Masyarakat Klungkung Makin Tercekik Pasca Pandemik, Kerja Hanya untuk Makan

Sangat ironi dengan image Bali sebagai pusat pariwisata

Klungkung, IDN Times - Upaya dalam pengentasan kemiskinan masih menjadi pekerjan rumah yang harus dilakukan secara berkesinambungan oleh pemerintah daerah. Hal ini pula yang harus dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Klungkung.

Upaya pengentasan kemiskinan di Klungkung sempat menunjukkan perbaikan pada periode 2019-2020. Namun pandemik COVID-19 membuat persentase tingkat kemiskinan di Kabupaten Klungkung kembali mengalami peningkatan.

Kondisi perekonomian masyarakat yang belum stabil karena pandemik COVID-19, menjadi tugas berat bagi Pemkab Klungkung dalam menjalankan program pengentasan kemiskinan. Apalagi saat ini setiap daerah tengah fokus dalam program pemulihan ekonomi nasional.

Tantangan selanjutnya, resesi dan krisis global yang diperkirakan akan terjadi pada tahun 2023 mendatang, juga mengancam bertambahnya tingkat kemiskinan di berbagai daerah. Upaya yang paling realistis dilakukan saat ini yakni dengan melakukan pengendalian inflasi di daerah sehingga tidak berimbas pada penurunan daya beli masyarakat yang pengaruhnya nanti tentu ke tingkat kemiskinan.

Baca Juga: Tak Hanya Kemiskinan, Salah Pola Asuh Sebabkan Stunting di Klungkung

1. Penghasilan keluarga hanya cukup untuk makan

Masyarakat Klungkung Makin Tercekik Pasca Pandemik, Kerja Hanya untuk MakanWabup Made Kasta memberi bantuan alat bantu pendengaran ke warga miskin di Desa Bungamekar, Nusa Penida.(Dok. IDN Times/Istimewa )

Kemiskinan di Klungkung tersebar di empat kecamatan, di antaranya Klungkung, Dawan, Banjarangkan, dan Nusa Penida. Seperti yang dialami keluarga I Made Latra, asal Desa Bungamekar. Ia dan keluarganya termasuk keluarga kurang mampu di Kecamatan Nusa Penida.

Latra merupakan seorang buruh bangunan. Sementara istrinya, Ni Nyoman Sandra, bekerja sebagai petani kecil. Mereka memiliki dua anak, yakni Wayan Indrawan (21) dan Ni Kadek Purnama Wati (18). Anak keduanya merupakan seorang tuna rungu. Keterbatasan ekonomi membuat Latra belum mampu membelikan Kadek Purnama Wati alat bantu dengar. 

“Karena kondisi ekonomi keluarga, jadi belum bisa belikan adik alat bantu dengar. Beruntung dibantu alat bantu dengar oleh pemerintah,” ujar I Wayan Indrawan, Jumat (23/9/2022) lalu.

Keluarga itu tinggal di rumah yang jauh dari kata sederhana. Dengan kondisi keluarga yang serba kekurangan, penghasilan keluarga tersebut sejauh ini hanya cukup untuk makan. Kondisi tersebut sangat berbanding terbalik dengan wajah Bali yang dipandang dunia sebagai Pulau Surga. 

“Penghasilan keluarga hanya cukup untuk makan,” ungkap Indrawan.

2. Kemiskinan di Klungkung meningkat pasca pandemik COVID-19

Masyarakat Klungkung Makin Tercekik Pasca Pandemik, Kerja Hanya untuk MakanIlustrasi Kemiskinan (IDN Times/Arief Rahmat)

Persentase kemiskinan di Klungkung kembali meningkat pasca pandemik COVID-19. Berdasarkan data, persentase kemiskinan di Klungkung pada tahun 2019 sebesar 5,40 persen. Pada tahun 2020, upaya penurunan persentase kemiskinan sempat menunjukan hasil positif menjadi 4,87 persen.

Namun persentase ini masih cukup tinggi, karena saat itu berada di atas persentase penduduk miskin di Provinsi Bali, yang mencapai 3,78 persen pada tahun 2020.

Pandemik COVID-19 membuat upaya pengentasan kemiskinan terhambat. Persentase kemiskinan pada tahun 2021 di Klungkung meningkat menjadi 5,64 persen. Ini bahkan lebih tinggi dari tahun 2019.

Pandemik COVID-19 saat itu juga membuat berbagai program pengentasan kemiskinan harus dialihkan ke kegiatan penanggulangan COVID-19.

“Sebenarnya kegiatan pengentasan kemiskinan di Klungkung selama ini berupa pemberdayaan masyarakat. Beberapa sempat ditunda karena saat itu fokus ke penanggulangan pendemik,” ujar Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta, Jumat (14/10/2022).

Meskipun demikian, ada beberapa program yang masih berjalan, misalnya program hidroponik untuk KK miskin. Keluarga miskin diajak untuk mengembangkan komoditas dengan sistem hidroponik. Pemkab juga berupaya memberangkatkan anak dari KK miskin untuk dapat bekerja di kapal pesiar.

“Saya juga membantu beberapa KK miskin untuk rehab dan bedah rumah dengan dana operasional. Karena menurut saya tempat tinggal adalah hal yang mendasar. Bagimana warga miskin bisa mengubah hidup mereka kalau tempat tinggal saja tidak layak ditinggal?” ungkap Suwirta.

3. Resesi ekonomi ancaman untuk upaya pengentasan kemiskinan

Masyarakat Klungkung Makin Tercekik Pasca Pandemik, Kerja Hanya untuk MakanIlustrasi Resesi (IDN Times/Arief Rahmat)

I Nyoman Suwirta mengaku akan menjamin pada tahun 2023 beberapa program kemiskinan berjalan. Misalnya saja program entrepreneur masuk desa.

Entrepreneur masuk desa sebenarnya sudah ada berjalan. Tapi parsial. Ini yang belum sesuai dengan harapan saya," ujar Suwirta, Kamis (13/10/2022).

Meskipun demikian, Pemkab Klungkung pada tahun 2023 mengalokasikan anggaran untuk menjalankan program entrepreneur masuk desa.

"Nanti program ini tidak hanya mengubah mindset untuk menjadi pengusaha. Tapi juga bagaimana ada stimulus dan pelatihan juga untuk menjadi seorang pengusaha," ungkap Suwirta.

Ia justru melihat resesi ekonomi global yang diprediksi akan terjadi pada tahun 2023 menjadi ancaman untuk upaya pengentasan kemiskinan. Kondisi ekonomi global pasca COVID-19, ditambah isu resesi ekonomi global, akan berdampak ke berbagai lapisan masyarakat. Tidak menutup kemungkinan hal ini akan menambah angka kemiskinan baru.

“Hal ini juga yang menjadi tantangan. Tidak hanya di Klungkung, tapi hampir di semua daerah. Sekarang bagaimana kita mampu seminimal mungkin mengantisipasi dampak dari resesi ekonomi ini. Tentu pengendalian inflasi ini yang harus diperhatikan betul,” jelasnya.

Topik:

  • Ni Ketut Sudiani

Berita Terkini Lainnya