DBD di Bali Renggut Nyawa 3 Anak dan Seorang Bayi

Penyakit endemis ini harus diwaspadai, tak cukup fogging

Karangasem, IDN Times - Kabupaten Karangasem menjadi perhatian serius setelah dua anak berusia 14 tahun dan 11 tahun di Desa Tumbu, Kecamatan Karangasem, meninggal dunia akibat virus yang ditularkan nyamuk aedes aegypti. Begitu pula di Kabupaten Klungkung, Demam Berdarah Dengue (DBD) telah merenggut nyawa bayi berusia 10 bulan. Tak hanya itu, seorang anak berusia tujuh tahun dari Banjar Dinas Taman Sekar, Desa Banjar Anyar, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan dilaporkan meninggal karena DBD pada Maret 2023.

Hal ini harus diwaspadai, karena penyakit endemis ini sangat berbahaya dan mengancam nyawa. Masyarakat diingatkan untuk menggencarkan upaya pembasmian sarang nyamuk, dan memperhatikan kebersihan lingkungan sekitar. Sehingga bisa mengendalikan penyebaran demam berdarah yang masih mungkin terjadi di kondisi cuaca tak menentu.

1. Anak 11 tahun di Kabupaten Karangasem meninggal karena DBD karena mengalami dengue shock syndrome

DBD di Bali Renggut Nyawa 3 Anak dan Seorang Bayifoto hanya ilustrasi (IDN Times/Yudi Rohmansyah)

Berdasarkan laporan di Dinas Kesehatan Karangasem, anak asal Desa Tumbu yang meninggal karena DBD berinisial AP (14) dan UM (11). AP meninggal dunia pada Maret 2023 lalu. Sementara UM meninggal dunia, Sabtu (15/4/2023).

UM awalnya mengalami demam tinggi, dan sudah dibawa ke dokter. Setelah demam turun, pada Jumat (14/4/2023), anak yang duduk di sekolah dasar (SD) itu kembali mengalami demam tinggi.

Ia langsung dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Karangasem dalam keadaan lemas. Karena didiagnosa sudah mengalami DSS (Dengue Shock Syndrome), UM harus dirawat di ruang ICU. Namun UM meninggal dunia, Sabtu (15/4/2023).

Kadis Kesehatan Karangasem, Gusti Bagus Putra Pertama, menyebutkan selama triwulan pertama di Kabupaten Karangasem tercatat ada 185 kasus DBD.

"Rinciannya Januari 67 kasus, Februari 59 kasus, dan Maret 49 kasus," kata Bagus, Senin (17/4/2023).

2. Seorang bayi di Kabupaten Klungkung juga meninggal akibat DBD

DBD di Bali Renggut Nyawa 3 Anak dan Seorang BayiIlustrasi penyemprotan fogging antisipasi DBD. (IDN Times/Muchammad Haikal)

Seorang bayi di Kabupaten Klungkung juga dilaporkan meninggal dunia akibat DBD. Bayi perempuan berusia 10 bulan itu meninggal dalam perawatan di ICU RSUD Klungkung, Kamis (23/3/2023) lalu.

“DBD merupakan penyakit endemis yang memang harus tetap kita waspadai bersama,” ungkap Kadis Kesehatan Klungkung, dr Ni Made Adi Swapatni, Senin (17/4/2023).

Bayi tersebut merupakan korban meninggal pertama akibat DBD di Kabupaten Klungkung pada tahun 2023. Adi menjelaskan, pasien yang meninggal dunia biasanya karena datang ke rumah sakit dalam keadaan DSS. Sehingga ia selalu mengimbau kepada masyarakat untuk segera ke rumah sakit jika mengalami demam lebih dari tiga hari.

“Jika demam lebih dari tiga hari, harus segera ke fasilitas kesehatan. Agar nanti bisa dilakukan cek laboratorium. Sehingga perawatan terhadap pasein DBD bida dilakukan segera,” ungkapnya.

Berdasarkan data di Dinas Kesehatan Klungkung, hingga Maret 2023 ini sudah ada 272 masyarakat terjangkit demam berdarah di Kabupaten Klungkung. Dengan rincian pada Januari sebanyak 101 orang, Februari 93 orang, dan hingga 30 Maret 2023 berjumlah 78 orang.

3. Tidak cukup fogging, gencarkan PSN

DBD di Bali Renggut Nyawa 3 Anak dan Seorang BayiIlustrasi fogging untuk mencegah nyamuk malaria. (IDN Times/Wayan Antara)

Adi melanjutkan, setelah mendapatkan laporan demam berdarah, tim Dinas Kesehatan langsung melakukan penyelidikan epidemiologi di lokasi ditemukannya kasus. Apabila ditemukan adanya jentik nyamuk, maka akan dilakukan upaya PSN (pemberantasan sarang nyamuk) dan diikuti fogging.

Fogging selama ini sebatas membasmi nyamuk dewasa, bukan pada telur dan jentik. Sehingga upaya PSN dari masyarakat sekitar dinilai cara paling ampuh dalam pencegahan DBD.

“Imbauan ini sudah sering dan berkali-kali saya sampaikan. Penyakit DBD ini erat kaitannya dengan kondisi lingkungan masyarakat. Jadi perlu kesadaran dari masyarakat setempat, untuk sama-sama menjaga kondisi lingkungannya dan mencegah demam berdarah dengan upaya PSN. Misal saja memastikan tidak ada genangan yang dapat dijadikan tempat bersarangnya nyamuk, dan selalu menjaga kebersihan lingkungan sekitar,” jelasnya.

Hal serupa diungkapkan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Karangasem, Ketut Nariana. Peningkatan kasus demam berdarah berpotensi terjadi pada saat kondisi cuaca tidak menentu seperti sekarang. Baginya, upaya PSN menjadi hal yang paling efektif untuk mencegah demam berdarah.

“Mari masyarakat semakin rajin melakukan PSN. Ini merupakan langkah yang tepat untuk mencegah penularan demam berdarah,” katanya.

Topik:

  • Irma Yudistirani

Berita Terkini Lainnya