Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi gigi anak (pexels.com/cottonbro studio)
ilustrasi gigi anak (pexels.com/cottonbro studio)

Intinya sih...

  • Ribuan warga di Bali mengalami masalah kesehatan gigi

  • 17 ribu lebih orang di Bali tercatat dengan karies, 18 ribu lebih dengan gigi hilang, dan 24 ribu lebih dengan kondisi gigi sehat

  • Fokus pemeriksaan setiap kategori usia berbeda-beda

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Denpasar, IDN Times - Rani telah enam tahun menetap di Bali karena pekerjaannya sebagai pegawai swasta. Kepada IDN Times, Rani mengaku cek kesehatan gigi terakhirnya saat berusia sekolah. Alasan perempuan berusia 40 tahun ini belum cek kesehatan gigi lagi karena takut mahal.

“Itu (biaya) yang bikin saya enggak mau periksa ke dokter gigi. Sudah takut duluan. takutnya bukan takut sakit. Takut bayar,” ujar Rani pada Rabu (27/8/2025) di Denpasar.

Sejak awal tahun 2025, Rani bolak-balik ke rumah sakit, keluhannya sakit gigi hingga ke kepala. Dokter memberikan obat pereda nyeri dan antibiotik, tapi obat itu tidak berpengaruh banyak. Selama itu, Rani hanya sekali ke dokter gigi untuk memeriksa kondisi giginya, ada lebih dari satu gigi Rani yang berlubang. 

1. Rani dan ribuan warga di Bali bermasalah dengan gigi

ilustrasi gigi berlubang (unsplash.com/Mufid Majnun)

Rani bukan satu-satunya warga Bali yang mengalami masalah kesehatan gigi. Dinas Kesehatan (Dinkes) Bali menghimpun data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI terkait cek kesehatan gigi (CKG) di Bali. Ada ribuan warga di Bali yang masih mengalami berbagai masalah kesehatan gigi. 

Pada warga berusia lebih dari 18 tahun, ada 17 ribu lebih orang tercatat dengan karies atau sekitar 41,55 persen. Sementara, masalah gigi hilang ada 18 ribu lebih dengan keluhan itu atau sekitar 34,84 persen. Adapun warga di Bali dengan kondisi gigi sehat tercatat sebanyak 24 ribu lebih atau 58,45 persen. Sedangkan, gigi lengkap ada sebanyak 26 ribu lebih orang atau 65,16 persen.

2. Masalah gigi goyah dan berjarak juga ada

ilustrasi gigi (Freepik.com/KamranAydinov)

Sementara, pada pengecekan gigi dan mulut untuk warga di Bali berusia lebih dari 25 tahun, ada dua kategori yaitu gigi goyang atau goyah dan gigi berjarak atau poket periodontal. Kategori gigi goyang, ada 30 ribu lebih yang telah melakukan pemeriksaan. Hasilnya ada 3 ribu lebih yang terdeteksi dengan gigi goyang, 27 ribu lebih lainnya dinyatakan masih kokoh.

Kasus gigi berjarak karena adanya masalah gusi, ada 30 ribu lebih orang yang melakukan pemeriksaan. Hasilnya, 26 ribu lebih orang dinyatakan sehat, sisanya sebanyak 4 ribu lebih terindikasi poket periodontal.

Khusus pada anak-anak dengan rentang usia 1 hingga 6 tahun, ada 950 orang anak terdiagnosa gigi tak sehat. Sementara, 3 ribu lebih anak dalam kondisi gigi sehat.

3. Dinkes Bali menyebut fokus pemeriksaan setiap kategori usia berbeda-beda

Eko Dono Indarto Deputi Bidang Koordinasi Komunikasi dan Informas Kemenko Polkam (Kiri) dan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bali I Nyoman Gede Anom. (IDN Times/Yuko Utami)

Kadinkes Bali I Nyoman Gede Anom mengatakan, skrining gigi setiap kategori usia memiliki fokus yang berbeda-beda. Misalnya pada anak usia sekolah pengecekan kesehatan gigi dan mulut fokus pada deteksi dini karies. Sementara, anak-anak berusia 1 hingga 6 tahun, pengecekan fokus untuk melihat kondisi gigi sehat atau tidak sehat.

“Karena penyakit karies angka kejadian tertinggi pada anak sekolah, untuk mencegah gangguan yang lebih berat,” kata Anom kepada IDN Times Rabu (27/8/2025).

Ia menambahkan, apabila terjadi karies tindakan rujukan dapat menuju ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). Serta pencegahan dengan memberikan fluoride.

Pada usia lebih dari 18 tahun pengecekan lebih fokus ke karies dan gigi hilang, usia 25 tahun lebih berfokus pada pengecekan gigi goyang dan poket periodontal.

“Jadi hasil skrining CKG terkait gigi mulut menjadi deteksi dini kelainan gigi seperti karies pada anak dan dapat diberikan edukasi terkait gigi dan mulut,” ujar Anom. Ia melanjutkan, setelah skrining jika menemukan masalah kesehatan gigi, rujukan dapat ke fasilitas kesehatan (faskes) untuk penanganan lebih lanjut.

Editorial Team