Comscore Tracker

Sejarah Pura Mutering Jagat Dalem Sidakarya, Dulunya Dikutuk

Masyarakat Bali pasti minta air suci di sini

Penulis: Community Writer, Ari Budiadnyana

Pura Mutering Jagat Dalem Sidakarya termasuk pura yang penting di Bali. Pura Kahyangan Jagat ini merupakan tempat untuk nuur atau nunas tirta atau memohon air suci jika masyarakat melaksanakan upacara di tingkat madya, hingga utama atau besar.

Dalam Buku Babad Sidakarya yang disusun oleh I Nyoman Santun dan I Ketut Yadnya tahun 2003, menceritakan mengenai sejarah tentang keberadaan pura yang berlokasi di Jalan Dewata Nomor 16, Kelurahan Sidakarya, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar ini. Berikut ini sejarah Pura Mutering Jagat Dalem Sidakarya

Baca Juga: 5 Pura di Bali yang Dipercaya Untuk Membersihkan Ilmu Hitam

1. Berawal dari cerita Brahmana Keling dari Jawa Timur

Sejarah Pura Mutering Jagat Dalem Sidakarya, Dulunya DikutukTopeng Sidakarya sebagai simbol Brahmana Keling. (dok. pribadi/Ari Budiadnyana)

Mengutip dari Buku Babad Sidakarya, pada zaman dahulu terdapat seorang brahmana yang berasal dari Kerajaan Keling, Jawa Timur. Brahmana Keling ini memiliki hubungan keluarga dengan Raja Dalem Waturenggong yang memerintah di Gelgel, Kabupaten Klungkung.

Brahmana Keling adalah putra dari Dang Hyang Kayu Manis. Sedangkan Dang Hyang Kayumanis adalah saudara dari Raja Dalem Waturenggong.

Baca Juga: 9 Ciri-ciri Rumah Kena Ilmu Hitam Tanah Kuburan

2. Raja Dalem Waturenggong mengadakan upacara di Besakih

Sejarah Pura Mutering Jagat Dalem Sidakarya, Dulunya DikutukPura Mutering Jagat Dalem Sidakarya. (YouTube.com/Lanang Abima)

Brahmana Keling mendengar kabar kalau Raja Dalem Waturenggong akan mengadakan upacara Eka Dasa Rudra di Besakih, Kabupaten Karangasem. Upacara besar tersebut untuk memohon berkah dan kesejahteraan masyarakat di Bali. Selain itu, upacara ini untuk memohon berkah di bidang perkebunan, pertanian, dan sebagainya.

Brahmana Keling kemudian berangkat ke Bali untuk membantu pelaksanaan upacara yang dilakukan oleh saudaranya tersebut. Sesampai di Bali, ia langsung menuju ke lokasi upacara di Besakih dengan pakaian yang lusuh karena menempuh perjalanan panjang.

3. Brahmana Keling mengeluarkan kutukan

Sejarah Pura Mutering Jagat Dalem Sidakarya, Dulunya DikutukFoto hanya ilustrasi. (IDN Times/Mardya Shakti)

Sesampai di lokasi, Brahmana Keling bermaksud akan menjumpai saudaranya, Raja Dalem Waturenggong, untuk mengutarakan keinginannya membantu jalannya upacara tersebut. Namun masyarakat yang berada di sekitar lokasi tidak memercayainya, bahwa Brahmana Keling memiliki hubungan kekeluargaan dengan raja.

Brahmana Keling diusir dengan cara yang hina. Dengan perasaan jengkel dan sambil meninggalkan lokasi upacara, ia mengeluarkan kutukan (pastu) kepada Raja Dalem Waturenggong yang akan melakukan upacara.

Bunyi kutukan tersebut adalah:

Upacara yang dilaksanakan di Pura Besakih ini tan Sidakarya (tidak sukses) tanpa kehadirannya, bunga kekeringan, rakyat kegeringan (diserang wabah penyakit), sarwa gumatat gumitit (hama) membuat kehancuran (ngerebeda) di seluruh jagat (bumi) Bali.

Brahmana Keling lalu pergi ke arah barat daya yang disebut dengan Bandana Negara. Bandana berarti badeng, dan negara adalah wilayah. Wilayah ini sekarang dikenal dengan nama Badung. Ia kemudian memilih satu lokasi untuk membangun sebuah tempat peristirahatan.

4. Terjadi bencana karena kutukan Brahmana Keling

Sejarah Pura Mutering Jagat Dalem Sidakarya, Dulunya Dikutukilustrasi bencana (unsplash.com/Jeremy Bezanger)

Setelah kutukan dilontarkan, beberapa kejadian aneh muncul ketika persiapan upacara di Besakih. Banyak tanaman dan ternak masyarakat yang tiba-tiba mati. Selain itu, banyak wabah penyakit yang tidak jelas, hingga masyarakatnya meninggal dunia. Bencana ini otomatis membuat persiapan upacara menjadi kacau balau.

