Boris Kopitovic (merah) saat berebut bola dengan penjaga gawang Peris Solo (ungu). (Instagram.com/baliunitedfc)
Boris Kopitovic masih menjadi ujung tombak Bali United untuk mencetak gol. Sayangnya, penyerang tengah ini masih belum menunjukkan tajinya sebagai mesin pencetak gol Bali United. Ia tercatat baru mampu mencetak empat gol, dua di antaranya melalui titik penalti.
Apakah itu artinya Boris kurang berkualitas atau kurang beruntung? Jika melihat kualitas, pemain asal Montenegro ini pastinya tidak perlu diragukan lagi. Mantan top skor Liga Singapura ini memiliki tubuh yang ideal sebagai penyerang, kuat, gesit, dan larinya cepat. Karena hal ini, ia selalu mendapat pengawalan ketat pemain lawan. Gerakan tanpa bola Boris cukup efektif memberikan ruang kepada rekannya untuk masuk ke daerah pertahanan lawan.
Pada putaran pertama ini, selain karena mendapat pengawalan ketat, Boris juga terlihat kurang tenang dalam penyelesaian akhir. Beberapa kali gagal memanfaatkan peluang emas untuk menambah koleksi golnya. Seharusnya ia mampu mencatatkan koleksi gol yang jauh lebih baik lagi di putaran pertama ini.
Melempemnya Boris membuat para pendukung Bali United meminta pelatih Johnny Jansen untuk mencoba opsi memainkan penyerang muda Bali United, Jens Raven. Namun, pemain Garuda Muda ini masih belum padu untuk menjalankan strategi dari coach Johnny. Saat bermain, ia masih sering salah melakukan passing. Gerakan tanpa bolanya tidak sebaik Boris. Begitu juga dengan kekuatan dan kecepatan larinya masih di bawah Boris. Oleh karena itu, Boris masih menjadi opsi utama menjadi starter, sedangkan Jens menjadi pengganti Boris.
Idealnya, Bali United bisa menambah opsi satu pemain asing di lini depan. Pemain baru ini bisa menjadi opsi saat penyerang yang dimainkan mengalami kebuntuan dalam mencetak gol. Sosok pemain baru ini sebaiknya memiliki tinggi yang ideal untuk bola-bola atas, skill individu yang baik, serta didukung dengan kecepatan lari.