Proses pembuatan bakery, usaha yang tengah dirintis oleh Ngurah Alit Setyawan. (IDN Times/Ni Ketut Sudiani)
Alit yakin membangun sendiri usaha bakery ini, ke depannya akan tetap bisa berkembang dan bersaing dengan usaha-usaha bakery lainnya. Sampai saat ini ia pun terus melakukan riset.
"Untuk kualitas dan harga, saya yakin bisa bersaing ini. Bagaimana agar anak muda Bali juga bisa," tegasnya.
Ia memaparkan, pada Juni 2021, untuk kedua usahanya, ia memperoleh omzet Rp133 juta. Hanya saja pada Juli 2021 turun ke angka Rp80 juta. Apabila sebelumnya per hari mendapat sekitar Rp4 juta, namun sejak PPKM Darurat menurun hampir 50 persen.
"Memang gak mudah membangun usaha ini. Tapi yang penting kita tetap dapat support dari keluarga maupun pacar," ucap Alit yang saat ini mempekerjakan 18 pegawai.
Dalam permodalan, Alit mengaku memang sampai saat ini masih dibantu oleh orangtuanya. Sebagai anak muda, baginya menjaga kepercayaan dan meyakinkan orangtua bahwa dirinya mampu berbisnis dan mengembangkan usaha, adalah hal yang sangat penting.
Meskipun kondisi saat ini masih belum menunjukkan tren yang bagus, Alit berusaha untuk tidak merumahkan maupun mem-PHK pegawainya.
"Bagi saya aset tertinggi adalah pegawai. Bagaimana agar mereka menjadi nyaman. Kalau alat kan bisa rusak."