Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
The Story of White Piano, Lantunan Jazz Komunikatif ala Dodot Atmojo
Album The Story of White Piano (Dok. istimewa)
  • Dodot Soemantri Atmodjo, pianis jazz asal Malang yang lama berkarier di Bali, akhirnya merilis album debut bertajuk *The Story of White Piano* setelah puluhan tahun berkarya di dunia musik.
  • Album ini lahir dari dorongan lingkungan terdekat yang menantangnya untuk memiliki karya orisinal, digarap bersama Helmy Agustrian dan Wisnu Priambodo di bawah produksi Antida Music Productions.
  • *The Story of White Piano* menonjolkan nuansa tradisional jazz dengan ruang improvisasi luas namun tetap komunikatif, mencerminkan refleksi Dodot terhadap pentingnya menjaga kedekatan dengan pendengar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Denpasar, IDN Times - Pianis jazz senior, Dodot Soemantri Atmodjo, resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano setelah bertahun-tahun menjadi musisi. Laki-laki kelahiran Malang, Jawa Timur tersebut mengaku secara musikal, album ini berada dalam koridor jazz dengan format klasik piano trio. Komposisinya semakin sempurna setelah dilengkapi improvisasi, 6 nomor yang dimuat terdiri dari tiga komposisi orisinal dan tiga standar jazz.

Dalam prosesnya, Dodot memang didorong oleh rekan untuk tidak sekadar merekam nomor jazz standar, melainkan menghadirkan materi baru sebagai penanda identitas. "Kehadiran rekaman ini lebih penting sebagai penanda perjalanan panjang saya di dunia musik. Ada yang dengar atau tidak, pokoknya kita berkarya,” ungkapnya pada Rabu (4/3/2026).

1. Dodot kuasai panggung hotel-hotel ternama di Bali

Album The Story of White Piano (Dok. istimewa)

Dodot merupakan pianis kelahiran Malang yang telah lama menetap di Denpasar, Bali. Perpindahannya ke Bali pada awal dekade 1980-an menggiringnya ke aktivitas yang bersentuhan dengan musik. Sejak saat itu ia aktif sebagai pianis berbagai panggung hotel ternama di Bali dan menjalani karier panjang sebagai solo pianis. Dodot terbiasa memainkan standar jazz, Top 40, hingga lagu-lagu permintaan tamu. Pola kerja itulah yang membuatnya dikenal sebagai entertainer andal.

Dalam rentang lebih dari empat dekade tersebut, Dodot tidak pernah menyebut dirinya seniman. Ia memilih istilah pekerja seni karena merasa tugasnya adalah melayani. “Mulai tahun 1983 sampai kemarin saya itu bukan seniman, tapi saya sebagai pekerja seni,” ujarnya.

2. Abum digagas atas dorongan lingkungan sekitarnya

Album The Story of White Piano (Dok.IDN Times/istimewa)

Kesadaran untuk mendokumentasikan karya sendiri muncul belakangan. Dorongan datang dari lingkar terdekat yang mempertanyakan posisinya sebagai musisi tanpa diskografi. Ada kalimat yang tergiang di telinganya bahwa "kalau disebut kamu seniman itu, kamu harus punya karya". Kalimat tersebut mengusik jiwanya hingga akhirnya mendorong Dodot masuk ke ruang studio menggarap albumnya.

"Embrio proyek ini sebenarnya telah dirancang sejak 2020, sebelum pandemik. Rencana tersebut sempat tertunda karena berbagai situasi dan kesibukan masing-masing personel," terangnya.

Setelah waktu yang memungkinkan, Dodot merealisasikannya bersama Helmy Agustrian pada double bass dan Wisnu Priambodo pada drum. Produksi album ini digarap bersama Anom Darsana di Antida Music Productions.

3. Dodot kedepankan spektrum tradisional jazz

Album The Story of White Piano (Dok.IDN Times/istimewa)

Dari sisi estetik album, The Story of White Piano berakar pada tradisi jazz modern yang membuka ruang improvisasi luas. Hal ini terasa dalam kebebasan ritmis dan eksplorasi harmoni yang dilakukan sang seniman. Meski demikian, ia secara sadar tidak memilih jalur bebop yang terlalu kompleks. Ia menempatkan album ini dalam spektrum tradisional jazz dengan pendekatan yang lebih komunikatif. Karena itu, ia memilih menurunkan tensi permainan agar tetap dapat diikuti, tanpa kehilangan esensi improvisasi.

Pertimbangan tersebut lahir dari refleksinya terhadap perkembangan jazz yang kerap menjadi terlalu teknis. “Semakin rumit, semakin sulit, dia semakin enjoy. Tapi itu meninggalkan pendengarnya,” ujarnya.

Editorial Team