Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tips Main Kano di Kawasan Mangrove Ekowisata Batu Lumbang Denpasar
Ekowisata Mangrove Batu Lumbang di Pemogan(IDN Times/Ayu Afria)
  • Ekowisata Mangrove Batu Lumbang di Pemogan, Denpasar menawarkan pengalaman berkeliling hutan mangrove dengan kano murah meriah, lengkap dengan pemandangan Patung Garuda Wisnu Kencana dan Jalan Tol Bali Mandara.
  • Pengunjung cukup membayar Rp35 ribu per kano untuk dua orang, sudah termasuk life jacket dan kartu pengunjung, serta disarankan membawa pakaian ganti dan tas antiair demi kenyamanan.
  • Meskipun indah dan ramai dikunjungi, kawasan ini menghadapi masalah sampah serius; pengelola bersama komunitas lingkungan terus berupaya menjaga kebersihan agar ekowisata tetap lestari.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Kegiatan ekowisata di kawasan Hutan Mangrove Batu Lumbang, Pemogan, Denpasar, yang menawarkan wisata kano sekaligus upaya menjaga lingkungan dari permasalahan sampah.
  • Who?
    I Made Wijaya selaku Ketua Pokmaswas Mina Werdhi Batu Lumbang bersama 18 petugas kebersihan dan para pengunjung yang menikmati wisata kano serta memancing di kawasan tersebut.
  • Where?
    Ekowisata Mangrove Batu Lumbang berlokasi di ujung Jalan Tanah Kilap, berdampingan dengan Bendungan Muara Tukad Badung, wilayah Pemogan, Kota Denpasar, Bali.
  • When?
    Kegiatan berlangsung setiap hari dengan puncak kunjungan pada akhir pekan. Pernyataan terakhir disampaikan I Made Wijaya pada Minggu, 26 April 2026.
  • Why?
    Ekowisata ini dikembangkan untuk mengenalkan keindahan Hutan Mangrove sekaligus menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan dari sampah yang mengancam ekosistem mangrove.
  • How?
    Pengunjung menyewa kano seharga Rp35 ribu per unit untuk dua orang hingga pukul 18.30 Wita. Petugas memberikan panduan keselamatan dan turut membersihkan sampah bersama komunitas peduli lingkungan setiap hari.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Denpasar, IDN Times - Kawasan Mangrove dan fungsinya mungkin sudah tidak asing lagi di telinga warga Bali. Namun, sudahkah kamu meluangkan waktu untuk mengitari rimbunnya Hutan Mangrove? Jika belum, IDN Times sarankan untuk mengunjungi Ekowisata Mangrove Batu Lumbang yang berada di Pemogan, Kota Denpasar.

Dari titik ini, kamu bisa menikmati petualangan melihat Hutan Mangrove menggunakan kano yang ramah di kantong. Pemandangan alamnya ciamik, bahkan kamu bisa melihat ruas jalan tol dan kemegahan Patung Garuda Wisnu kencana dari jauh.

Menurut Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Mina Werdhi Batu Lumbang, I Made Wijaya (53), ekowisata ini baru berdiri tiga tahun lalu, dan biasanya ramai setiap weekend. Sebanyak 110 unit kano lebih selalu habis diserbu pengunjung, terutama pemancing.

"Tiap hari Minggu, artinya hari libur itu banyak. Hari biasa itu pemancing paling banyak," ungkapnya, Minggu (26/4/2026).

Harga tiketnya di bawah Rp50 ribu per kano, puas dimanjakan oleh alam

Ekowisata Mangrove Batu Lumbang di Pemogan(IDN Times/Ayu Afria)

Mungkin kamu ragu-ragu ke ekowisata ini, karena letaknya di ujung Jalan Tanah Kilap, berdampingan dengan ujung Bendungan Muara Tukad Badung. Kamu hanya membayar Rp35 ribu per kano untuk menikmati kawasan tersebut hingga pukul 18.30 Wita. Harga tersebut sudah termasuk fasilitas life jacket dan kartu pengunjung. 

Satu kano bisa digunakan oleh dua orang penumpang. Ada trik khusus yang harus dipahami pemula bagaimana menumpangi kano dan menikmati kawasan tersebut.

