Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IMG-20260122-WA0029.jpg
Pembuat bilah bambu tali di Tabanan. (IDN Times/Wira Sanjiwani)

Tabanan, IDN Times - Seorang ibu sedang membelah batang bambu menjadi lembaran tipis (bilah bambu) di tepi jalan Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan. Ibu tersebut bernama Putu Muliati (60). Pembuatan bilah bambu ini memerlukan skill yang diasah bertahun-tahun. Hanya dengan sebilah pisau, Muliarti bisa membagi batang bambu menjadi bilahan yang tipis dan sama ukurannya.

"Saya sudah melakukan ini sejak SD (sekolah dasar)," kata Muliati, Kamis (22/1/2026).

Dulu, bilah bambu menjadi bahan dasar pembuatan bedek, yang biasanya dipakai sebagai dinding dan plafon rumah. Namun, saat ini penggunaannya mulai bergeser sebagai ulatan untuk Ogoh-Ogoh. Sehingga pemesanan dan pembelian bilah bambu tali ini mengalami peningkatan menjelang Hari Raya Nyepi.

"Saya buat bilah bambu ini hanya saat menjelang Nyepi saja. Sebab, pesanannya meningkat di waktu tersebut," ujar Muliati.

1. Muliati bisa menghasilkan 25 lembar bilah bambu dalam sehari

Pembuat bilah bambu tali di Tabanan (IDN Times/Wira Sanjiwani)

Muliati mengatakan, dalam sehari ia bisa menghasilkan 25 lembar bilah bambu. Bilah-bilah ini akan diikat sebanyak 45 lembar untuk dijual. Biasanya ia menjual ikatan besar. Dalam satu ikatan besar terdiri dari lima ikatan kecil. Satu ikatan kecil ini terdiri dari 40 lembar bilah bambu. Ia akan mulai membuat bilah bambu dari bambu tali saat mendekati Hari Raya Nyepi.

"Sudah saya cicil setiap hari. Karena biasanya tiga bulan sebelum Hari Raya Nyepi, pasti ada saja yang beli. Biasanya untuk bahan ulatan Ogoh-Ogoh," katanya.

2. Ia bisa menjual lima ikatan besar bilah bambu per hari

Pembuat bilah bambu tali di Tabanan (IDNTimes/Wira Sanjiwani)

Muliati mendapat bahan baku bambu dari Tabanan dan Kota Denpasar. Ia biasa membeli 25 batang bambu dalam sekali beli, seharga Rp10 ribu per batang. Ia selalu kedatangan pembeli setiap hari. Mereka rata-rata membeli satu hingga dua ikatan besar. Dalam sehari, Muliati bisa menjual lima ikatan besar. Satu ikat besar seharga Rp100 ribu.

"Satu lembar bilah bambu dijual Rp500. Sehingga satu ikatan kecil harganya Rp20 ribu," jelasnya.

3. Kini tidak ada yang mewarisi keterampilan membuat bilah bambu

Pembuat bilah bambu tali di Tabanan (IDN Times/Wira Sanjiwani)

Jika Hari Raya Nyepi sudah lewat, Muliarti menghentikan pembuatan bilah bambu ini dan kembali bekerja sebagai tukang ukir. Muliati mengatakan, saat ini hanya dia dalam keluarganya yang masih bisa membuat bilah bambu. Anak-anaknya yang sudah berkeluarga tidak ada yang mau mewarisi ketrampilannya ini. Bukan tanpa alasan. Hal ini karena pendapatan menjual bilah bambu ini musiman atau ketika mendekati Hari Raya Nyepi saja.

"Saya soalnya buat ini khusus untuk bahan ulatan Ogoh-Ogoh. Sudah jarang ada yang mau beli untuk bedek dinding rumah maupun plafon," katanya.

Editorial Team