama 10 hari untuk merawat pasien COVID-19.

"Sempat rehat sebentar. Pada April 2020 saya ditugaskan ke UPTD (Unit Pelaksana Teknis Daerah) RS Nyitdah selama enam bulan menjadi koordinator untuk merawat pasien COVID-19 di sana dan kemudian kembali betugas di ruangan ICU isolasi COVID-19," paparnya.

Ada satu pengalaman yang membuat dia tidak dapat melupakannya:

"Seperti pasien mengamuk di ruang isolasi. Padahal baru saja kita lakukan tindakan dan saya sudah bersih-bersih. Akhirnya masuk lagi memakai APD untuk menenangkan pasien dan saat selesai, kembali mandi dan bebersih lagi."

Baca Juga: Vaksinasi di Tabanan Bali Ditargetkan Selesai dalam Waktu Satu Tahun

4. APD bikin sesak dan tidak leluasa

Sebagai Manusia, Kami Mau Insentif LancarSatgas COVID-19 Tabanan melakukan pemeriksaan swab ke jajaran kepolisian di wilayah hukum Kabupaten Tabanan. (Dok.IDN Times/Humas Polres Tabanan)

Karena masih muda, Arumbawa mengaku ingin tahu lebih jauh tentang penyakit ini. Apalagi semenjak ditugaskan untuk merawat pasien COVID-19. Rasa penasaran itu membuat ia yakin, bahwa selama memakai APD sesuai Standard Operating Procedure (SOP), maka tidak akan tertular COVID-19. Sampai sekarang Arumbawa belum pernah terpapar.

"Saya masih muda, jadi saat bertugas menangani pasien COVID-19 lebih ingin tahu mengenai penyakit ini," terangnya.

APD membuat dia terasa panas dan tidak leluasa. Namun semakin lama, ia mulai terbiasa. Meski demikian, harapannya adalah COVID-19 akan hilang dan ia bisa kembali bekerja seperti biasanya tanpa memakai APD lengkap seperti sekarang.

5. Insentif sepenuhnya tidak diterima secara lancar setiap bulan

Sebagai Manusia, Kami Mau Insentif LancarRSUD Tabanan. (IDN Times/Wira Sanjiwani)

Beberapa masyarakat ada yang berpikir, bahwa menjadi nakes pasien COVID-19 sangat terjamin karena mendapatkan insentif dari pemerintah. Tetapi kenyataannya, insentif yang dijanjikan tidak sepenuhnya diterima lancar setiap bulan. Bahkan insentif yang menjadi hak Adiyasa dan Arumbawa belum terbayarkan sejak bulan September 2020.

"Sebagai manusia tentunya kami mau insentif ini lancar. Tetapi sebagai tanggung jawab profesi kami, hal tersebut tidak menurunkan kinerja kami," jelas Adiyasa.

Arumbawa sendiri berharap, dengan adanya vaksinasi dapat menekan kasus dan menghilangkan COVID-19 sehingga kehidupan bisa kembali normal.

"Jadi saya bertugas tidak perlu memakai APD lengkap seperti saat ini."

Baca Juga: 7 Doa Agama Hindu Supaya Mendapatkan Kedamaian Hidup

Topic:

  • Irma Yudistirani

Berita Terkini Lainnya