Ilustrasi LGBT (IDN Times/Arief Rahmat)
Sofia Colminarez merasa harus terlibat dalam aktivitas di masyarakat dunia untuk menunjukkan bagaimana agar tidak mempermasalahkan gender, namun lebih kepada kebaikan hati. Dengan kegiatan yang diikutinya ini, ia berharap akan mengubah stigma orang-orang yang dianggap kurang menghargai keberadaan mereka. Padahal keberadaan mereka bisa menjadi saudara, dan teman dalam pekerjaan maupun profesi apa pun.
"Kami memiliki value yang bagus, dan bisa menjadi bagus di masyarakat tidak hanya di modeling. Agar orang-orang melihat talenta kita, Beauty Pageant (kontes kecantikan)," ujarnya.
Ia mengakui, empati masyarakat di Venezuela terhadap keberadaan LGBT-Q+ cukup tinggi. Hanya saja memang secara pemerintahan belum mendukung. Tetapi ada perwakilan mereka yang terjun dalam dunia politik menjadi kandidat presiden. Meski tidak menargetkan kemenangan, setidaknya mereka merasa terwakilkan keberadaannya.
ilustrasi bendera LGBT (unsplash.com/Stavrialena Gontzou)
Sedangkan Anne Patricia Lorenzo ingin mengedukasi masyarakat terkait LGBT-Q+ agar tidak terjadi diskriminasi, serta menyuarakan ke pemerintahan agar hak-hak mereka seperti kesehatan difasilitasi dengan baik.
"Ingin mengedukasi masyarakat tentang LGBT-Q+. Bahwa tidak semua LGBT-Q+ buruk," katanya.
Berbeda dengan keduanya, Lita Bing Bing mengaku bahwa Thailand sebagai surganya LGBT-Q+ sudah tidak lagi fokus kepada persoalan diskriminasi hingga kesetaraan gender. Mereka saat ini fokus membicarakan kemanusiaan, dan disabilitas.
"Saya ingin mengadvokasi dan memberdayakan orang-orang disabilitas dan tuna rungu," terangnya.