Para pendeta kerajaan dikerahkan untuk memohon kekuatan kepada para dewa agar bencana tersebut dihentikan. Namun usahanya tidak membuahkan hasil. Karena hal ini, raja melakukan semedi untuk mendapatkan petunjuk dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar menghentikan bencana.

Dari hasil semedi, ia baru mendapat petunjuk bahwa bencana ini terjadi karena kutukan Brahmana Keling. Sehingga yang hanya bisa menghentikan kutukannya adalah Brahmana Keling. Raja Dalem Waturenggong lalu mengutus patihnya untuk menemui Brahmana Keling dan mengajaknya ke Kerajaan Gelgel.

Raja meminta maaf atas perlakuan sebelumnya dan memohon Brahmana Keling untuk menghentikan kutukan. Dengan kesaktiannya, Brahmana Keling menghentikan seluruh bencana yang terjadi. Sehingga pelaksanaan upacara di Besakih berjalan lancar.

5. Raja menganugerahi gelar Dalem Sidakarya

Sejarah Pura Mutering Jagat Dalem Sidakarya, Dulunya DikutukTopeng Sidakarya sebagai simbol Brahmana Keling. (dok. pribadi/Ari Budiadnyana)

Karena keberhasilan tersebut dan mengetahui memang benar Brahmana Keling adalah saudaranya, Raja lalu menganugerahi gelar Dalem Sidakarya kepadanya. Dalem Sidakarya kemudian mohon izin untuk kembali ke tempat peristirahatan sebelumnya.

Pada tahun 1558 Masehi atau tahun Saka 1440, Raja Dalem Waturenggong memerintahkan I Gusti Tegeh Kori, yang merupakan Raja Badung, untuk mendirikan sebuah pura di lokasi peristirahatan Dalem Sidakarya. Pura ini pada awalnya bernama Pura Dalem Sidakarya.

Baca Juga: Makna Melukat, Ritual yang Pernah Dijalani Pevita Pearce

6. Asal mula dinamakan Pura Mutering Jagat Dalem Sidakarya

Sejarah Pura Mutering Jagat Dalem Sidakarya, Dulunya DikutukWarga bergotong-royong mempersiapkan upacara piodalan di Pura Mutering Jagat Dalem Sidakarya. (YouTube.com/Adi_Tombong Bali Chanel)

Proses pembangunannya menggunakan konsep yang berbeda, namun tetap menghormati konsep pura dari para pendahulu. Konsep yang berbeda tersebut dapat dilihat dari bangunan beberapa pelinggih sebagai simbol Sad Kahyangan, yaitu:

  • Pelinggih Pemayun Agung yaitu sebagai manifestasi / pengayatan ke Pura Besakih dan Gunung Agung
  • Pelinggih Manik Geni sebagai manifestasi atau pengayatan ke pura Lempuyang
  • Pelinggih Pemayun Toya sebagai manifestasi atau pengayatan ke Pura Batur
  • Pelinggih Pemayun Cakra sebagai manifestasi atau pengayatan ke Pura Batukaru
  • Pelinggih Pemayun Ngurah Agung sebagai manifestasi atau pengayatan ke Pura Uluwatu
  • Pelinggih Pemayun Putra sebagai manifestasi atau pengayatan ke Pura Sakenan.

Karena pemujaan Sad Kahyangan terpusat menjadi satu, maka pura ini kemudian diberi nama Pura Mutering Jagat Dalem Sidakarya. Mutering memiliki makna pusat, Jagat berarti alam atau dunia, sedangkan Dalem Sidakarya adalah gelar dari Brahmana Keling.

Untuk menghormati jasa Brahmana Keling, Raja Dalem Waturenggong mengeluarkan sabda bahwa setiap masyarakat yang akan menggelar upacara besar wajib nuur atau nunas tirta di pura ini, dan menggelar pementasan Tari Topeng Dalem Sidakarya agar upacara dapat berjalan lancar.

Piodalan di Pura Mutering Jagat Dalem Sidakarya jatuh pada hari Sabtu, Saniscara Kliwon Wuku Landep, atau bertepatan dengan Hari Tumpek Landep. Selama piodalan di pura ini, biasanya akan dipentaskan sebuah tari sakral bernama Tari Telek, yang diikuti dengan Ida Sesuhunan berwujud Barong dan Rangda mesolah napak pertiwi (Menari).

Topic:

  • Irma Yudistirani

Berita Terkini Lainnya