Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Virus LSD Pertama di Bali Serang Sapi di Jembrana, 5 Ekor Dipotong
Sebanyak lima ekor sapi yang dinyatakan positif LSD langsung menjalani proses pemotongan bersyarat di Rumah Potong Hewan (RPH) Kabupaten Jembrana guna memutus rantai penyebaran virus yang menyerang kulit ternak tersebut pada Rabu (14/1/2026).(Dok. Istimewa)

Intinya sih...

  • Virus LSD pertama kali terdeteksi di Bali, menyerang sapi di Jembrana

  • Wilayah terdampak di-lockdown, peternak dijanjikan ganti rugi sesuai harga pasar

  • Aturan pengiriman sapi bakal makin ketat dengan tambahan uji lab LSD dan pembatasan pengiriman

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jembrana, IDN Times – Kabar kurang sedap datang dari sektor peternakan di Pulau Dewata. Untuk pertama kalinya, virus Lumpy Skin Disease (LSD) atau penyakit kulit berbenjol resmi terdeteksi masuk ke Bali, tepatnya di Kabupaten Jembrana.

Temuan ini harus ditindaklanjuti dengan cepat jika tidak ingin virus semakin menyebar. Sebanyak lima ekor sapi yang dinyatakan positif langsung menjalani proses pemotongan bersyarat di Rumah Potong Hewan (RPH) Kabupaten Jembrana guna memutus rantai penyebaran virus yang menyerang kulit ternak tersebut.

1. Petugas di lapangan curigai fisik ternak sapi

Ternak sapi terjangkit virus Lumpy Skin Disease (LSD) atau penyakit kulit berbenjol di Kabupaten Jembrana.(Dok.Istimewa)

Kabid Keswan-Kesmavet Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Jembrana, I Gusti Ngurah Putu Sugiarta, membeberkan bahwa kasus ini sebenarnya sudah mulai terendus sejak September 2025. Petugas di lapangan merasa curiga melihat kondisi fisik sejumlah sapi di Desa Baluk dan Desa Banyubiru, Kecamatan Melaya.

"Kami kemudian melakukan pengambilan sampel pada tanggal 28 Desember 2025, dan hasilnya keluar positif pada Januari 2026," ujar Sugiarta saat memberikan keterangan, Rabu (14/1/2026).

Hingga pertengahan Januari 2026, tercatat total ada 28 kasus LSD di Jembrana dengan rincian 4 ekor sapi mati. Sebaran kasus saat ini ditemukan petugas di dua kecamatan, yakni Negara dan Melaya, yang mencakup lima desa dan satu kelurahan.

2. Wilayah terdampak di-lockdown dan peternak dijanjikan ganti rugi

Petugas memantau ternak sapi setelah virus Lumpy Skin Disease (LSD) atau penyakit kulit berbenjol resmi terdeteksi masuk ke Bali, tepatnya di Kabupaten Jembrana pada Rabu (14/1/2026).(Dok.Istimewa)

Untuk mencegah virus makin "liar", Pemkab Jembrana langsung mengambil langkah tegas dengan menerapkan kebijakan lockdown pada wilayah yang ditemukan kasus positif.

"Tindakan kami yaitu melakukan lockdown daerah kasus. Artinya dilakukan isolasi, jadi sapi di daerah itu tidak boleh keluar. Selain itu, kami lakukan spraying disinfektan dan desinfeksi," tegas Sugiarta.

Terkait lima ekor sapi yang dipotong hari ini, ia memastikan peternak tidak akan gigit jari. Sugiarta menjamin proses ganti rugi dilakukan sesuai dengan harga pasar. Menariknya, dana ganti rugi ini merupakan hasil sinergi dengan sektor swasta.

Pihak Dinas Pertanian dan Pangan pun mengimbau kepada seluruh peternak agar tetap waspada dan segera melapor ke medikvet di tiap kecamatan jika menemukan sapi dengan gejala benjol-benjol agar penanganan bisa dilakukan sedini mungkin.

3. Aturan pengiriman sapi bakal makin ketat

Ilustrasi petugas memeriksa sapi di pasar hewan (IDN Times/ Riyanto)

Masuknya virus LSD ke Bali tentu membawa dampak domino pada sektor ekonomi, khususnya jual beli ternak. Pengusaha pengiriman ternak, Gede Artha mengakui bahwa regulasi pengiriman akan jauh lebih ketat jika Bali ditetapkan sebagai daerah terjangkit.

"Persyaratan legalitas akan bertambah dengan uji lab LSD. Selain itu, ada pembatasan pengiriman. Kita tidak bisa kirim ke daerah bebas, hanya bisa ke daerah tertular saja," ungkapnya.

Editorial Team