Jalannya pertandingan antara Bali United (putih) dan Persik Kediri (biru). (Instagram.com/baliunitedfc)
Permainan Bali United terlihat menurun dibandingkan enam laga terakhir saat putaran pertama Super League. Serdadu Tridatu seperti kembali ke setelan pabrik saat awal putaran pertama berlangsung. Lini belakang yang sudah terlihat padu tidak terlihat pada dua pertandingan awal putaran kedua.
Johnny Jansen kembali menggunakan garis pertahanan yang tinggi atau lebih maju ke depan. Padahal, Kadek Arel dan Joao Ferrari tidak memiliki kecepatan lari yang cukup memadai. Hal ini membuat mereka selalu kalah saat lawan memiliki penyerang cepat melakukan serangan balik. Terbukti dalam dua pertandingan, gol-gol lawan sebagian besar berasal dari serangan cepat. Enam gol tercipta dalam dua pertandingan sudah cukup membuktikan keroposnya lini pertahanan Bali United.
Kadek Arel cukup tangguh untuk memutus serangan lawan. Sayangnya, pemain Garuda Muda ini sering memainkan bola di daerah pertahanannya. Kadek juga sering maju membantu serangan padahal sudah ada Tim Receveur, Kadek Agung, dan Jordy Bruijn di lini tengah. Saat ia maju, Kadek kerap terlambat kembali ke posisinya dan pemain lain sering terlambat mengisi posisi yang ditinggalkan oleh Kadek.
Jansen juga seperti selalu mencoba-coba skema dan strategi dalam setiap pertandingan. Pelatih asal Belanda ini seolah-olah belum menemukan formasi tim dan skema yang tepat. Saat permainan sudah terlihat bagus di akhir putaran pertama, Jansen kembali mengubah komposisi pemain. Dari garis pertahanan yang kembali lebih tinggi atau maju ke depan hingga Thijmen Goppel yang ditarik lebih ke belakang.
Dalam dua pertandingan terakhir, serangan melalui sisi sayap yang dihuni Goppel terlihat kurang maksimal karena posisinya lebih mundur ke belakang. Saat menghadapi Persik Kediri, strategi Jansen di babak kedua cukup berbeda dari sebelumnya. Ia memasang dua striker, Boris dan Jens Raven. Selain itu, ia juga memasukkan Rahmat Arjuna menggantikan Kadek Agung dan Diego Campos yang menggantikan Ferrari, sehingga Bali United seperti bermain dengan banyak pemain sayap di lini depan.
Tim Receveur yang biasanya menjadi jenderal lapangan tengah harus sedikit mundur untuk membantu Kadek di lini belakang. Skema ini membuat aliran bola tersendat, sehingga memaksa para pemain Serdadu Tridatu menggunakan bola-bola panjang. Pemain Persik Kediri juga dengan lebih leluasa melakukan serangan-serangan balik cepat. Beruntung, mereka belum berhasil mengonversi peluang tersebut sehingga gagal menambah gol bagi Persik Kediri.