Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Produksi Kedelai Jembrana Tergerus Swasembada Beras
ilustrasi sawah di bali (pexels.com/Skitterphoto)
  • Produksi kedelai di Jembrana turun tajam tiga tahun terakhir karena lahan sawah dialihkan untuk program swasembada beras sesuai kebijakan nasional.
  • Kedelai juga kalah bersaing dengan tanaman hortikultura seperti semangka dan melon yang dianggap lebih menguntungkan oleh petani lokal.
  • Ketegangan geopolitik di Timur Tengah berpotensi menaikkan harga impor kedelai, memperburuk dampak penurunan produksi lokal bagi pengusaha tahu dan tempe.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jembrana, IDN Times - Di tengah memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, ancaman terhadap rantai pasok pangan global kian nyata, termasuk komoditas kedelai. Di Kabupaten Jembrana, Bali, tantangan justru datang dari dalam negeri. Meski masuk dalam ploting kawasan pertanian nasional, produksi kedelai di "Bumi Makepung" ini justru mengalami tren penurunan dalam tiga tahun terakhir.

Kepala Bidang Pertanian Kabupaten Jembrana, I Komang Ngurah Arya Kusuma, mewakili Plt. Kepala Dinas Pertanian Perikanan dan Pangan Kabupaten Jembrana, Ni Nengah Wartini, membeberkan kondisi terkini di lapangan.

1. Produksi merosot akibat prioritas swasembada beras

Kacang kedelai rebus (Youtube.com/DancingBacons)

Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian (Kepmentan) Nomor 2 Tahun 2025, Kabupaten Jembrana sebenarnya ditetapkan sebagai salah satu daerah kawasan pertanian nasional untuk komoditas padi dan kedelai. Namun, realitasnya berkata lain. 

Dalam tiga tahun terakhir (2023-2025), luas tanam kedelai di Jembrana menyusut drastis. Hal ini merupakan konsekuensi dari fokus pemerintah terhadap program swasembada beras. Karena 100 persen budidaya kedelai di Jembrana dilakukan di lahan sawah, kedelai akhirnya harus "mengalah" demi padi.

"Tahun 2023, luas tanam kedelai kita mencapai 1.508,50 hektare dengan produksi 1.550,69 ton. Memasuki program swasembada beras, angka ini anjlok," ujar Arya Kusuma.

2. Rebutan lahan dengan semangka hingga melon

Ilustrasi tanaman semangka (pexels.com/Dr.Vivasayam YouTube Channel)

Selain kalah pamor dari padi, kedelai di Jembrana juga menghadapi kompetisi ketat dengan komoditas hortikultura lainnya. Petani cenderung memilih tanaman yang dianggap lebih menguntungkan secara ekonomi di lahan sawah mereka.

"Penurunan luas tanam juga disebabkan oleh kompetisi penggunaan lahan sawah dengan komoditas lain seperti jagung, semangka, dan melon," tambah Arya.

Meski produksi menurun, Arya menjelaskan bahwa serapan pasar sejauh ini masih stabil di tingkat lokal. Kedelai hasil panen Jembrana diserap oleh pengusaha tahu dan tempe setempat. Untuk urusan benih, petani mengandalkan bantuan pemerintah serta swadaya mandiri.

3. Ancaman konflik Iran dan ketergantungan impor

Ilustrasi kedelai. (IDN Times/Auriga Agustina)

Lalu, apa hubungannya dengan Iran? Sebagai informasi, Indonesia masih sangat bergantung pada kedelai impor (terutama dari Amerika Serikat) untuk memenuhi kebutuhan nasional. 

Secara tidak langsung, ketegangan di Timur Tengah yang melibatkan Iran dapat mengganggu jalur distribusi perdagangan internasional dan memicu lonjakan harga minyak bumi. Jika harga logistik dunia naik, maka harga kedelai impor akan ikut melambung tinggi. 

Kondisi di Jembrana yang mengalami penurunan luas tanam tentu menjadi alarm. Jika produksi lokal terus tergerus sementara harga impor melonjak akibat ketegangan global, perajin tahu dan tempe di daerah bisa tercekik biaya produksi.

Editorial Team