Ilustrasi wisata di Nusa Penida Bali (IDN Times/Mela Hapsari)
Made Ras Amanda menambahkan, masyarakat saat ini membutuhkan informasi yang berbeda. Bukan lagi informasi tamasya. Sehingga pemerintah harus bisa menggunakan cara-cara kreatif lainnya agar tidak kelihatan settingan, yang justru memperburuk citra pariwisata.
“Masyarakat sepertinya membutuhkan informasi yang berbeda. Bukan informasi tamasya ya. Itu,” sarannya.
Wisata online atau tourism online misalnyya, bisa menjadi alternatif yang ia nilai dapat diterapkan sekarang ini. Jumlah 4400 wisatawan lokal dalam program ini seharusnya dievaluasi.
Pasalnya, sebagai pihak yang berkecimpung di dunia komunikasi, Made Ras Amanda menilai jika 4400 orang ini datang bersamaan, maka info yang dibuat hanya dalam rentang waktu itu saja. Jadi pemerintah diharapkan punya perencanaan strategi komunikasi pariwisata yang baik dan aman untuk COVID-19 dalam jangka panjang.
“Sekarang itu orang cukup aware, cukup kritis. Sekarang kalau dibilang ini influencer atau buzzer, kan gitu ya. Jadi kalau misalnya terlihat banget ini settingan dan segala macam, malah salah lagi gitu. Jadi, sebenarnya kalau pilihannya seperti ini tergantung dari cara mereka mengemas. Kalau saya melihatnya,” ungkapnya.