Umat Hindu melakukan Tawur Kasanga di area rumah. (dok. pribadi/Ari Budiadnyana)
Tawur Kesanga dilaksanakan sehari sebelum Hari Raya Nyepi, tepatnya pada Minggu (10/3/2024). Tawur Kesanga dilakukan secara bertingkat, dari tingkat kabupaten/kota, kecamatan, desa adat, banjar adat, dan rumah. Masing-masing perwakilan kabupaten/kota mengikuti kegiatan Tawur Agung di Pura Besakih pada pukul 09.00 Wita untuk memohon Tirta Tawur, dan Nasi Tawur untuk digunakan pada upacara Tawur Kesanga di masing-masing wilayah.
Sedangkan di tingkat kabupaten/kota, Tawur Kesanga dilaksanakan pada pukul 12.00 Wita dengan upacara Tawur Labuh Gentuh. Untuk tingkat kecamatan, Upacara Caru Panca Sanak-nya menggunakan lima ekor ayam (Panca Sata) dan itik belang kalung yang dilaksanakan pada pukul 12.00 Wita. Untuk tingkat desa adat, menggunakan Upacara Caru Panca Sata di catus pata (perempatan utama) desa setempat pada pukul 16.00 Wita.
Untuk tingkat banjar menggunakan Caru Eka Sata, yaitu ayam brumbun (bulu berwarna campuran) dengan sarana olahan Urip 33 (Urip Bhuwana). Umat Hindu melaksanakan upacara ini di catus pata banjar setempat pada sore hari atau sandi kala (peralihan sore ke malam). Pelaksanaan ini menyesuaikan tradisi yang ada di desa maupun banjar tersebut terkait prosesi, sarana, dan waktu pelaksanaannya.
Masyarakat Hindu di Bali melaksanakan Tawur Kesanga di rumah masing-masing. Beberapa sarana yang digunakan meliputi:
- Umat menghaturkan sarana banten pejati di padmasana sanggah atau merajan. Menghaturkan sarana upacara Segehan Agung atau Segehan Cacahan 11/33 tanding di depan padmasana (di halaman sanggah/merajan). Sarana Segehan Agung ini dihaturkan kepada Sang Bhuta Bhucari
- Umat menghaturkan sarana Segehan Manca Warna (lima warna) sejumlah sembilan tanding dengan olahan daging ayam brumbun, disertai tetabuhan tuak, arak, brem, dan air (toya anyar) di halaman rumah. Segehan Manca Warna ini dihaturkan kepada Sang Kala Bhucari
- Umat menghaturkan sarana Segehan Cacahan 108 tanding dengan ulam (daging) jeroan mentah dilengkapi dengan Segehan Agung serta tetabuhan tuak, arak, brem, air (toya anyar) di jaba/lebuh (depan pintu masuk halaman rumah, di bawah sanggah cucuk pada sore hari/sandi kala. Segehan Cacahan 108 ini dihaturkan kepada Sang Durga Bhucari dan Sang Kala Roga
- Umat memasang sanggah cucuk di pintu masuk halaman rumah. Sarana upacara di sanggah cucuk ini berupa Peras Daksina Tipat Kelanan
- Sarana ulam atau daging serta tirta caru, bisa didapatkan di banjar masing-masing
- Semua anggota keluarga melakukan upacara Meprayascita dan Mabyakala (untuk yang sudah meketus/tanggal gigi) sebagai sarana pembersihan diri.
Setelah melaksanakan upacara Tawur Kesanga, umat Hindu melanjutkan upacara Pangerupukan di rumahnya masing-masing dengan menggunakan sarana api, obor/dupa, bunyi-bunyian, mesui, dan janggu (Trikettu). Sarana ini dibawa berkeliling ke area rumah.
Pelaksanaan Pengerupukan tingkat banjar dan desa adat ini dilaksanakan di wilayah masing-masing. Prajuru desa maupun banjar bertugas untuk mengkoordinir pelaksanaannya terutama untuk pawai ogoh-ogoh.