Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tergerus Sungai, Warga Tabanan Perbaiki Jembatan Klecung Secara Swadaya
Warga memperbaiki Jembatan Klecung, Tabanan secara swadaya (Dok. Istimewa)
  • Jembatan Klecung–Bebali di Tabanan rusak parah akibat tergerus arus Sungai Yeh Uun setelah hujan deras, dengan fondasi bawah terkikis hingga menimbulkan lubang sedalam sekitar satu meter.
  • Warga bersama aparat TNI dan Polri bergotong royong memperbaiki jembatan secara swadaya agar akses kendaraan kembali terbuka, sambil menunggu perbaikan permanen dari pemerintah daerah.
  • Pemerintah desa mengimbau masyarakat berhati-hati saat melintasi jembatan sempit tersebut, terutama ketika hujan deras karena risiko banjir dan kondisi konstruksi yang masih rentan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Tabanan, IDN Times -Jembatan Klecung–Bebali yang menghubungkan Desa Tegalmengkeb, Kecamatan Selemadeg Timur dengan Desa Berembeng, Kecamatan Selemadeg mengalami kerusakan akibat tergerus arus Sungai Yeh Uun. Jembatan Klecung-Bebali ini posisinya hampir sama tinggi dengan permukaan sungai. Sehingga ketika air sungai meluap, jembatan ini biasanya terendam air.

Perbekel Desa Tegalmengkeb, Dewa Made Widarma, mengatakan jembatan ini memang sudah kerap rusak akibat tergerus air sungai. Semenjak dibangun, jembatan ini sudah empat kali rusak.

"Untuk kerusakan terakhir ini, warga secara swadaya bersama aparat TNI dan Polri melakukan perbaikan jembatan ini," katanya, Rabu (4/3/2026)

1. Jembatan mengalami pengikisan parah dibagian bawah kontruksi

Warga memperbaiki Jembatan Klecung, Tabanan secara swadaya (Dok. Istimewa)

Dewa Widarma mengatakan jembatan mengalami kerusakan terakhir pada Jumat (27/2/2026) karena hujan yang turun beberapa hari berturut-turut. Jembatan sepanjang kurang lebih 50 meter itu mengalami pengikisan cukup parah di bagian bawah konstruksi.

Akibat material fondasi terkikis arus sungai, terdapat lubang sedalam sekitar satu meter. Jika dilihat dari atas permukaan, kerusakan memang terlihat kecil. Namun, di bagian bawahnya sudah tergerus cukup luas dan membahayakan bagi masyarakat yang melintas.

Menurut Dewa Widarma, sejak dibangun jembatan tersebut sudah empat kali mengalami kerusakan serupa. Bahkan pada salah satu kejadian sebelumnya, akses sempat terputus hingga satu bulan. Kondisi itu membuat jembatan dinilai sangat rentan jebol, terutama saat debit sungai meningkat.

2. Masyarakat secara swadaya melakukan perbaikan

ilustrasi bahan bangunan (unsplash.com/Mufid Majnun)

Menurut Dewa Widarma. akibat kerusakan jembatan tersebut, akses kendaraan roda empat sempat lumpuh selama dua hari. Warga kemudian secara swadaya dibantu aparat TNI dan Polres melakukan perbaikan sementara agar jembatan bisa aman dilalui kembali.

"Ada warga memberikan sumbangan material yang kemudian dikerjakan perbaikannya bersama TNI dan Polri," katanya.

Ia melanjutkan pihaknya telah menyampaikan usulan perbaikan permanen berulang kali namun belum ada sinyal positif.

"Sudah berulang kali kami ajukan ke Pemkab Tabanan maupun Pemprov Bali. Kurang lebih sudah 15 kali diusulkan. Harapan masyarakat tentu ada penanganan permanen agar tidak terus tambal sulam,” ujarnya.

3. Warga diimbau hati-hati saat melintasi jembatan

Ilustrasi tanda hati-hati (unsplash.com/joshfrenette)

Jembatan dengan lebar sekitar empat meter ini juga merupakan jalur alternatif di wilayah selatan Tabanan saat jalur utama terganggu. Bahkan jalur tersebut bisa tembus menuju wilayah Jembrana. Dengan kondisi ini, Dewa Widarma kamu mengimbau masyarakat berhati-hati saat melintas.

"Terutama saat hujan deras. Kendaraan tidak bisa berpapasan karena lebar jembatan terbatas," katanya.

Editorial Team