Pura Cemara Geseng, Desa Lemukih. (YouTube.com/JAYA PANGUS)
Selain sebagai penghormatan kepada Ibu Pertiwi, ngaben Bila Tanem berawal dari adanya pura yang dikeramatkan oleh warga Desa Lemukih. Pura ini bernama Pura Bukit Cemara Geseng, yang memiliki lokasi strategis di sebelah kanan Desa Lemukih dan berada di puncak bukit.
Awalnya, Desa Lemukih mengadakan upacara ngaben yang disebut dengan istilah pemuunan atau pembakaran. Suatu hari, warga Desa Lemukih mengadakan upacara ngaben. Namun pada saat prosesinya sedang berlangsung, muncul peristiwa aneh. Api yang digunakan untuk membakar jenazah selalu padam dan tidak dapat dinyalakan.
Selain itu, jenazah yang berada di dalam peti seperti berkeringat mengeluarkan air. Peristiwa aneh tidak berhenti sampai di situ. Warga yang hadir tiba-tiba mengalami kerauhan (kesurupan) massal.
Selama kerauhan, warga tidak diperkenankan untuk melaksanakan upacara ngaben karena asap dari pembakaran jenazah akan mengotori Pura Bukit Cemara Geseng sehingga pura menjadi cemer danleteh (kotor).