Kawasan Muntig Siokan yang terancam rencana pembangunan Terminal LNG. (IDN Times/Ayu Afria)
AA Alit Kencana mengajak pihak terkait dan masyarakat kembali mengingat apa yang terjadi saat pembangunan tol. Ia berharap ada pilihan terbaik bahwa lokasi pembangunan terminal LNG nantinya akan dipindahkan.
Ia sekaligus mewakili krama adat mengajak pihak-pihak terkait untuk kembali mengingat kejadian pembangunan tol di Benoa. Hingga saat ini tidak ada kesesuaian apa yang dikatakan pemerintah dengan kondisi kelestarian bakau di lokasi tersebut. Pihak terkait juga dituding tidak memikirkan bahwa perlu 30 tahun lamanya untuk menumbuhkan bakau setinggi 9-10 meter. Ia menantang pihak terkait apakah mau menanam bakau setinggi 10 meter lebih dulu, baru memikirkan pembangunan terminal LNG-nya.
“Sampai hari ini (kemarin_red) kami tidak pernah melihat ada penanaman bakau dan ada bakau yang tumbuh di sana? Artinya itu kan sudah pernah terjadi dan tidak sesuai dengan apa yang mereka bicarakan.
Apa yang mereka katakan tidak sesuai. Apakah kami sekarang harus percaya hal itu lagi? Kan ini yang menjadi pertanyaan. Nah, kalau pun itu misalnya ditanam, kami pun juga tidak akan percaya karena sudah dulu aja harusnya itu dilakuin (pembangunan tol),” jelasnya.