Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Reaksi Otak saat Memaafkan Orang Menurut Pakar
ilustrasi memaafkan (vecteezy.com/Kanokpol Prasankhamphaibun)

Memaafkan memang bukan perkara mudah. Kadang rasanya lebih gampang menyimpan dendam daripada mencoba berdamai dengan luka lama. Tapi tahukah kamu, keputusan untuk memaafkan ternyata bukan cuma bikin hati lebih lega, tapi juga mengubah cara kerja otakmu secara signifikan?

Pakar neuroscience sudah meneliti bagaimana otak bereaksi saat kamu memilih untuk memaafkan seseorang yang pernah menyakitimu. Efeknya gak main-main, lho. Bukan cuma bikin perasaan jadi lebih tenang, tapi juga memengaruhi performa kamu di tempat kerja, relasi sosial, bahkan kondisi kesehatan mental secara keseluruhan.

Kalau kamu penasaran gimana sebenarnya proses di balik keputusan memaafkan itu, berikut ini lima hal yang terjadi di otak saat kamu memutuskan untuk memaafkan menurut para ahli.

1. Kamu mulai melihat dari sudut pandang orang lain

ilustrasi berpikir (pexels.com/Mike Jones)

Saat kamu memaafkan, bagian otak bernama anterior insula ikut aktif. Menurut penjelasan dari Emiliana Simon-Thomas, seorang neuroscientist dari Greater Good Science Center, bagian ini terlibat dalam proses empati. Otakmu bekerja untuk memahami emosi orang lain, termasuk mereka yang sudah menyakitimu.

Proses ini bikin kamu lebih mampu melihat situasi dari sudut pandang si pelaku. Mungkin kamu jadi sadar bahwa dia bertindak karena tekanan, ketidaktahuan, atau pengalaman masa lalu. Meski gak berarti kamu membenarkan perbuatannya, pemahaman ini bisa jadi awal dari proses memaafkan.

2. Kamu lebih bisa fokus ke hal-hal positif

ilustrasi serius bekerja (pexels.com/Clam Lo)

Menurut Simon-Thomas, dua bagian otak lain yang ikut aktif saat kamu memaafkan adalah dorsolateral prefrontal cortex dan ventrolateral prefrontal cortex. Dua area ini membantumu mengarahkan fokus dan perhatian.

Dengan memaafkan, kamu jadi gak terus-terusan memikirkan rasa sakit atau dendam. Otakmu bisa beralih dari hal-hal negatif ke pengalaman positif yang lebih menyenangkan. Dampaknya? Kamu jadi lebih tenang, produktif, dan punya energi untuk hal-hal penting dalam hidupmu.

3. Pengambilan keputusan sosial menjadi lebih baik

ilustrasi rekan kerja sedang ngobrol (pexels.com/cottonbro studio)

Otak juga mengaktifkan sistem yang berkaitan dengan pengambilan keputusan dalam situasi sosial. Ini yang bikin kamu bisa menahan diri untuk gak membalas dengan sindiran atau marah-marah. Kamu lebih milih untuk menyikapi masalah dengan bijak, atau sekadar pergi menjauh dan ngobrol dengan teman yang bisa menenangkan.

Menurut Simon-Thomas, sistem ini bantu kamu mengontrol reaksi agar gak terpancing emosi. Pilihan untuk memaafkan bikin kamu terlihat dewasa dan berdaya dalam menghadapi konflik sosial.

4. Kamu mengambil alih kembali kendali atas diri sendiri

ilustrasi kesadaran diri (unsplash.com/sean Kong)

Memaafkan bukan tentang membiarkan orang lain lepas tanggung jawab. Menurut Robert Enright, peneliti pionir dalam bidang studi tentang pengampunan, memaafkan justru jadi cara kamu mengambil kembali kekuatanmu.

Saat kamu menyimpan dendam, sebenarnya kamu sedang membiarkan orang itu punya kuasa atas emosimu. Tapi saat kamu memilih untuk memaafkan, kamu yang pegang kendali. Kamu bebas menentukan bagaimana bersikap tanpa harus dibayangi luka lama.

5. Kamu jadi lebih sehat secara mental dan emosional

ilustrasi tersenyum bahagia (pexels.com/Juan Vargas)

Menurut penelitian dalam Harvard Health, orang yang memaafkan punya tingkat depresi dan kecemasan yang lebih rendah. Mereka juga cenderung punya harga diri yang lebih tinggi dan tingkat kepuasan hidup yang lebih besar.

Gak hanya itu, penelitian pada pekerja kantor juga menunjukkan bahwa memaafkan rekan kerja berdampak pada peningkatan produktivitas, menurunnya angka ketidakhadiran kerja, dan bahkan berkurangnya sakit kepala. Artinya, memaafkan bukan cuma bikin damai, tapi juga bikin kamu lebih sehat dan bahagia.

Memaafkan memang gak gampang. Perlu waktu, niat, dan proses emosional yang gak sebentar. Tapi dari sisi neuroscience, keputusan memaafkan membawa manfaat besar bagi otak dan hidup kamu.

Bukan berarti kamu harus melupakan luka atau kembali dekat dengan orang yang menyakitimu, ya. Tapi dengan memaafkan, kamu memilih untuk gak terus-menerus dikendalikan oleh rasa sakit. Kamu lebih bebas, lebih kuat, dan lebih tenang.

Jadi, lain kali kamu merasa berat memaafkan, ingat aja: bukan dia yang untung, tapi kamu yang jadi lebih berdaya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team