ilustrasi pemilu (IDN Times/Esti Suryani)
Ketika membaca Animal Farm, kita seharusnya merasa terganggu oleh perubahan masyarakat hewan yang awalnya bermoral menjadi korup dan tirani. Begitu pula, kita harus merasa terganggu oleh perubahan dalam politik di Indonesia yang seharusnya melayani masyarakat menjadi ajang kepentingan pribadi, ketidaksetaraan, dan manipulasi. Pemilihan presiden seharusnya, ketika kita memilih pemimpin yang akan mewakili nilai-nilai demokrasi, kesetaraan, dan keadilan. Namun untuk mencapai hal itu, kita perlu lebih kritis dalam memilih kandidat dan mengawasi tindakan mereka setelah terpilih.
Kita tidak ingin pemilihan presiden kita berakhir seperti pesta Animal Farm, di mana harapan kesetaraan berubah menjadi realitas ketidaksetaraan dan kekuasaan yang disalahgunakan. Sebagai pemilih, kita memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa politik kita tetap menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi sejati. Sebagai negara demokratis, kita harus belajar dari pelajaran yang diambil dari Animal Farm, dan berusaha untuk menjaga integritas proses politik kita. Hanya dengan cara ini kita dapat memastikan bahwa pemilihan presiden tidak pernah menjadi pesta Animal Farm yang merusak masa depan kita.
Satu langkah penting dalam memperbaiki pemilihan presiden adalah meningkatkan transparansi dalam politik. Transparansi adalah kunci untuk menjaga integritas proses politik dan memastikan bahwa masyarakat memiliki akses kepada informasi yang diperlukan untuk membuat keputusan cerdas. Partai politik dan kandidat harus secara aktif mengungkapkan sumber pendanaan mereka, sehingga pemilih dapat melihat siapa yang mendukung mereka dan apakah ada konflik kepentingan yang mungkin timbul.
Selain itu, kita perlu mengambil tindakan tegas terhadap penyebaran berita palsu dan propaganda politik yang merugikan. Pemerintah, media, dan platform media sosial (medsos) harus bekerja sama untuk mengidentifikasi serta menghentikan penyebaran informasi palsu yang dapat memengaruhi hasil pemilihan. Pendidikan pemilih juga sangat penting, agar pemilih dapat memahami bagaimana mengenali berita palsu dan memilah informasi yang akurat dari yang tidak akurat.
Selanjutnya, kita perlu mendukung reformasi kampanye politik yang membatasi pengeluaran kampanye, dan memberikan setiap kandidat akses yang setara ke media. Ini akan membantu mengurangi ketidaksetaraan dalam pendanaan kampanye, serta memastikan bahwa kampanye politik didasarkan pada gagasan dan visi, bukan pada jumlah uang yang dapat dihabiskan.
Selain itu, kita harus mengembangkan budaya politik yang mendorong pemimpin untuk bertanggung jawab dan menjalankan janji mereka kepada masyarakat. Masyarakat harus aktif mengawasi tindakan pemimpin setelah terpilih, dan juga mengingatkan bahwa mereka dipilih untuk melayani kepentingan publik, bukan untuk kepentingan pribadi.
Dalam menghadapi tantangan-tantangan ini, kita dapat belajar dari pelajaran yang diambil dari Animal Farm. Kita harus selalu mengingat bahwa demokrasi adalah nilai yang harus dijaga dan dipertahankan dengan sungguh-sungguh. Pemilihan presiden bukanlah akhir dari perjalanan demokrasi, tetapi hanya awal dari tanggung jawab kita sebagai warga negara.
Kesimpulannya, pemilihan presiden adalah momen paling penting dalam kehidupan sebuah negara demokratis. Namun, kita harus berhati-hati agar tidak jatuh ke dalam perangkap Animal Farm di mana janji-janji ditinggalkan, ketidaksetaraan merajalela, dan propaganda politik mengaburkan fakta. Sebagai pemilih, kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga integritas proses politik kita, dan memilih pemimpin yang akan mewakili nilai-nilai demokrasi sejati. Hanya dengan cara ini kita dapat memastikan bahwa pemilihan presiden tidak pernah menjadi pesta Animal Farm yang merusak masa depan kita.