Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pria Gianyar Ubah Limbah Upacara Jadi Pakan Ternak
I Kadek Kamardiyana saat berupaya mengolah sampah menjadi pakan ternak. (Dok. IDN Times)
  • I Kadek Kamardiyana mengolah limbah sisa upacara di Bali menjadi pakan ternak fermentasi, hingga meraih penghargaan Citra Karya Raksita 2026 di Gianyar.
  • Inovasi ini menekan biaya pakan dan mengurangi sampah, setelah melalui berbagai percobaan hingga menemukan komposisi yang tepat untuk bahan seperti penek dan jaje sarad.
  • Melalui komunitas Mai Organik, Kamardiyana mengembangkan pertanian terintegrasi serta mendorong generasi muda menjaga lingkungan lewat konsep wisata edukasi berkelanjutan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
pandemi COVID-19

I Kadek Kamardiyana mendapatkan ide mengolah limbah upacara menjadi pakan ternak berbasis fermentasi karena harga pakan meningkat dan banyak limbah belum dimanfaatkan.

1 Mei 2026

Kamardiyana menjelaskan inovasinya yang berhasil mengubah limbah upacara menjadi pakan ternak dan menerima penghargaan Citra Karya Raksita 2026 di Alun-Alun Gianyar.

kini

Kamardiyana mengembangkan komunitas Mai Organik untuk pertanian terintegrasi dan mendorong pengelolaan sampah berkelanjutan di Bali.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    I Kadek Kamardiyana mengolah limbah sisa upacara di Bali menjadi pakan ternak berbasis fermentasi dan menerima penghargaan Citra Karya Raksita 2026 atas inovasinya.
  • Who?
    I Kadek Kamardiyana, warga Desa Pejeng sekaligus Kepala Lingkungan Panglan, bersama komunitas Mai Organik yang ia dirikan untuk mengembangkan pertanian terintegrasi.
  • Where?
    Kegiatan dilakukan di Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Bali. Penyerahan penghargaan berlangsung di Alun-Alun Gianyar.
  • When?
    Penghargaan diserahkan pada Jumat, 1 Mei 2026. Ide pengolahan limbah muncul sejak masa pandemi COVID-19 ketika harga pakan ternak meningkat.
  • Why?
    Inovasi dilakukan untuk menekan biaya pakan ternak, memanfaatkan limbah upacara yang melimpah, serta mengurangi persoalan sampah di lingkungan sekitar.
  • How?
    Limbah seperti penek dan jaje sarad difermentasi hingga menjadi pakan ternak bernilai ekonomis. Program ini dikembangkan melalui komunitas Mai Organik dengan sistem pertanian terintegrasi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada bapak namanya Kadek Kamardiyana di Bali. Dia lihat banyak sisa upacara yang dibuang jadi sampah. Terus dia punya ide buat ubah itu jadi makanan ternak. Awalnya susah tapi akhirnya bisa. Sekarang sampah jadi berguna dan peternak senang. Bapak itu juga bikin kelompok tani biar anak muda mau jaga alam.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Kisah I Kadek Kamardiyana menunjukkan bagaimana kreativitas dan ketekunan dapat mengubah masalah menjadi peluang. Dari limbah upacara yang semula dianggap sampah, ia berhasil menciptakan pakan ternak bernilai ekonomis sekaligus mengurangi beban lingkungan. Melalui komunitas Mai Organik, gagasan ini berkembang menjadi gerakan pertanian terintegrasi yang menumbuhkan semangat generasi muda menjaga alam.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Gianyar, IDN Times- Limbah sisa upacara di Bali selama ini identik dengan tumpukan sampah. Namun, di tangan I Kadek Kamardiyana, limbah tersebut justru berubah jadi solusi. Warga Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring ini berhasil mengolah sisa upacara menjadi pakan ternak berbasis fermentasi.

Inovasi itu mengantarkannya meraih penghargaan Citra Karya Raksita 2026 yang diserahkan langsung oleh I Made Mahayastra di Alun-Alun Gianyar. Kamardiyana yang juga menjabat sebagai Kepala Lingkungan Panglan mengaku, ide tersebut muncul saat pandemi COVID-19.

Saat itu, harga pakan ternak meningkat dan memberatkan peternak. Di sisi lain, ia melihat limbah upacara di Bali jumlahnya melimpah, namun belum dimanfaatkan secara optimal.

“Limbah upacara di Bali cukup banyak dan belum dikelola maksimal. Dari situ saya mencoba mengolahnya menjadi pakan ternak melalui proses fermentasi,” ujarnya, Jumat (1/5/2026).

1. Sempat gagal, kini punya nilai ekonomis

I Kadek Kamardiyana saat berupaya mengolah sampah menjadi pakan ternak. (Dok. IDN Times)

Eksperimen yang dilakukan Kadek Kamardiyana tidak langsung berhasil. Ia harus mencoba berkali-kali hingga menemukan komposisi yang tepat.

Hasilnya, limbah seperti penek dan jaje sarad yang sebelumnya dibuang kini bisa dimanfaatkan. Selain menekan biaya pakan, inovasi ini juga ikut mengurangi persoalan sampah di lingkungan.

2. Kembangkan pertanian terintegrasi

I Kadek Kamardiyana saat berupaya mengolah sampah menjadi pakan ternak. (Dok. IDN Times)

Tak berhenti di pengolahan limbah, Kamardiyana juga mendirikan komunitas Mai Organik. Komunitas ini mengembangkan sistem pertanian terintegrasi yang menggabungkan sektor pertanian, peternakan, dan perikanan.

Bahkan, konsep tersebut mulai diarahkan menjadi potensi wisata edukasi.

"Lewat komunitas ini, kami mendorong generasi muda untuk terlibat dalam pertanian organik sekaligus menjaga lingkungan," ungkapnya.

3. Solusi untuk pengelolaan sampah berkelanjutan

I Kadek Kamardiyana saat berupaya mengolah sampah menjadi pakan ternak. (Dok. IDN Times)

Bagi Kamardiyana, penghargaan yang diraihnya adalah bukti kalau solusi bisa lahir dari masalah sederhana di sekitar. Inovasinya juga berdampak pada efisiensi biaya peternak.

"Penting juga hal ini untuk pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan di Bali," ungkapnya.

Editorial Team