  • Saat di meja registrasi, kamu dimintai untuk menyerahkan identitas KTP, domisili, dan nomor handphone. Setelah itu, lakukan pembayaran, dan kamu akan mendapatkan kartu pengunjung

  • Disarankan agar membawa pakaian ganti dan tas antiair untuk melindungi barang-barang yang akan dibawa ke atas kano. Tapi ada fasilitas locker yang bisa dimanfaatkan untuk menyimpan barang

  • Jangan lupa memakai life jacket dengan benar. Atur dulu posisi duduknya, setelah itu angkat kakimu ke atas papan kano. Proses ini akan dipandu dan diarahkan oleh petugas sembari memberikan dayung ke masing-masing penumpang kano

  • Akan lebih mudah jika kamu berangkat berdua naik satu kano. Karena butuh kekuatan dua orang untuk mendayung di area Jalan Tol Bali Mandara. Pelajari cara melajukan dan memundurkan kano

  • Tidak perlu buru-buru mengelilingi Mangrove. Dayung kano dengan santai, dan perhatikan petunjuk arah berupa bendera segitiga. Masing-masing bendera memiliki arti tersendiri. Tidak semua ruas jalan Mangrove karena buntu, dan biasanya ditandai dengan bendera merah. Jadi, disarankan untuk mengambil rute yang tidak melebihi batas aman (bendera kuning), dan prioritaskan penunjuk arah bendera hijau.

Keindahan Mangrove dan satwanya memikat hati

Ekowisata Mangrove Batu Lumbang di Pemogan(IDN Times/Ayu Afria)

Kamu bisa berhenti di beberapa titik saat mengitari Mangrove. Selain rimbunnya Mangrove dan ketenangan, kamu akan menjumpai berbagai jenis burung dan satwa. Ada yang bertengger dan terbang sendirian, ada juga yang berkelompok.

Selain itu, suara satwa terdengar lebih jelas seolah mengungkapkan keriangan mereka. Bagian yang paling asyik adalah menyahuti suara burung sembari kamu berteriak untuk melepaskan beban dalam pikiran.

Akar Pohon Mangrove juga estetik untuk dijadikan background foto. Sementara, di titik dekat jalan tol juga direkomendasikan untuk menikmati indahnya pemandangan perkotaan.

Hutan Mangrove menawarkan surga bagi para pemancing, dan penjala ikan. Mereka betah berjam-jam untuk memancing dari atas kano. Tak jarang mereka pulang membawa hasil berbagai jenis ikan, kepiting, dan sebagainya.

Kemalangan Hutan Mangrove di Bali, sentil perilaku buruk manusia

Ketua Pokmaswas Mina Werdhi Batu Lumbang, I Made Wijaya (IDN Times/Ayu Afria)

Terlepas dari keindahannya, mengelilingi Hutan Mangrove di wilayah Pemogan ini juga sekaligus menyentil perilaku hidup kita yang suka membuang sampah sembarangan. Kamu akan menjumpai banyak sampah yang tersangkut di antara akar Pohon Mangrove.

Made Wijaya mengatakan, ke depannya akan mengembangkan pariwisata yang ramah lingkungan di Ekowisata Batu Lumbung. Namun, ia tidak memungkiri sampah-sampahnya jadi kendala untuk mengembangkan ekowisata.

Sudah ada 18 orang petugas yang ia kerahkan untuk memungut sampah setiap hari, namun tak kunjung habis. Penanganan sampah ini juga bekerja sama dengan NGO atau komunitas peduli lingkungan.

"Kita di sini peduli dengan lingkungan juga. Peduli dengan lingkungan, kita juga mungut sampah. Masih juga sampahnya gak habis-habis gitu," terangnya.

Pihaknya berharap seluruh lapisan generasi lebih bertanggung jawab lagi untuk mengelola sampah, sehingga kawasan Mangrove pun terjaga. Baginya, memelihara Mangrove lebih sulit daripada sekadar menanam, karena tantangan sampah tidak ada habisnya serta mengancam pertumbuhan dan keselamatan Mangrove itu sendiri.

"Menikmati (Mangrove) sambil memungut sampah. Artinya kan juga kita peduli juga," katanya.

Editorial Team